Piala Dunia 2026 di Amerika Serikat: Antara Taruhan Raksasa, Protes Petani, dan Ketegangan Visa

Piala Dunia 2026 di Amerika Serikat: Antara Taruhan Raksasa, Protes Petani, dan Ketegangan Visa

Plat Merah – Piala Dunia 2026 yang digelar di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko menjadi ajang olahraga terbesar tahun ini. Di balik kemeriahan pertandingan, sejumlah isu mencuat mulai dari lonjakan taruhan global hingga protes petani di Indonesia yang terkena dampak nilai tukar rupiah. Amerika Serikat sebagai tuan rumah utama menghadapi tantangan diplomatik setelah penolakan visa terhadap pejabat timnas Iran memicu ketegangan.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa dalam rapat dengan Komisi XI DPR RI, Rabu (10/6/2026), memperkirakan rupiah akan menguat terhadap dolar Amerika Serikat pada semester II-2026. Pemerintah memasang asumsi kurs rupiah Rp 16.800-17.500 per dolar AS untuk 2027. Penguatan ini ditopang oleh meredanya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran, serta koordinasi kebijakan fiskal dan moneter yang lebih solid. Namun, di tingkat petani, fluktuasi nilai tukar justru menjadi momok. Petani timun di Jember mengeluhkan harga jual yang anjlok hingga Rp 500-1.000 per kg, sementara biaya produksi tinggi. “Waktu tanam ikut dolar, panen ikut rupiah,” keluh Jumantoro, koordinator petani, saat membagikan dua kuintal timun gratis di depan Kantor Pemkab Jember, Rabu (10/6/2026).

Sementara itu, Piala Dunia 2026 diprediksi menjadi ajang taruhan terbesar sepanjang sejarah. Analis Macquarie, Chad Beynon, memperkirakan taruhan global bisa mencapai US$ 50 miliar (Rp 897,2 triliun), naik dari US$ 35 miliar pada 2022. Format yang diperluas menjadi 48 tim dan 104 pertandingan, ditambah zona waktu Amerika Utara yang menguntungkan, mendorong lonjakan aktivitas taruhan. CEO Flutter Entertainment, Peter Jackson, menyebut final Piala Dunia 2022 ditonton 1,5 miliar orang, sementara Super Bowl hanya 200 juta. “Ini sangat besar,” ujarnya. Perusahaan seperti FanDuel, Super Group, dan Rush Street Interactive diproyeksikan meraih keuntungan besar.

Namun, di sisi lain, timnas Iran menghadapi masalah visa. Penyerang Mehdi Taremi mengeluhkan ketegangan akibat penolakan visa terhadap 14 pejabat tim. “Piala Dunia di Amerika Serikat berbeda dari edisi mana pun yang pernah saya ikuti,” kata Taremi kepada ESPN. Ia merasakan atmosfer tidak ramah karena pembatasan visa. Timnas Iran akhirnya memindahkan kamp pelatihan dari Tucson, AS, ke Tijuana, Meksiko, setelah FIFA turun tangan. Wakil Presiden Federasi Sepak Bola Iran, Mehdi Mohammad Nabi, memastikan masih berkoordinasi dengan FIFA untuk menyelesaikan krisis visa.

Ketegangan ini menambah daftar isu yang mewarnai penyelenggaraan Piala Dunia 2026 di Amerika Serikat. Dari sisi ekonomi, lonjakan taruhan global memberikan dampak signifikan bagi industri game online, namun juga memicu kekhawatiran akan praktik ilegal. Sementara itu, petani Indonesia harus menghadapi ketidakpastian nilai tukar yang mempengaruhi harga komoditas. Pemerintah optimis rupiah akan stabil, tetapi realitas di lapangan menunjukkan bahwa ketimpangan harga masih membebani petani kecil.

Kesimpulannya, Piala Dunia 2026 di Amerika Serikat bukan sekadar ajang olahraga, melainkan cerminan dari dinamika global yang kompleks. Dari taruhan raksasa hingga protes petani, setiap peristiwa saling terkait dalam jaring ekonomi dan politik dunia. Amerika Serikat sebagai tuan rumah harus mampu menjaga keseimbangan antara keuntungan komersial, hubungan diplomatik, dan dampak sosial yang ditimbulkan.

Artikel ini dipublikasikan oleh Plat Merah.

Tinggalkan Balasan

Tutup