Undiksha Bekali Calon Guru PPG Wawasan Kebhinekaan dan Inklusivitas: Langkah Strategis untuk Pendidikan Masa Depan
Plat Merah – Singaraja, 9 Juli 2026 – Dalam konteks global yang semakin dinamis dan lokal yang kaya akan keberagaman, Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) kembali menunjukkan komitmen luar biasa terhadap pendidikan karakter. Melalui program Pendidikan Profesi Guru (PPG), Undiksha mengadakan workshop bertema Wawasan Kebhinekaan dan Inklusivitas yang ditujukan untuk membekali 1.200 calon guru dengan keterampilan membangun harmoni di ruang kelas. Kegiatan ini diadakan di Aula Utama Kampus Undiksha, Singaraja, Bali.
Berangkat dari Konteks Kebangsaan
Indonesia, sebagai negara dengan lebih dari 1.300 suku bangsa dan 700 bahasa daerah, menghadapi tantangan signifikan dalam merealisasikan persatuan. Koordinator PPG Undiksha, Gede Nurjaya, M.Pd., menekankan bahwa guru adalah fondasi karakter bangsa. “Kita tidak hanya mengajar mata pelajaran, tapi juga membentuk nilai-nilai yang akan menjadi pegangan hidup siswa. Keberagaman harus menjadi kekuatan, bukan pekerjaan rumah yang memecah belah,” tuturnya.
Apa yang Dibahas di Workshop?
Workshop ini menghadirkan tiga narasumber berpengalaman:
| Nama | Sumber Ahli | Kontribusi |
|---|---|---|
| Kade Satya Gita Rismawan, M.Pd. | Spesialis Pendidikan Multikultural | Membahas strategi mengelola keberagaman dalam kelas |
| Putu Indra Cristiawan, S.Pd., M.Pd., Ph.D. | Peneliti Inklusivitas Pendidikan | Menyajikan model pembelajaran yang mengakomodasi disabilitas |
| Dr. I Made Sarmita, S.Pd., M.Pd. | Praktisi Budaya Lokal | Menjelaskan integrasi canang sari sebagai simbol harmoni |
Strategi Praktis yang Diungkap
Narasumber menyampaikan empat pilar utama:
- Toleransi Aktif: Mengubah toleransi dari sikap pasif menjadi aksi nyata
- Kelas Multikultural: Menciptakan lingkungan belajar yang menghargai perbedaan
- Adaptasi Budaya Lokal: Memadukan canang sari dalam pembelajaran
- Pencegahan Konflik: Teknik deteksi dini perundungan
Kronologi Kegiatan
- 08.00-09.00: Sesi Pembukaan oleh Rektor Undiksha
- 09.15-10.45: Presentasi Kade Satya tentang Multikultural
- 11.00-12.30: Diskusi Interaktif dengan Putu Indra
- 13.30-15.00: Workshop Praktis Inklusivitas
- 15.15-16.30: Refleksi dengan Dr. I Made Sarmita
Dampak Jangka Panjang
Kebijakan ini berpotensi mengubah paradigma pendidikan Indonesia:
- Bagi Siswa: Meningkatkan rasa aman dan nyaman di sekolah
- Bagi Guru: Membentuk kompetensi baru dalam manajemen kelas
- Bagi Sekolah: Menciptakan budaya sekolah yang inklusif
- Bagi Masyarakat: Memperkuat identitas nasional melalui pendidikan
Menurut penelitian UNESCO, sekolah inklusif mampu meningkatkan prestasi akademik sebesar 25% dan mengurangi konflik antar siswa hingga 40%. Dengan mengadopsi prinsip canang sari – simbol harmoni Bali – Undiksha berupaya menancapkan nilai persatuan dalam DNA pendidikan nasional.
Gede Nurjaya menutup sesi dengan harapan mendalam: “Kita tidak hanya menghasilkan guru, tapi juga penjaga persatuan. Setiap canang sari di kelas adalah simbol bahwa perbedaan bisa menjadi keindahan.” Kata-katanya menggema sebagai pesan penting untuk bangsa yang sedang membangun masa depan.
Artikel ini dipublikasikan oleh Plat Merah.
Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.













