LSPR Institute Tingkatkan Kapasitas Masyarakat Sumerta Kelod melalui Program Pengabdian Bencana
Latar Belakang Kebutuhan Kesiapsiagaan di Sumerta Kelod
Plat Merah – Desa Sumerta Kelod, yang terletak di wilayah pantai selatan Bali, secara historis rawan terhadap gempa bumi, tsunami, dan banjir musiman. Data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) menunjukkan bahwa sejak 2010 terjadi tiga insiden signifikan yang menimbulkan kerusakan infrastruktur dan mengancam keselamatan warga. Tingginya tingkat kerentanan ini mendorong pemerintah desa bersama tokoh masyarakat untuk mencari solusi jangka panjang yang tidak hanya bersifat reaktif, melainkan proaktif.
Inisiatif LSPR Institute of Communication and Business
Pada tanggal 16 Juli 2026, LSPR Institute of Communication and Business meluncurkan program Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) dengan judul “Peningkatan Kapasitas Masyarakat Desa Sumerta Kelod dalam Menghadapi Ancaman Bencana”. Kegiatan ini dilaksanakan di ruang pertemuan kantor perbekel dan dihadiri oleh perangkat desa, Badan Permusyawaratan Desa (BPD), Tim Taruna Tanggap Bencana (Tagana), serta perwakilan masyarakat dari sepuluh dusun.
Tujuan Utama
- Meningkatkan pengetahuan dasar tentang mitigasi, pencegahan, dan penanganan bencana.
- Menguatkan kesiapsiagaan melalui simulasi praktis.
- Membangun jaringan kolaboratif antara akademisi, pemerintah desa, dan warga.
Rangkaian Kegiatan
Berikut adalah jadwal singkat kegiatan yang dilaksanakan selama satu hari:
| Waktu | Agenda | Narasumber |
|---|---|---|
| 08.30‑09.00 | Pembukaan dan sambutan | Lucky M. Kharisma (Ketua Dosen Pelaksana) |
| 09.00‑10.30 | Materi mitigasi bencana | Tasril Mulyadi, S.Pd., CT (Disaster Management Specialist) |
| 10.30‑10.45 | Istirahat | – |
| 10.45‑12.00 | Strategi kesiapsiagaan komunitas | Tim Tagana |
| 12.00‑13.00 | Istirahat & makan siang | – |
| 13.00‑14.30 | Simulasi penanganan darurat | Tim Tagana & LSPR Institute |
| 14.30‑15.00 | Diskusi terbuka & evaluasi | Semua peserta |
Kronologi Singkat Persiapan dan Pelaksanaan
- April 2026 – LSPR Institute mengidentifikasi Sumerta Kelod sebagai daerah prioritas setelah analisis risiko bencana wilayah Bali.
- Mei 2026 – Penandatanganan nota kesepahaman antara LSPR Institute dan Pemerintah Desa Sumerta Kelod.
- Juni 2026 – Penyusunan modul pelatihan bersama ahli mitigasi bencana dari Yayasan Adaptasi Bencana Indonesia.
- 15 Juli 2026 – Uji coba simulasi evakuasi di lapangan dengan dukungan Tim Tagana.
- 16 Juli 2026 – Pelaksanaan PKM resmi di ruang pertemuan perbekel.
Dampak Langsung Terhadap Masyarakat
Setelah satu hari intensif, peserta melaporkan peningkatan pengetahuan yang signifikan. Survei pasca‑kegiatan yang dilakukan oleh tim LSPR menunjukkan bahwa 87 % peserta merasa lebih siap menghadapi situasi darurat, dibandingkan hanya 42 % sebelum pelatihan. Selain itu, terbentuklah kelompok respons cepat yang terdiri dari anggota Tagana dan warga terlatih, yang akan berperan sebagai ujung tombak evakuasi bila terjadi bencana.
Implikasi Jangka Panjang
- Pemerintah Desa dapat mengintegrasikan modul pelatihan ke dalam program pendidikan formal di sekolah dasar setempat.
- Akademisi memperoleh data lapangan untuk riset mitigasi bencana berbasis komunitas.
- Industri lokal – seperti usaha penyediaan peralatan darurat – berpotensi meningkatkan produksi karena meningkatnya permintaan.
Peran LSPR Institute dalam Ekosistem Pendidikan Tinggi
Pengabdian kepada masyarakat merupakan salah satu pilar Tri Dharma Perguruan Tinggi. Ketua Dosen Pelaksana, Lucky M. Kharisma, menekankan bahwa kegiatan ini bukan sekadar aksi sosial, melainkan arena pembelajaran terapan bagi mahasiswa dan dosen. Selama persiapan, lebih dari 15 mahasiswa jurusan Komunikasi dan Bisnis terlibat dalam riset kebutuhan masyarakat, desain materi, serta evaluasi hasil. Pengalaman ini diharapkan menambah kompetensi mereka dalam manajemen risiko dan komunikasi krisis.
Reaksi Pemerintah Desa dan Masyarakat
Perbekel I Gusti Ketut Anom Suardana menyampaikan apresiasi yang tinggi, menyoroti bahwa program ini tidak hanya meningkatkan kesiapsiagaan bencana, tetapi juga mengangkat nilai‑nilai budaya lokal. “Pengetahuan yang kami peroleh hari ini dapat dipadukan dengan kearifan lokal, sehingga masyarakat tidak kehilangan identitas budaya saat beradaptasi dengan tantangan modern,” ujarnya.
Warga dari dusun Kediri, salah satu peserta, mengaku: “Saya dulu tidak tahu cara membuat jalur evakuasi, kini saya bisa memimpin tetangga saat darurat. Ini memberi rasa aman bagi keluarga kami.”
Harapan Kedepan dan Rencana Lanjutan
LSPR Institute berkomitmen untuk menjadikan program ini sebagai titik awal kolaborasi berkelanjutan. Rencana selanjutnya meliputi:
- Penyusunan modul e‑learning yang dapat diakses secara daring oleh seluruh warga desa.
- Pembentukan posko bencana permanen yang dilengkapi dengan peralatan dasar seperti P3K, radio komunikasi, dan lampu darurat.
- Pelatihan lanjutan setiap enam bulan untuk memperbarui pengetahuan terkait teknologi mitigasi terbaru.
Dengan sinergi akademisi, pemerintah desa, dan masyarakat, diharapkan Sumerta Kelod dapat menjadi model desa tangguh yang dapat direplikasi di wilayah lain di Indonesia.
Melalui semangat pengabdian dan kolaborasi, LSPR Institute of Communication and Business tidak hanya memberi manfaat langsung, tetapi juga menegaskan peran perguruan tinggi sebagai agen perubahan yang mampu menciptakan masyarakat yang berdaya, siap menghadapi tantangan, dan tetap menjaga warisan budayanya.
Artikel ini dipublikasikan oleh Plat Merah.
Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.













