Gubernur Lampung Dorong Penggunaan Pupuk Hayati Cair untuk Pangan Berkelanjutan
Latar Belakang Program Pupuk Hayati Cair
Plat Merah – Bandarlampung – Pemerintah Provinsi Lampung mengakselerasi transformasi sektor pertanian melalui optimalisasi Pupuk Hayati Cair (PHC) dalam upaya meningkatkan ketahanan pangan nasional. Program ini diungkapkan Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal saat membuka Bimbingan Teknis (Bimtek) PHC di Balai Pelatihan Kesehatan (Bapelkes) Lampung, Selasa 7 Juli 2026. Inisiatif ini dilatarbelakangi oleh dominasi sektor pertanian, perkebunan, dan kehutanan yang mencapai 30 persen terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Lampung, dengan tiga komoditas utama padi, jagung, dan ubi kayu sebagai tulang punggung ekonomi masyarakat.
Kronologi Pelaksanaan Program
| Tanggal | Peristiwa | Keterangan |
|---|---|---|
| 7 Juli 2026 | Penyelenggaraan Bimtek PHC | Diikuti 150 penyuluh pertanian se-Provinsi Lampung |
| Januari 2026 | Pelatihan Pilot PHC | Dilakukan di 5 kabupaten kunci (Lampung Tengah, Pringsewu, Way Kanan, Tulang Bawang, dan Mesuji) |
| 2027 | Tahap Pengembangan | Target penyebaran PHC ke 15.000 petani di seluruh Provinsi Lampung |
Analisis Dampak PHC terhadap Pertanian Lampung
Gubernur menekankan pentingnya peran penyuluh pertanian sebagai ujung tombak implementasi PHC. “Penerapan PHC tidak hanya mengurangi ketergantungan pada pupuk kimia, tetapi juga memberikan nilai tambah ekonomi kepada petani melalui produksi mandiri,” paparnya. Dengan PHC, biaya usaha tani diperkirakan bisa berkurang hingga 20 persen, sekaligus meningkatkan kesehatan tanah yang akan berdampak positif pada produktivitas jangka panjang.
Perbandingan Efektivitas PHC vs. Pupuk Kimia
| Parameter | Pupuk Kimia | Pupuk Hayati Cair |
|---|---|---|
| Biaya Produksi | Rp50.000/kg | Rp15.000/liter |
| Keberlanjutan | Rendah | Tinggi |
| Dampak Lingkungan | Negatif (erosi tanah) | Positif (pengayaan mikroba tanah) |
| Produktivitas Jangka Panjang | 3-5 tahun | 10-15 tahun |
Strategi Implementasi PHC
- Penyediaan bantuan alat pembuatan PHC portabel ke kelompok tani
- Pembentukan pusat pelatihan mandiri PHC di 18 kabupaten/kota
- Pemetaan lahan prioritas (150.000 hektar) untuk uji coba PHC
- Kolaborasi dengan perguruan tinggi untuk penelitian varietas PHC berbasis daerah
Dampak Sosial dan Ekonomi
Program ini diharapkan menciptakan 50.000 pelaku UKM pengolahan bahan organik dalam 3 tahun ke depan. Dengan pendekatan PHC, petani akan menghemat Rp2 juta per hektar per tahun, sementara kualitas hasil pertanian meningkat 15-20 persen. Gubernur menekankan, “Petani tidak hanya menjadi produsen, tetapi juga inovator dalam mengelola sumber daya alam secara berkelanjutan.”
Pengamat pertanian dari Institut Pertanian Bogor mengatakan, “Transisi ke sistem pertanian organik seperti PHC membutuhkan pendampingan berkelanjutan, termasuk peningkatan literasi teknologi sederhana untuk pengolahan bahan organik.” Pemerintah juga harus menyiapkan mekanisme pembiayaan khusus, karena biaya awal pembuatan PHC membutuhkan investasi peralatan yang mencapai Rp10 juta per kelompok tani.
Dengan penduduk pertanian sekitar 5 juta jiwa (45 persen dari total populasi Lampung), keberhasilan PHC akan berdampak signifikan pada pengurangan kemiskinan pedesaan. Program ini juga sejalan dengan target nasional swasembada beras 2027 yang memposisikan Lampung sebagai lumbung pangan strategis.
Artikel ini dipublikasikan oleh Plat Merah.
Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.











