Subandi Desak Delta Tirta Benahi Layanan dan Kebocoran Air di Tengah Tantangan Infrastruktur Sidoarjo
Plat Merah – Sidoarjo – Perayaan HUT ke-48 Perumda Delta Tirta Sidoarjo (2026) justru menjadi momentum kritik konstruktif dari Bupati Subandi. Dalam apel besar yang dihadiri seluruh jajaran perusahaan, pejabat daerah, dan masyarakat, Subandi menyoroti kinerja perusahaan milik daerah yang kini hanya mampu melayani 35% populasi Sidoarjo dan mengalami kerugian hingga 38% akibat kebocoran air.
Angka Kritis yang Menegangkan
Angka 35% cakupan layanan dan 38% kebocoran air terungkap dalam paparan resmi Perumda Delta Tirta. Data ini jauh di bawah standar pemerintah pusat yang menetapkan target 45% cakupan layanan pada 2025. Subandi mengingatkan, angka ini mencerminkan ketidakmampuan perusahaan menghadapi tantangan infrastruktur di era urbanisasi tinggi Sidoarjo.
| Indikator | 2025 | 2026 | Target 2027 |
|---|---|---|---|
| Cakupan Layanan (%) | 32 | 35 | 50 |
| Non-Revenue Water (%) | 40 | 38 | 30 |
| Produksi Air (liter/hari) | 1,2 juta | 1,3 juta | 1,5 juta |
Pola Kerja yang Dinilai Cacat
Subandi menilai sistem manajemen Perumda Delta Tirta masih terbelit birokrasi klasik. Ia mencontohkan proses pemasangan baru yang memakan waktu 3-4 minggu, sementara perusahaan swasta di Surabaya mampu menyelesaikan dalam 7-10 hari. “Kita tidak bisa berhenti di zona nyaman sebagai perusahaan milik daerah. Dunia sudah berubah, masyarakat butuh respons yang tajam,” tegasnya.
Rekomendasi Tiga Pilar Perbaikan
- Memperkuat disiplin kerja dengan sistem tata kelola berbasis data
- Menyempurnakan koordinasi antardaerah melalui aplikasi digital
- Meningkatkan responsivitas layanan dengan layanan pelanggan 24 jam
Dalam konteks ini, Subandi menyoroti pentingnya peran teknologi. “Perumda harus segera mengadopsi sistem IoT (Internet of Things) untuk mendeteksi kebocoran secara real-time, seperti yang sudah diterapkan di Malang Raya,” imbuhnya. Ia juga menyarankan pembentukan unit khusus untuk merawat infrastruktur usang yang kini berusia 25-30 tahun.
Dampak Ekonomi dan Sosial
- Kebocoran 38% setara dengan kerugian Rp 15 miliar/bulan
- 150 ribu warga Sidoarjo masih bergantung air sumur karena belum terlayani
- Rata-rata tunggak IAD (Iuran Air Minum) mencapai 3 bulan
Kronologi Perjalanan Delta Tirta
| Tahun | Kemajuan Signifikan |
|---|---|
| 1978 | Berdiri sebagai PDAM (Perusahaan Daerah Air Minum) |
| 2005 | Migrasi ke Perumda (Perusahaan Umum Daerah) |
| 2018 | Pengadaan 2 unit pompa modern di Waduk Bendo |
| 2023 | Peluncuran aplikasi pelaporan kebocoran |
Kritik Subandi disambut serius oleh Komisaris Utama Perumda, Teguh Prasetyo. “Kami akan mengajukan anggaran perbaikan senilai Rp 100 miliar di APBD-P 2026, fokus pada pemugaran jaringan distribusi dan pembangunan 3 reservoir baru,” papar Teguh.
Tantangan di Masa Depan
Dengan pertambahan penduduk Sidoarjo mencapai 1,5 juta jiwa pada 2030, beban Perumda Delta Tirta akan semakin berat. Subandi menekankan pentingnya kerja sama dengan BUMN dan swasta untuk mengatasi defisit infrastruktur. “Kita butuh inovasi, bukan sekadar maintenance. Masa depan air adalah cerminan dari komitmen pemerintah daerah,” pungkasnya.
Langkah reformasi ini diharapkan bisa mengembalikan kepercayaan warga, terutama setelah polemik pemadaman air selama 2 hari di Kecamatan Gedeg akibat kegagalan pompa utama pada Mei 2026. Dengan angka 48 tahun, Delta Tirta kini berada di ambang reinkarnasi sebagai entitas perusahaan layanan publik yang lebih tangguh.
Artikel ini dipublikasikan oleh Plat Merah.
Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.











