Nelayan Aceh Barat Selamat usai Terombang-ambing Empat Hari di Laut LPP RRI
Keberhasilan Penyelamatan Nelayan Aceh Barat yang Terombang-ambing di Laut
Plat Merah – Pada 7 Juli 2026, Ridwan (53), nelayan asal Kecamatan Meureubo, Aceh Barat, ditemukan selamat setelah terombang-ambing selama 4 hari 3 malam di perairan Barat Aceh akibat kerusakan mesin kapal. Keberhasilan operasi SAR ini menegaskan pentingnya koordinasi lintas instansi dan tanggung jawab masyarakat lokal dalam penyelamatan korban di laut.
Kronologi Peristiwa
Ridwan dilaporkan hilang kontak sejak Sabtu pagi (4 Juli 2026) saat berlayar sendirian dengan boat berukuran 2 Gross Ton. Kerusakan mesin yang terjadi di tengah laut membuat korban tidak dapat mengoperasikan perahu. Berikut kronologi lengkap:
- 4 Juli 2026: Ridwan berangkat melaut dengan persiapan minim (nasi dan air minum).
- 5 Juli 2026: Hilang kontak karena mesin boat patah klep (rusak total).
- 6-7 Juli 2026: Tim SAR mulai pencarian menyisir perairan Aceh Barat dan Nagan Raya.
- 7 Juli 2026 (17.00 WIB): Ditemukan 30 mil selatan Nagan Raya dalam kondisi lemas.
Upaya Pencarian dan Evakuasi
Tim SAR gabungan terdiri atas:
- Basarnas Pos Meulaboh
- Satpolairud Polres Aceh Barat
- BPBD Aceh Barat
- Lembaga Panglima Laot Aceh Barat
Abang korban, Muhammad Yunus (mantan Panglima Laot), menjelaskan bahwa Ridwan bertahan hidup dengan memakan makanan sisa dan minum air laut tercampur air hujan. “Waktu ditemukan dia duduk dalam jangkar, karena boat udah rusak, patah klep ya kan ga bisa dikasih hidup, jadi dia buang tu. Beras ga ada lagi, alat-alat makan tidak ada lagi, pokoknya doa lah,” ujarnya.
Dampak dan Pelajaran Berharga
Peristiwa ini menimbulkan dampak signifikan bagi masyarakat Aceh Barat:
- Penguatan sistem pelaporan hilang di laut oleh masyarakat adat setempat.
- Kebutuhan peralatan keselamatan (pelampung, GPS, komunikasi two-way radio) bagi nelayan tradisional.
- Peningkatan anggaran SAR di daerah rawan bencana seperti Aceh Barat.
Rekomendasi untuk Masa Depan
| Isu | Rekomendasi |
|---|---|
| Kesiapan nelayan | Wajibkan pelatihan bantuan diri saat terdampar (survival training) |
| Infrastruktur SAR | Tambahkan pos pemantau di perairan 30-50 mil dari daratan |
| Pendidikan masyarakat | Lakukan simulasi pencarian dan evakuasi setiap 6 bulan |
Koordinasi Unsur SAR
Kasat Polairud Polres Aceh Barat, AKP Karianta, menyebut keberhasilan ini karena koordinasi intensif antarinstansi. “Dengan ditemukannya hari ini, hari keempat pencarian, alhamdulillah dengan bantuan sar gabungan beserta dengan panglima laot, kita temukan lebih kurang jarak 30 mil yang arah ke selatan wilayah Nagan Raya,” katanya.
Peristiwa ini menjadi pengingat kembali tentang risiko yang dihadapi nelayan tradisional di Aceh, terutama saat memasuki musim baratan. Pemerintah daerah diminta segera menggenjot program keselamatan maritim untuk melindungi masyarakat pesisir yang mencari nafkah di laut.
Artikel ini dipublikasikan oleh Plat Merah.
Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.








