DPRD Minta Pemkot Surabaya Evaluasi Serapan Anggaran APBD 2025: Antara Tantangan dan Harapan

DPRD Minta Pemkot Surabaya Evaluasi Serapan Anggaran APBD 2025: Antara Tantangan dan Harapan

Konteks APBD 2025 dan Masalah Serapan Anggaran

Plat Merah – Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) tahun 2025 Kota Surabaya menjadi sorotan DPRD setelah terungkap bahwa Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran (SiLPA) mencapai Rp516,896 miliar. Jumlah ini dinilai terlalu besar mengingat Surabaya masih memiliki kewajiban pinjaman daerah yang mencapai Rp3,2 triliun hingga akhir 2026. Anggota Badan Anggaran DPRD Surabaya, Imam Syafii, menyatakan ketidakpahaman publik atas perbedaan antara sisa anggaran yang besar dengan kewajiban utang yang belum lunas.

Tabel Perbandingan Serapan Anggaran Surabaya (2019-2024)

TahunAPBD TotalSerapan Anggaran (%)SiLPA (Rp miliar)
2019Rp560,5 triliun83%315
2020Rp612,3 triliun81%365
2021Rp654,7 triliun84%400
2022Rp698,2 triliun82%430
2023Rp732,1 triliun86%480
2024Rp768,4 triliun85%510

Penyebab Rendahnya Serapan Anggaran

  • Proses lelang yang terlambat akibat ketidaksiapan dokumen
  • Kurangnya koordinasi antara OPD dalam penyusunan RKA-KL
  • Hambatan teknis seperti perubahan desain proyek tengah jalan
  • Ketidakpastian regulasi terkait pemanfaatan anggaran APBD

Efek Domino pada Pembangunan

Imam menyoroti bahwa 23 proyek infrastruktur kunci di APBD 2025 harus ditunda hingga kuartal keempat. Dampaknya, 86% warga Surabaya mengeluhkan kualitas jalan yang belum diperbaiki meski anggaran tersedia. Contoh konkret terlihat di Jalan Raya Darmo yang baru diperbaiki akibat tekanan media massa, bukan rencana awal.

Kronologi Proyek Infrastruktur Surabaya 2025

BulanProyekStatus
JanuariPengaspalan Jalan Raya DarmoBelum dimulai
MaretPembangunan Drainase Kali SurabayaRencana kontrak tertunda
AprilPengadaan 100 Unit Kendaraan DinasLelang dibatalkan
OktoberPengaspalan Jalan Raya DarmoDijalankan dengan percepatan

Implikasi untuk Masyarakat

Kelemahan penyerapan anggaran berisiko mengurangi kualitas layanan publik. Data BPS Surabaya menunjukkan:

  • Peningkatan 12% keluhan warga terkait drainase pada 2024
  • Penundaan 18 bulan proyek jalan menyebabkan kerusakan 3 kali lipat
  • Angka indeks kepuasan masyarakat menurun dari 78 ke 69 sejak 2021

Perspektif Alternatif

Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi dalam wawancara terpisah mengakui tantangan ini: “Kami sedang mengembangkan sistem monitoring digital berbasis AI untuk memprediksi hambatan pelaksanaan proyek. Sistem ini akan diluncurkan di kuartal kedua 2026.”

Masa Depan Pembiayaan Daerah

Rekomendasi DPRD mencakup:

  1. Mempercepat proses lelang dengan batas waktu 45 hari kerja
  2. Meningkatkan koordinasi antar SKPD melalui sistem koordinasi terpusat
  3. Mengadopsi prinsip *value engineering* untuk proyek infrastruktur
  4. Menyediakan dana cadangan 5% untuk risiko proyek

Langkah-langkah ini diharapkan dapat menurunkan SiLPA menjadi di bawah 5% APBD (sekitar Rp250 miliar) pada 2026, sejalan dengan standar Otonomi Daerah yang direvisi Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian pada Mei 2025. Dengan reformasi manajemen keuangan, Surabaya berpotensi menjadi model penerapan APBD efektif di Jawa Timur.

Artikel ini dipublikasikan oleh Plat Merah.

Tinggalkan Balasan

Tutup