UNAND Bangun Sarana Air Bersih untuk Warga Lambung Bukit Pascabencana
Latar Belakang Krisis Air Bersih di Lambung Bukit
Plat Merah – Kelurahan Lambung Bukit, Padang, masih menghadapi krisis air bersih setelah bencana hidrometeorologi akhir tahun lalu. Hujan deras dan angin kencang menyebabkan kerusakan infrastruktur air, termasuk jaringan distribusi dan sumber air bawah tanah. Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menunjukkan bahwa 60% rumah tangga di wilayah ini kesulitan memperoleh air bersih dalam 6 bulan terakhir. Situasi ini memicu ketergantungan pada sumur resapan yang rentan terkontaminasi dan pengadaan air dari luar daerah yang mahal serta tidak efisien.
Implementasi Solusi Berbasis Komunitas
Universitas Andalas (UNAND) memimpin proyek rehabilitasi akses air bersih melalui tandon penampungan berkapasitas 2.000 liter. Proyek ini bermitra dengan warga dan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Teknik UNAND. Proses pemasangan tandon dimulai pada 1 Januari 2026 dengan partisipasi 150 warga yang menyumbang tenaga, material, dan dana. Sistem ini terintegrasi dengan jaringan Program Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat (Pamsimas), yang telah memberikan akses air ke 80% wilayah Sumatera Barat.
| Komponen | Spesifikasi |
|---|---|
| Kapasitas tandon | 2.000 liter |
| Jumlah rumah yang dilayani | 250 rumah |
| Durasi proyek | 12 bulan |
| Biaya total | Rp 450 juta |
Kronologi Proyek
- Desember 2025 – Survei dampak bencana oleh tim kajian teknik UNAND.
- Januari 2026 – Rencana detail proyek disetujui oleh masyarakat dan pihak terkait.
- April 2026 – Pembangunan tandon dimulai dengan partisipasi swadaya warga.
- Juli 2026 – Fase akhir pemasangan sistem penyaringan berbasis karbon aktif.
Dampak dan Implikasi Proyek
Proyek ini diharapkan mengurangi ketergantungan pada air kiriman sebesar 70% dalam 12 bulan pertama. Analisis dampak sosial UNAND memperkirakan peningkatan kualitas hidup warga melalui:
- Penurunan kasus diare pada anak < 5 tahun dari 45% ke 15%
- Kurangnya kebutuhan transportasi air (Rp 500.000 per rumah per bulan)
- Rehabilitasi ekosistem lokal melalui pengelolaan air berkelanjutan
Perspektif Pemangku Kepentingan
Dr. Aidinil Zetra, Sekretaris UNAND, menekankan pentingnya pendidikan teknik dalam pembangunan sosial: “Proyek ini tidak hanya memecahkan krisis air tetapi juga menjadi laboratorium nyata bagi mahasiswa.” Sementara itu, Novrizal warga setempat menyatakan: “Kami belajar bahwa gotong royong lebih efektif daripada menunggu bantuan dari pemerintah.” Pemangku kebijakan setempat mengusulkan replikasi model ini di 12 kelurahan lain yang terdampak bencana serupa.
Kelanjutan Proyek
Pemantauan kualitas air akan dilakukan setiap 3 bulan. UNAND berkomitmen memastikan ketersediaan suku cadang selama 10 tahun dan pelatihan teknis bagi 20 relawan masyarakat. Dengan pendekatan ini, proyek diharapkan menciptakan sistem air bersih yang mandiri dan tangguh terhadap bencana di masa depan.
Artikel ini dipublikasikan oleh Plat Merah.
Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.













