Riset Pertanian Ungkap Dampak Pola Pemupukan di Sumenep: Perbandingan Rubaru dan Gapura

Riset Pertanian Ungkap Dampak Pola Pemupukan di Sumenep: Perbandingan Rubaru dan Gapura

Latar Belakang Penelitian

Plat Merah – Sejak awal dekade 2020-an, pemerintah Kabupaten Sumenep bersama institusi pendidikan tinggi berupaya meningkatkan produktivitas pertanian melalui pendekatan teknologi presisi. Pada 23 Juli 2026, Politeknik Elektronika Negeri Surabaya (PENS) Kampus Sumenep mempresentasikan temuan awal dari studi yang memanfaatkan sensor tanah multi‑parameter dan kecerdasan buatan (AI) untuk memetakan pola pemupukan di dua kecamatan utama: Rubaru dan Gapura. Penelitian ini bukan sekadar mengumpulkan data, melainkan mencoba menjawab pertanyaan strategis: bagaimana kombinasi antara pupuk kimia dan organik memengaruhi keseimbangan unsur hara, produktivitas, serta keberlanjutan lahan pertanian di wilayah yang secara historis bergantung pada pertanian padi dan hortikultura.

Metodologi dan Instrumen

Tim peneliti menggabungkan tiga lapisan data: (1) sensor tanah berbasis IoT yang mengukur pH, kadar nitrogen, fosfor, kalium, dan kadar kelembaban secara real‑time; (2) analisis citra satelit untuk mengidentifikasi tutupan lahan dan perubahan vegetasi; (3) wawancara mendalam dengan petani melalui Focus Group Discussion (FGD). Data sensor dikirim ke platform AI yang memprediksi kebutuhan pupuk optimal berdasarkan model agronomi yang telah disesuaikan dengan kondisi mikroklimat Sumenep.

Ruang Lingkup Pengambilan Sampel

  • 20 desa di Kecamatan Rubaru (total 150 petani)
  • 18 desa di Kecamatan Gapura (total 135 petani)
  • Periode pengukuran: Januari–Juni 2026

Temuan Utama

Hasil survei mengungkap perbedaan mencolok dalam pola pemupukan antara kedua kecamatan. Di Rubaru, sekitar 90% petani masih mengandalkan pupuk kimia komersial (urea, TSP, KCl) sebagai satu‑satunya sumber nutrisi tanaman. Sebaliknya, di Gapura, petani secara rutin mengintegrasikan bahan organik berupa jerami sisa panen dan kotoran ternak ke dalam siklus tanam.

KriteriaRubaruGapura
Petani mengandalkan pupuk kimia90 %45 %
Penggunaan pupuk organik (jerami/kotoran)15 %78 %
Kadar nitrogen tanah (mg/kg)2834
Kadar fosfor tanah (mg/kg)1216
Kadar kalium tanah (mg/kg)1822

Data tersebut menunjukkan bahwa praktik pemupukan organik di Gapura berkontribusi pada peningkatan kandungan unsur hara makro secara signifikan, meskipun penggunaan pupuk kimia masih tetap ada. Peneliti Akhmad Khairul Umam menekankan bahwa “praktik tersebut berkontribusi terhadap stabilitas produktivitas lahan dan menjaga kualitas biofisik tanah.”

Analisis Dampak Lingkungan dan Ekonomi

Penggunaan pupuk kimia secara intensif berpotensi menurunkan mikroorganisme tanah, meningkatkan akumulasi logam berat, serta menurunkan kemampuan tanah menyerap air. Di Rubaru, sensor menunjukkan penurunan kadar bahan organik tanah (SOC) dari 2,3 % menjadi 1,8 % dalam enam bulan, sementara di Gapura SOC tetap di atas 2,6 %.

Dari sisi ekonomi, petani Rubaru melaporkan biaya input pupuk kimia rata‑rata Rp 1,200,000 per hektar, sedangkan petani Gapura menekan biaya menjadi Rp 850,000 per hektar karena sebagian nutrisi diperoleh dari sumber organik lokal. Meskipun hasil panen padi di Rubaru sedikit lebih tinggi (± 6 % lebih banyak), selisih keuntungan bersih menurun setelah memperhitungkan biaya input dan potensi kerusakan jangka panjang.

Implikasi Kebijakan

  • Perluasan program subsidi pupuk organik di tingkat kecamatan.
  • Penyuluhan berbasis data sensor kepada petani tentang dosis pupuk yang tepat.
  • Pembentukan bank tanah digital yang mengintegrasikan data AI untuk perencanaan musim tanam.

Rekomendasi Peneliti dan BRIDA

Mohammad Alfin Widyanto, Peneliti Ahli Pertama BRIDA Kabupaten Sumenep, menegaskan bahwa hasil riset harus dijadikan dasar bagi perumusan kebijakan yang bersifat adaptif. Berikut rekomendasi yang diusulkan:

  1. Pengembangan paket pelatihan “Pertanian Presisi Berbasis Sensor” untuk petani di Rubaru.
  2. Insentif fiskal bagi petani yang mengadopsi praktik pengembalian bahan organik ke tanah.
  3. Kolaborasi antara PENS, Dinas Pertanian, dan koperasi lokal untuk menyediakan unit sensor tanah berbagi biaya.
  4. Penguatan regulasi yang mengatur batas maksimum penggunaan pupuk nitrogen sintetis per hektar.

Kronologi Kegiatan Penelitian

  • Januari 2026 – Instalasi 120 sensor tanah di lahan percobaan Rubaru dan Gapura.
  • Maret 2026 – Pengumpulan data awal dan verifikasi lapangan.
  • Mei 2026 – Analisis data awal dengan model AI, penyusunan draft laporan.
  • 23 Juli 2026 – Fokus Group Discussion (FGD) di Balai Desa Rubaru, dipimpin oleh tim PENS.
  • 24 Juli 2026 – Publikasi temuan awal oleh BRIDA Kabupaten Sumenep.

Dampak bagi Masyarakat dan Industri

Jika rekomendasi di atas diimplementasikan, diproyeksikan terjadi penurunan penggunaan pupuk kimia hingga 40 % dalam lima tahun ke depan, yang selanjutnya akan menurunkan beban biaya produksi petani rata‑rata sebesar Rp 350,000 per hektar. Bagi industri pupuk, perubahan ini menuntut diversifikasi produk, misalnya peningkatan produksi pupuk organik cair atau bio‑fertilizer. Bagi pemerintah daerah, data berbasis sensor membuka peluang peningkatan transparansi dalam alokasi subsidi dan monitoring keberlanjutan lahan.

Penutup

Temuan riset PENS menegaskan bahwa pola pemupukan bukan sekadar pilihan teknis, melainkan faktor kunci yang menentukan kesehatan tanah, stabilitas ekonomi petani, dan kelangsungan produksi pangan di Sumenep. Dengan menggabungkan ilmu sensor, AI, dan pengetahuan tradisional petani Gapura, Kabupaten Sumenep memiliki pijakan kuat untuk beralih menuju pertanian yang lebih berkelanjutan, produktif, dan resilient terhadap perubahan iklim.

Artikel ini dipublikasikan oleh Plat Merah.

Tinggalkan Balasan

Tutup