Gelombang Kembalinya Electric Vehicles Sewaan: Peluang Besar di Tengah Kenaikan Harga BBM

Gelombang Kembalinya Electric Vehicles Sewaan: Peluang Besar di Tengah Kenaikan Harga BBM

Plat Merah – Pasar electric vehicles (EV) global sedang mengalami fenomena unik. Banjir besar mobil listrik bekas sewa mulai membanjiri dealer, sementara harga bahan bakar minyak (BBM) kembali meroket akibat eskalasi konflik geopolitik. Di sisi lain, India mencatat lonjakan luar biasa di sektor komponen EV dan pasar sekunder yang mulai matang. Kombinasi ini menciptakan peluang emas bagi konsumen dan pelaku industri.

Menurut data industri, hampir 1 juta unit electric vehicles dilepas melalui skema leasing antara 2022 hingga 2025. Lonjakan ini dipicu oleh Insentif Inflation Reduction Act di Amerika Serikat yang memberikan potongan $7.500 bagi konsumen yang memilih menyewa. Kini, dengan masa sewa 24-36 bulan berakhir, dealer dihadapkan pada tsunami unit bekas. J.D. Power memperkirakan pengembalian sewa EV akan melonjak 230% pada 2026, sementara Cox Automotive memproyeksikan lebih dari 600.000 kontrak sewa akan berakhir pada 2027-2028.

“Awalnya dealer panik karena khawatir permintaan rendah. Tapi dengan harga BBM yang naik lagi akibat perang dengan Iran yang memanas, minat terhadap EV kembali meningkat,” ujar Jimmy Douglas, pendiri Plug Motors, marketplace khusus EV bekas. Douglas, yang sebelumnya menjabat General Manager operasi mobil bekas Tesla, melihat ini sebagai momen tepat bagi konsumen untuk mendapatkan EV bekas dengan harga menarik.

Di India, pasar komponen EV diprediksi tumbuh delapan kali lipat dari Rs 41.000 crore pada 2025 menjadi Rs 3,55 lakh crore pada 2032, menurut laporan India Energy Storage Alliance dan Customized Energy Solutions. Pertumbuhan tahunan gabungan (CAGR) sebesar 38% ini jauh di atas rata-rata global. Baterai, motor, dan power electronics menjadi penggerak utama, dengan baterai menyumbang lebih dari setengah nilai pasar komponen pada 2025. Namun, baterai dan inverter masih sangat bergantung pada impor, sementara motor dan BMS (Battery Management System) lebih cepat terlokalisasi karena sifatnya yang berbasis perangkat lunak.

Sementara itu, pasar EV bekas di India juga memasuki fase pertumbuhan. Diperkirakan transaksi EV bekas mencapai 8.000-12.000 unit pada FY26, naik dari 2.000-3.000 unit di FY25. Gelombang pertama EV yang terjual pada FY22-23 mulai memasuki siklus penggantian, memperbesar ketersediaan unit di pasar sekunder. Para pelaku pasar melihat inovasi pembiayaan sebagai katalis utama. Beberapa lembaga keuangan seperti Bajaj Finance mulai mengeksplorasi produk pembiayaan dengan nilai sisa terjamin (assured future-value financing) untuk mengurangi ketidakpastian depresiasi.

“Pelanggan yang membeli mobil premium pertama mereka ingin tahu berapa nilai mobilnya setelah tiga tahun. Produk pembiayaan yang memberikan visibilitas nilai masa depan dapat meningkatkan kepercayaan,” kata Avneet Singh Kohli, pendiri AutoBest Emporio. Sertifikasi kesehatan baterai, program refurbishment dari pabrikan, dan catatan servis digital mulai menciptakan transparansi yang membuat EV bekas semakin layak dibiayai.

Harga acuan pun mulai terbentuk. Contohnya, Tata Nexon EV berusia dua tahun dibanderol Rs 5,7-9 lakh, Tata Tiago EV Rs 5-7,5 lakh, MG ZS EV sekitar Rs 9,8 lakh, dan Mahindra XUV400 Rs 9,5-13 lakh. Hal ini menandakan pasar sekunder EV mulai matang.

Kesimpulannya, momentum saat ini sangat menguntungkan bagi konsumen yang ingin beralih ke electric vehicles. Harga BBM yang tinggi, banjir unit bekas sewa, dan inovasi pembiayaan membuat EV bekas menjadi pilihan menarik. Di sisi industri, India menunjukkan kesiapan menjadi pemain kunci dalam rantai pasok EV global, dengan pertumbuhan komponen yang eksplosif dan pasar sekunder yang semakin terorganisir. Bagi dealer, ini adalah peluang untuk mengelola inventaris dengan cerdas dan memanfaatkan tren kenaikan permintaan.

Artikel ini dipublikasikan oleh Plat Merah.

Tinggalkan Balasan

Tutup