Baru Berlaku, Hizbullah Sudah Tolak Gencatan Senjata Israel-Lebanon: Serangan Masih Berlanjut
Plat Merah – Baru berlaku, Hizbullah sudah tolak gencatan senjata Israel-Lebanon. Kesepakatan yang ditengahi Amerika Serikat dan mulai berlaku pada 3 Juni 2026 langsung ditolak oleh kelompok milisi Lebanon tersebut pada keesokan harinya. Hizbullah menilai gencatan senjata ini sama dengan penyerahan diri dan menolak syarat-syarat yang dianggap tidak menguntungkan.
Dalam pernyataan resminya, Sekretaris Jenderal Hizbullah Naim Qassem menegaskan bahwa selama Israel masih melancarkan serangan ke Lebanon selatan, pihaknya tidak akan menyetujui gencatan senjata. “Kami akan terus menyerang Israel sampai agresi di selatan dihentikan,” ujarnya. Padahal, sehari sebelumnya Hizbullah sempat memberi lampu hijau terhadap kesepakatan tersebut, namun berubah sikap setelah Israel terus melanggar gencatan dengan meluncurkan serangan udara dan darat.
Baru berlaku, Hizbullah sudah tolak gencatan senjata Israel-Lebanon juga direspons dingin oleh Israel. Seorang pejabat Israel anonim mengatakan bahwa Israel tidak bernegosiasi dengan Hizbullah, melainkan dengan pemerintah Lebanon dan AS. “Kesepakatan ini bergantung pada pelucutan senjata Hizbullah dan demiliterisasi Lebanon selatan,” katanya. Sementara itu, militer Israel mengklaim bahwa serangan yang dilakukan adalah respons terhadap provokasi Hizbullah.
Ketegangan semakin meningkat setelah Iran menembakkan rudal ke Israel sebagai balasan atas serangan Israel di pinggiran Beirut. Presiden AS Donald Trump dilaporkan meminta Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu untuk tidak membalas serangan Iran, namun Netanyahu justru bersikukuh akan membalas. Kepala Staf Israel Eyal Zamir menyatakan bahwa pasukan belum diperintahkan menyerang Iran, namun akan melakukannya jika diperintahkan.
Situasi di lapangan menunjukkan bahwa gencatan senjata tidak berjalan mulus. UNIFIL mendeteksi 69 pelanggaran wilayah udara Lebanon oleh Israel dalam satu hari, termasuk 25 serangan udara dan dua serangan roket. Serangan Israel juga menewaskan dua paramedis dan satu pasukan perdamaian PBB. Di sisi lain, Hizbullah meluncurkan puluhan roket ke Israel utara, memicu peringatan serangan ke kota-kota besar seperti Haifa dan Tel Aviv.
Baru berlaku, Hizbullah sudah tolak gencatan senjata Israel-Lebanon menjadi pukulan bagi upaya perdamaian yang sudah dirintis melalui negosiasi di Washington. Kesepakatan yang seharusnya menjadi landasan stabilitas kawasan justru berantakan dalam hitungan hari. Dampaknya tidak hanya dirasakan di Timur Tengah, tetapi juga di pasar global. Wall Street anjlok, dengan Nasdaq merosot 4,2 persen, dipicu oleh ketidakpastian geopolitik dan kekhawatiran kenaikan suku bunga.
Kesimpulannya, penolakan Hizbullah terhadap gencatan senjata yang baru berlaku menunjukkan bahwa konflik Israel-Lebanon masih jauh dari kata selesai. Serangan balasan dan pelanggaran terus terjadi, memperumit upaya diplomatik. Tanpa komitmen semua pihak untuk menghentikan kekerasan, perdamaian di kawasan tetap sulit terwujud.
Artikel ini dipublikasikan oleh Plat Merah.
Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.











