Sosok Pria Ngamuk Bawa Sajam Usai Ditegur Pasang Sound Horeg Larut Malam, Berubah Sejak Cerai
Plat Merah – Jombang – Sosok pria ngamuk bawa sajam usai ditegur pasang sound horeg larut malam, berubah sejak cerai menjadi perbincangan hangat di media sosial. Seorang pria berinisial R (37), warga Dusun Krajan, Desa Curahmalang, Kecamatan Sumobito, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, diamankan polisi setelah mengancam warga dan perangkat desa dengan parang saat ditegur karena menyalakan sound system dengan volume sangat keras pada Minggu (14/6/2026) sekitar pukul 23.00 WIB.
Peristiwa bermula ketika R menyalakan perangkat audio berdaya tinggi di lingkungan permukiman. Suara musik yang memekakkan telinga membuat warga sekitar merasa terganggu saat beristirahat. Kepala Dusun Krajan, Dedik Setiawan, bersama ketua RT dan perwakilan warga mendatangi rumah R untuk memberikan teguran secara kekeluargaan. Namun, bukannya mematikan sound, R justru keluar rumah sambil membawa sebilah parang dan mengancam mereka. “Kami tindaklanjuti bersama RT dan perwakilan warga, kami ingatkan, tapi beliau bawa sajam. Sehingga tidak kami lanjutkan, kami lapor polisi lewat 110,” ujar Dedik, Rabu (17/6/2026).
Tak hanya warga, ibu kandung R, Marsinah (73), yang tinggal serumah dengannya juga menjadi korban amuk. Marsinah sempat menegur R agar mematikan sound, namun R justru mengamuk hingga ibunya ketakutan dan memilih mengungsi ke rumah tetangga. “Ibunya sudah mengingatkan agar (sound) dimatikan, tapi ibunya ketakutan. Sehingga mengungsi ke rumah tetangganya. Kemudian lapor ke kepala dusun,” jelas Kapolsek Sumobito AKP Bagus Tejo Purnomo.
Polsek Sumobito yang menerima laporan segera merespons. Sekitar 10 menit setelah laporan masuk melalui call center 110, personel tiba di lokasi. Saat itu, suara musik masih bergema dari rumah R. Ketika polisi datang, R sempat mengumpat dari dalam rumah, namun akhirnya membuka pintu. Parang yang digunakannya untuk mengancam diletakkan di kursi ruang tamu. “Parangnya tidak digunakan, ditaruh kursi. Kemudian dia kami amankan ke Polsek Sumobito,” ungkap AKP Bagus.
Menurut pihak keluarga, perubahan perilaku R mulai terlihat mencolok sejak ia mengalami perceraian sekitar tiga tahun lalu. Sejak saat itu, R tinggal berdua dengan ibunya tanpa memiliki anak. Depresi akibat perceraian diduga menjadi pemicu utama tindakan nekatnya. Sosok pria ngamuk bawa sajam usai ditegur pasang sound horeg larut malam, berubah sejak cerai ini menunjukkan betapa tekanan psikologis dapat memicu perilaku agresif. Warga sekitar mengaku pria tersebut sebelumnya dikenal pendiam, namun belakangan kerap menunjukkan sikap emosional.
Peristiwa ini menjadi pengingat pentingnya dukungan psikologis bagi mereka yang mengalami perceraian. Sosok pria ngamuk bawa sajam usai ditegur pasang sound horeg larut malam, berubah sejak cerai kini harus mempertanggungjawabkan perbuatannya di hadapan hukum. Polisi masih melakukan pemeriksaan lebih lanjut untuk menentukan pasal yang akan dikenakan, termasuk ancaman dengan senjata tajam dan gangguan ketertiban umum.
Kesimpulannya, insiden ini tidak hanya menyoroti dampak negatif perceraian terhadap kondisi mental seseorang, tetapi juga pentingnya peran masyarakat dan aparat dalam menjaga ketertiban. Semoga kejadian serupa tidak terulang, dan setiap individu yang mengalami tekanan psikologis dapat memperoleh bantuan yang tepat sebelum bertindak di luar batas.
Artikel ini dipublikasikan oleh Plat Merah.
Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.











