Kronologi Bentrokan di PT BCP OKI: Dua Warga Tertembak, Satu Tewas Saat Massa Bakar Mess

Kronologi Bentrokan di PT BCP OKI: Dua Warga Tertembak, Satu Tewas Saat Massa Bakar Mess

Latar Belakang Konflik

Plat Merah – Konflik di PT Buluh Cawang Plantation (BCP), Kecamatan Lempuing, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatera Selatan, pada 26 Juni 2026, merupakan hasil dari ketegangan lama antara warga setempat dan perusahaan perkebunan. Wilayah ini menjadi pusat produksi kelapa sawit yang menggerakkan perekonomian daerah, namun sering terjadi sengketa terkait dugaan pencurian tandan buah segar (TBS) dan sengketa lahan. Polisi menyebut insiden bermula dari penyelidikan dugaan pencurian TBS di area perkebunan, yang memicu reaksi keras dari warga Desa Tebing Suluh.

Kronologi Peristiwa

WaktuPeristiwa
08.00 WIBAparat gabungan Polda Sumsel dan Polres OKI tiba di area perkebunan PT BCP untuk menyelidiki dugaan pencurian TBS.
09.30 WIBPolisi mengamankan 11 sepeda motor dan satu mobil pikap yang diduga terlibat pencurian. Mobil patroli double cabin juga diperiksa.
11.00 WIBMassa warga Desa Tebing Suluh datang dan menghalangi polisi. Terjadi adu argumen dan negosiasi antara kedua pihak.
12.45 WIBKendaraan yang diamankan dikembalikan kepada warga setelah mediasi. Namun, massa merusak mobil patroli polisi.
14.15 WIBTerdengar letusan senjata api. Dua warga terluka tembak: Zainal Abidin (50) di perut kiri dan Mat Umar (43) di paha kiri.
15.30 WIBMassa membalas dengan membakar mess karyawan PT BCP. Ali (25) tewas tersengat listrik saat pembakaran berlangsung.
17.00 WIBKondisi kembali kondusif. Polisi tetap disiagakan di Mapolsek Lempuing untuk mengantisipasi gangguan.

Dampak dan Implikasi

  • Korban: Tiga warga terdampak, dua luka tembak dan satu meninggal. Polisi memberikan bantuan medis dan santunan kepada keluarga korban.
  • Efek pada Perusahaan: PT BCP menghentikan operasi sementara di area Lempuing untuk evaluasi keamanan. Pihak perusahaan menyesalkan kerusakan properti.
  • Komunitas Lokal: Ketegangan meningkat antara warga dan aparat. Muncul kekhawatiran terkait keadilan hukum dan perlindungan hak masyarakat.
  • Sistem Hukum: Polda Sumsel membuka penyelidikan terhadap latar belakang luka tembak dan pelaku utama pembakaran.

Konteks Sosial-Ekonomi

Kecamatan Lempuing menjadi wilayah strategis untuk industri kelapa sawit di Sumsel. Namun, insiden ini menyoroti celah dalam pengelolaan konflik agraria dan keamanan perusahaan. Ahli hukum menilai kekerasan sering kali muncul dari kurangnya komunikasi antara perusahaan dan komunitas setempat. “Perusahaan perlu lebih proaktif melibatkan warga dalam pemecahan sengketa,” kata Dr. Rizal Anwar, dosen hukum UI.

Respons Pemerintah

Pemerintah Kabupaten OKI telah membentuk tim khusus untuk mediasi. Bupati H. Jon Erni menyatakan, “Kita harus menyelesaikan ini secara damai agar tidak mengganggu roda ekonomi.” Sementara itu, Kementerian Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK) menyiapkan program pelatihan keterampilan untuk menekan konflik di area perkebunan.

Peristiwa ini menambah daftar panjang sengketa agraria di Indonesia, yang sepanjang 2025 mencapai 217 kasus terkait kebijakan perizinan dan penguasaan lahan. Kebijakan restitusi lahan warga perlu diprioritaskan untuk mencegah eskalasi serupa.

Artikel ini dipublikasikan oleh Plat Merah.

Tinggalkan Balasan

Tutup