Kisah Masyarakat Pasir Sakti, Dulu Terkikis Abrasi, Kini Tumbuh Mangrove yang Menghidupi

Kisah Masyarakat Pasir Sakti, Dulu Terkikis Abrasi, Kini Tumbuh Mangrove yang Menghidupi

Dari Ancaman Abrasi ke Harapan Hijau

Plat Merah – Hamparan mangrove yang menaungi pesisir Pasir Sakti, Lampung Timur, tidak hanya menjadi simbol perjuangan masyarakat melawan abrasi, tetapi juga kisah transformasi ekosistem yang menginspirasi. Dari kondisi daratan yang hampir terkikis gelombang laut pada 1995, kawasan ini kini menjadi contoh keberhasilan konservasi mangrove yang melibatkan masyarakat, perusahaan, dan pemerintah.

Kronologi Perjuangan Pulih

TahunEra PerubahanCapaian
1995Krisis AbrasiWilayah pesisir terancam, warga migrasi
2002Swadaya AwalPenanaman mangrove dimulai tanpa bantuan eksternal
2010Era KolaborasiKerja sama dengan PT Bukit Asam dimulai
2026Kemajuan Berkelanjutan10.000 bibit baru ditanam dalam program Hari Lingkungan Hidup Sedunia

Dari Kebosanan Pindah ke Komitmen Berkebun

Samsudin, Ketua Kelompok Tani Hutan (KTH) Mutiara Hijau I, mengingat betapa frustrasinya masyarakat harus pindah berkali-kali karena abrasi. “Kami sudah bosan pindah. Kali ini kita tidak pindah, kita tumbuhkan benteng hidup,” katanya. Upaya penanaman mangrove swadaya pada 2000-an menghadapi tantangan besar: kurangnya modal, teknik penanaman yang belum optimal, dan skeptisisme warga tentang manfaat jangka panjang.

Manfaat Mangrove yang Berlapis

Perlahan, hasil mulai terlihat. Mangrove tidak hanya mengurangi abrasi, tetapi juga:

  • Meningkatkan biodiversitas laut dengan menyediakan habitat biota
  • Memperbaiki kualitas air pesisir
  • Menjaga stabilisasi garis pantai
  • Mengurangi risiko banjir rob

Kolaborasi dengan Perusahaan Energi

Dukungan PT Bukit Asam (PTBA) menjadi momentum kunci. Dalam dua tahun terakhir, 55.000 bibit ditanam bersama masyarakat. Sustainability Division Head PTBA, Dedy Saptaria Rosa, menjelaskan: “Komitmen kami bukan sekadar lingkungan, tetapi juga kesejahteraan. Mangrove ini adalah investasi jangka panjang untuk komunitas.”

Ekonomi Masyarakat Terangkat

KTH Mutiara Hijau I, yang memiliki 69 anggota (29 perempuan), telah menciptakan nilai tambah melalui:

  1. Pembibitan mangrove komersial
  2. Penjualan produk olahan (sirup mangrove, kerajinan)
  3. Upah penanaman mangrove
  4. Ekowisata pesisir berbasis edukasi

Menjaga Warisan untuk Generasi Berikut

“Mangrove tidak bisa dipanen seperti tanaman lain, tetapi manfaatnya sangat besar,” kata Samsudin. Kelompoknya kini memiliki sistem replikasi mandiri untuk menggantikan tanaman yang tidak tumbuh. Mereka juga membangun sekolah lapang bagi generasi muda setempat.

Pasir Sakti membuktikan bahwa pelestarian lingkungan bisa menjadi motor penggerak ekonomi lokal. Dari tanah yang hampir hilang, kini tumbuh hutan mangrove yang menjadi simbol ketahanan masyarakat dan komitmen kolaboratif antara warga dan korporasi.

Artikel ini dipublikasikan oleh Plat Merah.

Tinggalkan Balasan

Tutup