Pemkab Situbondo Perkuat Pertanian Berkelanjutan lewat Bagi‑bagi Sayur Organik dan Pupuk Organik Cair

Pemkab Situbondo Perkuat Pertanian Berkelanjutan lewat Bagi‑bagi Sayur Organik dan Pupuk Organik Cair

Plat Merah – Dengan semangat meningkatkan ketahanan pangan sekaligus mengurangi beban sampah di daerah, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Situbondo, Jawa Timur, menggelar aksi kampanye penggunaan pupuk organik cair (POC) yang diproduksi dari sampah rumah tangga. Pada Selasa, 23 Juni 2026, Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan bersama Bank Sampah Induk (BSI) membagikan sayur organik — sawi, selada, terong, dan gambas — serta satu botol POC 600 ml kepada ratusan ibu rumah tangga yang berjejer di halaman kantor dinas.

Latar Belakang dan Tujuan Kampanye

Indonesia masih sangat bergantung pada pupuk kimia sintetik yang tidak hanya mahal, tetapi juga berpotensi merusak struktur tanah dan mencemari air tanah. Pemerintah daerah Situbogo, melalui Wakil Bupati Ulfiyah, menargetkan penurunan penggunaan pupuk kimia dengan memperkenalkan POC sebagai alternatif yang ramah lingkungan dan ekonomis. POC diproduksi oleh kelompok tani yang tergabung dalam BSI di Desa Sumberkolak, Kecamatan Panarukan, memanfaatkan limbah organik rumah tangga seperti kulit buah, sisa sayur, dan sampah pekarangan.

Proses Pembuatan POC

  • Pengumpulan limbah organik dari rumah tangga melalui jaringan bank sampah.
  • Pengomposan aerobik selama 7‑10 hari untuk menghasilkan bahan dasar cair.
  • Pengenceran cairan kompos dengan air bersih dalam perbandingan 1:5, menghasilkan POC siap pakai.
  • Pengemasan dalam botol 600 ml dengan label penggunaan dan manfaat.

Proses ini tidak memerlukan peralatan mahal, sehingga dapat direplikasi oleh warga dengan dukungan teknis dari dinas pertanian.

Data Produksi: Perbandingan Produktivitas

TanamanProduktivitas (ton/ha)Metode
Padi9,1POC
SawiPOC
SeladaPOC
TerongPOC

Data di atas menunjukkan hasil panen padi yang setara dengan atau bahkan melampaui standar provinsi, padahal seluruh pupuk yang digunakan bersifat organik dan tidak mengandung bahan kimia sintetis.

Kronologi Kegiatan

  • 15 Juni 2026 – Pelatihan pembuatan POC bagi petani di Desa Sumberkolak.
  • 18 Juni 2026 – Distribusi pertama POC ke 10 kelompok tani di Panarukan.
  • 20 Juni 2026 – Penanaman sayur organik di pekarangan warga menggunakan POC.
  • 23 Juni 2026 – Aksi pembagian sayur organik dan botol POC 600 ml kepada ratusan emak‑emak.
  • 24 Juni 2026 – Evaluasi dampak awal dan rencana replikasi ke kecamatan lain.

Manfaat dan Dampak Bagi Berbagai Pihak

Untuk Masyarakat

  • Pengurangan biaya pembelian pupuk kimia.
  • Peningkatan kualitas gizi melalui sayur yang bebas residu kimia.
  • Peluang usaha mikro dengan produksi POC dan penjualan sayur organik.
  • Pengurangan volume sampah rumah tangga yang masuk ke TPA.

Untuk Pemerintah Daerah

  • Penguatan program ketahanan pangan berkelanjutan.
  • Penghematan anggaran belanja pupuk kimia di Dinas Pertanian.
  • Penurunan beban pengelolaan sampah kota.

Untuk Lingkungan

  • Perbaikan struktur tanah dan peningkatan mikroorganisme tanah.
  • Pengurangan pencemaran air tanah akibat aliran pupuk kimia.
  • Kontribusi pada target pengurangan sampah plastik dan organik nasional.

Respons dan Aspirasi Warga

Ratusan ibu rumah tangga yang mengantre di depan Dinas Pertanian mengungkapkan rasa antusiasme tinggi. “Saya dulu tidak tahu cara menanam sayur di pekarangan kecil, tapi setelah dapat POC dan contoh sayur organik, saya jadi percaya diri,” kata Siti, 42 tahun, warga Kelurahan Bendo.

Beberapa peserta juga menanyakan cara memperbanyak produksi POC secara mandiri. Kepala Dinas, Qurrotul Aini, menegaskan bahwa dinas siap mengirimkan narasumber kompeten ke desa‑desa yang meminta pelatihan, serta menyediakan modul cetak yang dapat diunduh secara gratis.

Rencana Ke Depan

Berangkat dari keberhasilan fase awal, Pemkab Situbondo merencanakan tiga langkah utama:

  1. Ekspansi jaringan bank sampah ke 15 kecamatan tambahan dalam 12 bulan ke depan.
  2. Pengadaan unit produksi POC mobile yang dapat mengunjungi desa‑desa terpencil secara berkala.
  3. Integrasi program POC ke dalam kurikulum pendidikan pertanian di sekolah menengah kejuruan setempat.

Dengan menggabungkan edukasi, produksi lokal, dan distribusi sayur organik, diharapkan Situbondo menjadi contoh wilayah yang berhasil mengatasi dua permasalahan sekaligus: limbah rumah tangga dan ketergantungan pada pupuk kimia.

Langkah ini tidak hanya menumbuhkan rasa mandiri pada petani dan ibu rumah tangga, tetapi juga menegaskan komitmen Pemkab Situbondo dalam mewujudkan pertanian berkelanjutan yang selaras dengan tujuan pembangunan nasional. Ketika setiap pekarangan mampu menyumbang sayur segar untuk keluarga, sekaligus mengolah limbah menjadi sumber daya, masa depan pangan Indonesia menjadi lebih hijau, lebih sehat, dan lebih adil.

Artikel ini dipublikasikan oleh Plat Merah.

Tinggalkan Balasan

Tutup