Perlombaan Bakiak Meriahkan HUT ke-80 Bhayangkara, Polda Sumsel Perkuat Soliditas Antarpersonel
Plat Merah – Palembang, 30 Juni 2026 — Dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) Bhayangkara ke-80, Polda Sumatera Selatan menggelar perlombaan bakiak antarfungsi kepolisian di Kompleks Olahraga Pakri. Acara yang berlangsung pada Minggu, 28 Juni 2026 ini tidak hanya menjadi hiburan semata, melainkan juga wadah strategis untuk menumbuhkan rasa persaudaraan, meningkatkan koordinasi lintas satuan, serta menegaskan komitmen kepolisian dalam melayani masyarakat secara profesional.
Latar Belakang dan Makna Tradisi Bakiak
Bakiak, atau sandal kayu tradisional, telah menjadi ikon budaya Sumatera Selatan sejak masa kolonial. Dalam konteks militer dan kepolisian, kompetisi bakiak telah lama dipakai sebagai sarana fisik dan mental untuk menguji ketangkasan, kerja tim, dan disiplin. Kombes Pol Tony Budhi Susetyo, Direktur Intelkam Polda Sumsel, menegaskan, “Perlombaan bakiak bukan sekadar kompetisi, melainkan simbol persaudaraan yang menghubungkan generasi polisi dengan warisan budaya daerah.”
Rangkaian Kegiatan pada Hari Bhayangkara ke-80
Acara dimulai pukul 08.00 WIB dengan upacara pembukaan yang dihadiri Kepala Polda Sumsel serta perwakilan kementerian dalam negeri. Selanjutnya, serangkaian lomba tradisional dan modern digelar, di antaranya:
- Lomba bakiak berpasangan (tim 2 orang)
- Tarik tambang antar korps
- Lomba lari karung
- Pawai kebudayaan
Setiap lomba dirancang untuk menonjolkan nilai sportivitas, kerjasama, dan kebanggaan akan identitas lokal.
Jadwal Perlombaan Bakiak
| Waktu | Tahapan | Keterangan |
|---|---|---|
| 08.30 – 09.00 | Registrasi & Persiapan | Tim mengisi formulir, mendapatkan bakiak dan penanda posisi |
| 09.15 – 10.00 | Balapan Babak Penyisihan | Setiap tim berlomba menempuh lintasan 100 meter |
| 10.30 – 11.00 | Final & Penghargaan | Tim terpilih bersaing untuk medali emas, perak, dan perunggu |
Peserta dan Dinamika Kompetisi
Acara ini diikuti oleh lebih dari 200 personel dari berbagai satuan kerja, termasuk Reskrim, Lantas, Wilayah, dan Satreskrim. Setiap satuan mengirimkan tiga tim, masing-masing beranggotakan dua orang. Kompetisi memperlihatkan dinamika unik: polisi dari unit intelijen yang biasanya beroperasi di ruang tertutup harus menyesuaikan diri dengan medan terbuka, sementara anggota satuan lalu lintas menonjolkan koordinasi gerakan cepat.
Poin Penting yang Muncul Selama Perlombaan
- Kerjasama antar‑anggota tim menjadi faktor penentu kemenangan, bukan sekadar kecepatan individu.
- Semangat sportivitas tetap terjaga meski persaingan sengit, terlihat dari tepuk tangan penonton terhadap tim yang jatuh.
- Penggunaan bakiak kayu tradisional mengingatkan semua pada pentingnya melestarikan warisan budaya lokal.
Dampak terhadap Soliditas dan Kinerja Polri
Berbagai pihak menilai bahwa kegiatan tradisional seperti ini memiliki nilai strategis bagi institusi kepolisian. Dari sudut pandang psikologis, berpartisipasi dalam lomba fisik meningkatkan rasa kebersamaan (cohesion) yang terbukti berdampak pada penurunan konflik internal. Dari sudut operasional, interaksi lintas satuan mempermudah pertukaran informasi dan mempercepat respon saat terjadi situasi darurat.
Analisis internal Polda Sumsel mencatat bahwa setelah serangkaian kegiatan kebersamaan pada tahun-tahun sebelumnya, terjadi penurunan 12% dalam jumlah keluhan internal dan peningkatan 8% dalam indeks kepuasan layanan publik selama triwulan berikutnya.
Implikasi bagi Masyarakat dan Pemerintah Daerah
Perlombaan bakiak tidak hanya menguatkan internal kepolisian, tetapi juga menciptakan ikatan emosional dengan masyarakat. Warga yang menonton dapat melihat sisi humanis aparat, sehingga meningkatkan kepercayaan publik. Pemerintah Daerah Sumatera Selatan mendukung inisiatif ini sebagai bagian dari program revitalisasi budaya dan keamanan bersama.
Beberapa implikasi konkret meliputi:
- Peningkatan citra positif Polri di mata masyarakat, yang dapat mempermudah kerja sama dalam penegakan hukum.
- Penguatan ekonomi lokal melalui penjualan makanan tradisional, souvenir, dan penyewaan perlengkapan balap.
- Kesempatan edukasi bagi generasi muda tentang pentingnya kebersamaan dan nilai budaya bakiak.
Harapan Kedepan dan Rencana Pengembangan
Kombes Pol Tony Budhi Susetyo menuturkan rencana untuk menjadikan perlombaan bakiak sebagai agenda tahunan yang terintegrasi dengan program pelatihan fisik Polri. “Kami ingin menggabungkan latihan kebugaran dengan warisan budaya, sehingga setiap polisi tidak hanya siap secara fisik tetapi juga memiliki rasa identitas yang kuat,” ujarnya.
Selain itu, Polda Sumsel berencana membuka lomba ini bagi aparat keamanan lain, seperti TNI dan Satpol PP, untuk menciptakan sinergi regional yang lebih luas. Ide tersebut telah mendapat sambutan positif dari Dinas Komunikasi dan Informatika serta Dinas Pariwisata Sumsel.
Suasana dan Antusiasme yang Menyemangati
Suasana di lapangan dipenuhi sorak sorai, musik tradisional, dan tawa riang. Penonton, baik warga maupun keluarga anggota kepolisian, menorehkan momen kebersamaan yang jarang terlihat dalam rutinitas harian. Salah satu penonton, Ibu Sari, ibu dari seorang anggota polisi, mengatakan, “Melihat mereka bersaing dengan senyum membuat saya yakin mereka tetap manusiawi meski berada di barisan tugas berat.”
Dengan berakhirnya perlombaan, tim yang meraih medali emas, perak, dan perunggu masing‑masing mendapatkan piagam penghargaan dan simbol bakiak berukir khusus. Penghargaan tersebut tidak hanya menjadi simbol prestasi, tetapi juga lambang komitmen untuk terus menjaga persaudaraan dalam melaksanakan tugas.
Momentum HUT ke‑80 Bhayangkara ini menjadi contoh nyata bagaimana tradisi lokal dapat dijadikan alat strategis untuk memperkuat institusi keamanan. Semangat kebersamaan yang tumbuh dari lapangan bakiak diharapkan terus mengalir ke medan tugas, menjadikan Polri Sumsel lebih solid, responsif, dan berintegritas dalam mengayomi masyarakat Sumatera Selatan.
Artikel ini dipublikasikan oleh Plat Merah.
Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.










