Pemkab Situbondo Kembangkan Kerjasama Peternak Telur dengan SPPG untuk Penguatan Gizi dan Ekonomi Lokal

Pemkab Situbondo Kembangkan Kerjasama Peternak Telur dengan SPPG untuk Penguatan Gizi dan Ekonomi Lokal

Plat Merah

Latar Belakang Kolaborasi Strategis

Pemerintah Kabupaten Situbondo, Jawa Timur, telah mencanangkan inisiatif inovatif untuk menghubungkan lebih dari 800 peternak ayam petelur dengan 213 unit Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) se-Kabupaten Situbondo. Program ini merupakan bagian dari implementasi Surat Edaran Bupati Yusuf Rio Wahyu Prayogo Nomor 453/426/2026 yang menginstruksikan SPPG untuk membeli telur langsung dari produsen lokal. Kepala Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakkan) Situbondo, Muh. Abdul Rahman, menjelaskan bahwa langkah ini bertujuan memperbaiki ekosistem pemasaran peternak sekaligus memastikan akses masyarakat terhadap telur berkualitas.

Mekanisme Kerjasama yang Terstruktur

Langkah Detail
Fasilitasi Pemkab mengadakan 8 pertemuan koordinasi antara Asosiasi Peternak Layer Situbondo (APLS), Korwil BGN, dan SPPG
Penandatanganan Penandatanganan MoU antara APLS dan Korwil Badan Gizi Nasional di 14 kecamatan
Pemantauan Membentuk tim monitoring yang terdiri dari Dinas Perdagangan, Disnakkan, dan BGN
Penetapan Harga Mengacu pada Harga Acuan Pemerintah (HAP) Rp 27.000/kg telur segar

Analisis Dampak Ekonomi

Inisiatif ini telah memberikan dampak signifikan pada sektor pertanian Situbondo:

  • Meningkatkan omzet peternak sebesar 35-40% karena pembelian langsung dari SPPG
  • Mengurangi biaya distribusi hingga 20% dengan sistem pengiriman terpusat
  • Mengurangi ketergantungan pada tengkulak yang sebelumnya mengambil margin hingga 25%
  • Memperluas pasar peternak dari 30% ke 75% dari kapasitas produksi

Kronologi Pengembangan Program

Tanggal Kegiatan Capaian
15 Mei 2026 Sosialisasi ke 1.200 peternak 85% setuju bergabung dalam program
10 Juni 2026 Pelatihan manajemen produksi 300 peternak terlatih standar sanitasi
20 Juni 2026 Pembuatan sistem logistik Didirikan 6 gudang penyimpanan dingin
1 Juli 2026 Penandatanganan MoU 250 ton telur diproyeksikan terjual/bulan

Implikasi dan Tantangan

Program ini memiliki dampak multidimensi:

  • Ekonomi Peternak: Harga HAP Rp 27.000/kg vs pasar Rp 24.500/kg memberi premium sebesar 10,2%
  • Gizi Masyarakat: 85.000 anak sekolah diperkirakan akan mendapat telur segar secara rutin
  • Lingkungan: Mengurangi emisi logistik dengan distribusi terpusat
  • Tantangan: Perlu peningkatan kapasitas produksi di 3 kecamatan utama: Ambunten, Asembagus, dan Banyuglugur

Perspektif Peternak Lokal

Yunardi (47), peternak di Desa Kukusan, Kecamatan Kendit, menuturkan, “Dulu kami sering rugi karena harga fluktuatif dan tengkulak ambil untung besar. Sekarang bisa fokus produksi karena ada jaminan harga. Anak-anak kami juga bisa sekolah karena pendapatan meningkat Rp 1,5 juta/bulan.” Testimoni ini menggambarkan transformasi ekonomi yang diharapkan oleh program ini.

Proyeksi dan Evaluasi

Pemkab menetapkan target capaian hingga akhir tahun 2026:

  • Menjangkau 90% dari 213 SPPG
  • Memproduksi 150-200 ton telur/bulan
  • Meningkatkan pendapatan peternak hingga 50%
  • Membentuk klaster tani di 50 desa

Penutup

Langkah Situbondo menunjukkan model innovatif pemberdayaan sektor pertanian yang berkelanjutan. Dengan mengintegrasikan kebutuhan gizi masyarakat dan kesejahteraan peternak, inisiatif ini memberikan pelajaran berharga bagi daerah lain di Indonesia. Dalam konteks krisis pangan global, pendekatan “from farm to fork” yang diadopsi Pemkab Situbondo memberikan harapan untuk menciptakan sistem pangan yang lebih tangguh dan adil.

Artikel ini dipublikasikan oleh Plat Merah.

Tinggalkan Balasan

Tutup