Anak Krakatau Siaga Level III, Video Letusan Dahsyat Ternyata Hoaks

Anak Krakatau Siaga Level III, Video Letusan Dahsyat Ternyata Hoaks

Plat Merah – Gunung Anak Krakatau kembali menjadi sorotan setelah statusnya dinaikkan menjadi Siaga (Level III) pada awal Juli 2026. Namun di tengah kekhawatiran masyarakat, beredar video letusan dahsyat yang diklaim sebagai erupsi terbaru gunung tersebut. Setelah diverifikasi, video itu dipastikan hoaks.

Badan Geologi Kementerian ESDM menegaskan bahwa video yang memperlihatkan letusan berapi-api di malam hari yang direkam dari atas kapal bukanlah aktivitas Gunung Anak Krakatau saat ini. Masyarakat diminta tidak mempercayai maupun menyebarluaskan video yang belum terverifikasi. Informasi resmi hanya disampaikan melalui kanal Badan Geologi/PVMBG dan MAGMA Indonesia.

Gunung Anak Krakatau merupakan gunung api aktif tipe A di Selat Sunda yang lahir dari kaldera hasil letusan dahsyat Krakatau tahun 1883. Letusan bersejarah itu menghancurkan dua pertiga pulau, memicu tsunami setinggi 40 meter, dan menewaskan lebih dari 36.000 orang. Anak Krakatau pertama muncul ke permukaan pada 1929 dan terus tumbuh melalui erupsi berulang.

Pada 22 Desember 2018, aktivitas vulkanik menyebabkan longsoran sebagian tubuh Anak Krakatau yang memicu tsunami di Selat Sunda, menewaskan 437 orang. Setelah itu, erupsi berskala rendah berlangsung hingga 16 Desember 2023 sebagai fase konstruksi pertumbuhan kembali gunung. Kini, setelah jeda, aktivitas magmatik kembali meningkat.

Badan Geologi mencatat dua erupsi pada awal Juli 2026: pertama pada 2 Juli pukul 14.05 WIB dan kedua pada 3 Juli pukul 11.50 WIB. Erupsi ini memuntahkan abu setinggi 200 meter dan meningkatkan kegempaan vulkanik dangkal serta tremor. Status pun dinaikkan menjadi Siaga (Level III) dengan radius aman 3 kilometer dari kawah.

PVMBG mengimbau masyarakat pesisir untuk waspada terhadap potensi hujan abu, aliran lava, dan terutama tsunami akibat keruntuhan lereng. Sejarah mencatat bahwa letusan Krakatau 1883 memiliki kekuatan setara 200 megaton TNT dan menyebabkan pendinginan global. Meski erupsi Anak Krakatau umumnya berskala kecil hingga sedang (tipe Strombolian), risikonya tetap serius karena lokasinya yang padat penduduk.

Di sisi lain, PT Krakatau Steel (Persero) Tbk. (KRAS) tengah menyiapkan strategi menghadapi tantangan ekspor baja pada semester II/2026, seperti proteksionisme dan kebijakan CBAM di Eropa. Meski tidak terkait langsung dengan aktivitas vulkanik, nama Krakatau kembali mengemuka dalam konteks industri baja nasional.

Kesimpulannya, masyarakat diimbau untuk tetap tenang dan mengikuti informasi resmi. Hoaks video letusan hanya akan memperkeruh situasi. Pantau terus perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau melalui kanal resmi dan patuhi rekomendasi jarak aman yang ditetapkan PVMBG.

Artikel ini dipublikasikan oleh Plat Merah.

Tinggalkan Balasan

Tutup