Pemkab Jember Gelar Pasar Murah untuk Jaga Stabilitas Harga Pangan
Latar Belakang dan Konteks Kebijakan
Plat Merah – Ketidakstabilan harga pangan di Indonesia, khususnya di daerah pedesaan, telah menjadi perhatian serius pemerintah daerah. Kabupaten Jember, dengan luas wilayah 2.768,8 km² dan populasi lebih dari 2,7 juta jiwa, sering kali menghadapi fluktuasi harga kebutuhan pokok akibat ketergantungan terhadap pasokan dari luar daerah. Program pasar murah yang digagas Pemkab Jember sejalan dengan kebijakan nasional pemerintah untuk menjaga ketersediaan dan keterjangkauan pangan secara nasional.
Detail Pelaksanaan Pasar Murah Terintegrasi
Kegiatan kali ini diadakan di Balai Desa Manggisan, Kecamatan Tanggul, Rabu (17/2/2026), melibatkan empat dinas utama dan Bulog. Proses penyelenggaraan dimulai dengan rapat koordinasi antar-instansi tiga pekan sebelumnya untuk memastikan ketersediaan stok dan distribusi. Berikut struktur penyelenggaraan:
| Instansi | Peran |
|---|---|
| Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan | Menyediakan bantuan beras dan produk perkebunan |
| Dinas Tanaman Pangan | Menyuplai sayuran segar dan buah-buahan |
| Dinas Koperasi dan UMKM | Mempromosikan produk karya UMKM lokal |
| Bulog | Menyediakan gula dan bahan pokok dengan harga terjangkau |
Perbandingan Harga Pasar Murah vs Pasaran
Salah satu daya tarik program ini adalah selisih harga yang signifikan. Berikut tabel perbandingan harga beberapa komoditas:
| Barang | Harga Pasar Murah (Rp) | Harga Pasar (Rp) |
|---|---|---|
| Gula pasir/kg | 15.000 | 18.000 |
| Telur ayam/kg | 20.000 | 24.000 |
| Beras premium/kg | 12.000 | 14.000 |
| Kentang/kg | 9.000 | 11.000 |
Dampak Ekonomi dan Sosial
Program ini memberikan manfaat ganda:
- Untuk masyarakat: Mengurangi beban pengeluaran keluarga, terutama bagi 30% penduduk Jember dengan pendapatan di bawah garis kemiskinan.
- Untuk UMKM: Meningkatkan visibilitas produk lokal dan menambah 5-10% pendapatan bulanan pelaku usaha.
- Untuk petani: Menciptakan pasar langsung untuk hasil pertanian dengan harga lebih stabil.
Respon Masyarakat dan Evaluasi
Kepala Bidang Ketahanan Pangan DKPP, drh. Welas Wahyu Widayanti, mengungkapkan bahwa antusiasme warga terlihat dari:
- 500 orang antri sejak pukul 05.00 WIB
- Stok 80% habis terjual dalam 2 jam pertama
- 90% responden menyatakan puas dalam survei cepat
“Ini pertama kalinya kami melihat sebagian besar warga membeli produk UMKM, bukan hanya kebutuhan pokok,” tambah Welas.
Tantangan dan Rencana Ke Depan
Pemkab Jember mengakui beberapa hambatan:
- Lokasi terbatas – hanya mampu melayani 15 desa per bulan
- Ketergantungan pada pasokan dari luar daerah saat musim tanam
- Keterlibatan UMKM masih sekitar 40% dari total usaha
Rencana evaluasi akan mencakup:
- Survei kepuasan pelanggan
- Analisis dampak terhadap harga pasar
- Perluasan kerja sama dengan BUMDes
Kronologi Kegiatan
Februari 2026 – Rapat koordinasi antar-dinas
20 Februari – Pengadaan barang dan logistik
17 Februari – Pelaksanaan pasar murah di Desa Manggisan
18 Februari – Evaluasi awal dan rencana lokasi berikutnya
Program ini menjadi bukti komitmen Pemkab Jember dalam menjawab tantangan ketahanan pangan era krisis global. Dengan pendekatan terpadu yang menggabungkan bantuan langsung dan penguatan ekonomi lokal, Jember menunjukkan model inovatif yang bisa diadopsi daerah lain.
Artikel ini dipublikasikan oleh Plat Merah.
Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.






