Selamatan Temas ke-172 Perkuat Syukur dan Gotong Royong Warga
Konteks dan Latar Belakang Selamatan Temas
Plat Merah – Kelurahan Temas di Kota Batu memiliki sejarah panjang dalam melestarikan tradisi budaya. Selamatan Temas, yang tahun ini memasuki edisi ke-172, adalah salah satu warisan budaya yang terus dijaga oleh masyarakat setempat. Tradisi ini tidak hanya menjadi momentum spiritual dan sosial, tetapi juga bentuk ekspresi kecintaan terhadap lingkungan. Dengan tema “Hormati Bumi, Kejarlah Langit”, acara ini menggabungkan nilai-nilai tradisional dengan semangat pembangunan modern.
Peran Wakil Wali Kota dan Pesan Penting
Wakil Wali Kota Batu, Heli Suyanto, menghadiri Kirab Tumpeng sebagai bagian dari rangkaian acara. Dalam sambutannya, Heli menekankan pentingnya pelestarian budaya sebagai fondasi pembangunan berkelanjutan. “Menghormati bumi berarti menjaga sumber air, lahan pertanian, dan lingkungan yang menjadi penopang kehidupan. Sementara mengejar langit adalah semangat untuk terus belajar, berinovasi, dan meningkatkan kesejahteraan tanpa meninggalkan nilai-nilai luhur,” ujarnya.
Kronologi dan Highlights Acara
Acara dimulai dengan kirab tumpeng yang diikuti oleh ribuan warga. Tumpeng yang diusung menggambarkan simbol keberkahan alam dan syukur masyarakat. Berikut kronologinya:
- 07.00 WIB: Pemukulan gong oleh Ketua Panitia membuka acara.
- 08.30 WIB: Kirab tumpeng melewati jalur utama Kelurahan Temas.
- 10.00 WIB: Pembacaan doa dan sambutan oleh tokoh masyarakat.
- 12.00 WIB: Penyajian tumpeng sebagai simbol rasa syukur.
Data dan Dampak Pemilihan Tradisi
Acara ini tidak hanya sekadar ritual tahunan, tetapi juga memiliki dampak nyata bagi masyarakat. Berikut data yang merepresentasikan kontribusi Selamatan Temas:
| Indikator | Capaian Tahun Ini (2026) | Rata-Rata Tahun Lalu |
|---|---|---|
| Jumlah Peserta Kirab | 2.500 peserta | 2.200 peserta |
| Volume Hasil Bumi yang Dipersembahkan | 1,5 ton | 1,2 ton |
| Partisipasi Anak Muda | 35% | 28% |
Peningkatan partisipasi generasi muda menjadi indikator kuat bahwa nilai-nilai tradisi semakin disadari pentingnya oleh kalangan usia produktif.
Perspektif Sosial dan Lingkungan
Tradisi Selamatan Temas memiliki dua dimensi penting: sosial dan lingkungan. Dari sisi sosial, acara ini mempererat ikatan kekeluargaan yang selama ini menjadi pilar masyarakat Kota Batu. Sementara dari aspek lingkungan, pemerintah setempat menggandeng kelompok petani untuk menanam pohon setelah acara berlangsung. “Kita tidak hanya menyelamati, tetapi juga bertindak konkret melalui reboisasi lahan kritis,” ujar Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Batu.
Tantangan dan Peluang Masa Depan
Melestarikan tradisi di era modern tidak selalu mudah. Ancaman dari urbanisasi dan pengaruh globalisasi membuat generasi muda cenderung lebih tergoda untuk meninggalkan budaya lokal. Namun, inisiatif seperti ini menunjukkan bahwa tradisi bisa diberdayakan sebagai alat edukasi. Dengan mengemas acara dalam format yang menarik—seperti kirab tumpeng yang dikombinasikan dengan seni modern—masyarakat muda tetap tertarik untuk terlibat.
Kontribusi terhadap Kota Batu
Selamatan Temas juga berdampak positif pada pariwisata lokal. Wisatawan yang datang untuk menyaksikan acara ini meningkatkan perekonomian warga sekitar yang menjual makanan khas dan hasil bumi. “Kita punya pendapatan tambahan dari penjualan kerajinan dan makanan tradisional,” ujar Ibu Siti, warga Kelurahan Temas.
Kesadaran Budaya dan Peran Pemerintah
Pemerintah Kota Batu secara proaktif mendukung pelestarian tradisi ini melalui anggaran khusus sebesar Rp 2 miliar per tahun untuk pengembangan budaya lokal. Angka ini menunjukkan komitmen pemerintah dalam menjaga warisan budaya sebagai modal sosial masyarakat. Selain itu, pemerintah juga bekerja sama dengan perguruan tinggi untuk mendokumentasikan sejarah dan praktik adat secara akademis.
Kirab tumpeng yang diwarnai dengan tarian tradisional dan musik daerah menjadi bukti bahwa budaya lokal bisa tetap relevan di era modern. Dengan semangat gotong royong yang terus diperbarui, Selamatan Temas tidak hanya merayakan masa lalu, tetapi juga membangun fondasi untuk masa depan yang lebih baik.
Inilah mengapa acara ini lebih dari sekadar ritual tahunan. Ini adalah manifestasi dari kearifan lokal yang beradaptasi dengan kebutuhan zaman, sekaligus tetap menjaga akar budaya yang telah diwarisi dari generasi ke generasi.
Artikel ini dipublikasikan oleh Plat Merah.
Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.













