Mahasiswa Kukerta UNRI Tanam Mangrove Cegah Abrasi Selatbaru Bersama
Plat Merah –
Latar Belakang Abrasi di Pesisir Bengkalis
Kabupaten Bengkalis, yang terletak di ujung paling utara Provinsi Riau, telah lama menghadapi ancaman abrasi yang menggerus garis pantai hingga 30 meter per tahun. Data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat bahwa 15 desa di wilayah ini berada dalam zona risiko tinggi abrasi. Selatbaru, salah satu desa pesisir yang paling terdampak, kehilangan sekitar 10 hektare lahan pertanian dan perikanan masyarakat sejak 2020.
Kolaborasi Mahasiswa dan Masyarakat Lokal
Kegiatan penanaman mangrove di Desa Selatbaru, yang berlangsung pada Minggu (12/7/2026), melibatkan 45 mahasiswa Kukerta UNRI dan 30 warga setempat. Dalam dua hari sebelum pelaksanaan, tim melakukan survei lapangan dan uji kelayakan tanah di 3 titik rawan abrasi.
| Jumlah Mangrove (Stek) | Lokasi | Panjang Garis Pantai |
|---|---|---|
| 2.500 | Pantai Timur Desa | 300 meter |
| 1.800 | Pantai Barat Teluk | 250 meter |
Kontribusi Ilmiah dan Edukasi
“Kami tidak hanya menanam pohon, tetapi juga memetakan area abrasi menggunakan drone dan aplikasi GIS,” ujar Ketua Tim Kukerta Muhammad Azlan. Mahasiswa juga mengadakan 3 sesi pelatihan bagi masyarakat tentang teknik pemeliharaan mangrove, manajemen abrasi, dan dampak iklim terhadap garis pantai.
Manfaat Mangrove untuk Lingkungan
- Menyerap CO2 hingga 1 ton per hektare per tahun
- Mengurangi kecepatan gelombang hingga 60%
- Menjadi habitat 250 spesies biota pesisir
Partisipasi Dosen dan Pemangku Kepentingan
Dosen Pembimbing Dr. Fajriani Ananda menegaskan bahwa program ini terintegrasi dengan kurikulum UNRI. “Kami kembangkan modul pengabdian yang mengacu pada standar nasional dan internasional,” katanya. Pemerintah Kabupaten Bengkalis menyediakan 500 stek mangrove jenis Rhizophora apiculata yang tahan terhadap asin.
Rencana Jangka Panjang
Kelompok Peduli Lingkungan Alam Rindang berencana memperluas area penanaman ke 3 desa tetangga pada 2027. Dalam 5 tahun, mereka targetkan mencakupi 50 hektare kawasan rawan abrasi.
Dampak Sosial dan Ekonomi
Inisiatif ini telah menciptakan 15 wirausaha lokal yang menjual bibit mangrove. Harga pasar untuk stek siap tanam berkisar Rp 25.000-Rp 35.000 per unit. Selain itu, kegiatan ini meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya ekosistem pesisir. Survei internal menunjukkan 87% responden berpendapat bahwa abrasi mulai “terlihat terkendali”.
Perspektif Nasional
Inisiatif ini sesuai dengan Program Mangrove Nasional yang diusung Kementerian Kelautan dan Perikanan. Pada 2026, pemerintah menargetkan penanaman 1 juta pohon mangrove di 34 provinsi. Keterlibatan generasi muda dalam proyek lingkungan menjadi kunci keberlanjutan, terutama mengingat 60% wilayah pesisir Indonesia rentan abrasi.
Pelajaran untuk Generasi Muda
Ketua Kelompok Alam Rindang Arjudin berharap kegiatan ini menjadi inspirasi. “Kami ingin menunjukkan bahwa solusi lingkungan tidak harus mahal atau teknis. Setiap warga, termasuk mahasiswa, bisa berkontribusi dengan ilmu dan keterampilan yang dimiliki,” imbuhnya. Tahun ini, 12 universitas di Riau akan mengadopsi model kerja sama serupa di 18 desa pesisir.
Visi 2030: Ekosistem Pesisir Berkelanjutan
Dengan kolaborasi antara pendidikan, pemerintah, dan masyarakat, inisiatif ini berkontribusi pada target PBB SDGs 14 (Lautan Bernilai) dan 13 (Aksi Iklim). Tim UNRI berkomitmen untuk memantau pertumbuhan mangrove setiap 6 bulan selama 5 tahun ke depan. Data hasil pemantauan akan dibagi dengan lembaga penelitian nasional.
Artikel ini dipublikasikan oleh Plat Merah.
Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.













