PTBA Resmikan NUSA di Pasir Sakti, Perkuat Rehabilitasi Mangrove Berbasis Masyarakat

PTBA Resmikan NUSA di Pasir Sakti, Perkuat Rehabilitasi Mangrove Berbasis Masyarakat

Lampung Timur Jadi Pusat Inovasi Ekosistem Mangrove

Plat Merah – Pada 5 Juli 2026, PT Bukit Asam (Persero) Tbk (PTBA), perusahaan energi anggota Holding BUMN MIND ID, meresmikan fasilitas NUSA (Nursery Mangrove Unggul Semai Adaptif) di Pasir Sakti, Lampung Timur. Inisiatif ini merupakan langkah strategis untuk memperkuat rehabilitasi mangrove skala besar dengan pendekatan partisipatif masyarakat. Dusun Pulau Waru, Desa Purworejo, dipilih karena wilayah ini telah menjadi model sukses transformasi ekosistem pesisir.

NUSA: Revolusi Pembibitan Mangrove Adaptif

Sustainable Community Development Section Head PTBA, Ajis Purnomo, menjelaskan bahwa NUSA tidak sekadar pusat persemaian, melainkan ekosistem inovasi berkelanjutan. “NUSA memadukan teknologi SAM-SAKTI (Sistem Adaptif Mangrove Semai Adaptif dan Kreatif) dengan kearifan lokal masyarakat. Metode ini memanfaatkan pola pasang surut alami untuk menyuplai air ke area persemaian, sehingga menghasilkan bibit lebih tangguh,” paparnya.

Keunggulan utama NUSA terletak pada pendekatan 3P (Partisipatif, Partemuan, dan Prioritas):

  • Partisipatif: Keterlibatan aktif 200 lebih warga Desa Purworejo dalam pelatihan.
  • Partemuan: Kolaborasi dengan 15 institusi akademik dan 8 BUMN.
  • Prioritas: Fokus pada 11 spesies mangrove unggul sesuai kondisi kawasan.

Kapabilitas Produksi dan Teknologi Unggulan

Ketua Kelompok Tani Hutan Mutiara Hijau I, Samsudin, memaparkan pencapaian teknologi:

Spesies Produksi Tahunan Tingkat Kelangsungan
Rhizophora apiculata 180.000 98%
Rhizophora mucronata 150.000 97%
Bruguiera gymnorrhiza 80.000 96%
Total 500.000 95%

“Sistem SAM-SAKTI kami telah mengurangi biaya pemeliharaan hingga 40% dibanding metode konvensional. Dengan 30% peningkatan ketahanan bibit, kami optimis kapasitas produksi bisa mencapai 700.000 bibit/tahun,” tambah Samsudin.

Transformasi Eko-Sosial Pasir Sakti

Wilayah Pasir Sakti yang dulunya menderita abrasi parah (2007-2019) kini menjadi kawasan hijau produktif. Data dari BA-MAXI menunjukkan:

Indikator Sebelum Program Saat Ini
Kawasan Mangrove 12 Ha 250 Ha
Pendapatan Masyarakat RP. 2 juta/hh RP. 6,5 juta/hh
Konservasi Pasir 0% 85%

Bisnis Hijau dan Tantangan Ke Depan

PTBA mengakui tantangan utama adalah menjamin penyerapan bibit mangrove. Untuk itu, perusahaan telah:

  1. Membangun kemitraan dengan 12 kabupaten/kota di Sumatera.
  2. Mendapat dukungan dana dari BNPB untuk penanggulangan abrasi.
  3. Memasukkan produk NUSA ke program CSR 27 perusahaan multinasional.

“Kami berencana memperluas NUSA model ke 5 provinsi dalam 3 tahun ke depan. Ini bukan hanya soal lingkungan, tapi juga investasi jangka panjang untuk keamanan pangan dan energi,” tutup Ajis.

Peresmian NUSA menandai peralihan paradigma dari eksploitasi ke regenerasi. Dengan memadukan teknologi modern dan kearifan tradisional, inisiatif ini memberikan harapan baru bagi 15 juta penduduk pesisir Indonesia yang terancam perubahan iklim.

Artikel ini dipublikasikan oleh Plat Merah.

Tinggalkan Balasan

Tutup