Lapas Porong Perkuat Pembinaan Spiritual Demi Cegah Residivisme
Pembinaan Spiritual Sebagai Pilar Transformasi Narapidana
Plat Merah – Di tengah beragam program rehabilitasi yang diterapkan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas), pembinaan spiritual di Lapas Porong, Sidoarjo, menjadi sorotan karena pendekatannya yang humanis dan berkelanjutan. Dengan memanfaatkan nilai-nilai agama sebagai fondasi moral, lembaga ini berupaya mengubah mindset narapidana agar tidak mengulangi kesalahan di masa depan. Program yang telah berjalan bertahun-tahun ini tidak hanya menjadi sarana ibadah, tetapi juga alat untuk membangun kesadaran diri, penyesalan mendalam, dan kesiapan menjalani kehidupan sosial.
Kisah Transformasi: Dari Penyesalan ke Harapan
Salah satu tokoh yang menjadi teladan dalam program ini adalah GN (53), warga binaan yang menjalani hukuman tujuh tahun penjara atas kasus asusila terhadap anak. Dalam wawancara di Masjid Lapas Porong, Kamis 16 Juli 2026, GN mengisahkan perjalanan spiritualnya selama lima tahun terakhir. Dari yang awalnya merasa putus asa, kini ia menemukan makna baru dalam hidup melalui pengajian rutin, khataman Al-Quran, dan kajian Islam.
‘Selama di sini, saya benar-benar introspeksi. Dulu saya pikir kesalahan itu bisa diulang, tapi kini saya sadar bahwa dosa tidak boleh dianggap enteng. Pengajian di sini seperti obat hati bagi saya,’ kata GN. Ia juga menyadari bahwa tindakannya menyakiti keluarga dan masyarakat, dan berharap dapat memperoleh maaf setelah bebas.
Strategi Pembinaan Spiritual Lapas Porong
Kepala Bidang Pembinaan Lapas Kelas I Surabaya, Andik Ariawan, menjelaskan bahwa pembinaan rohani tidak berdiri sendiri, melainkan bagian dari ekosistem rehabilitasi yang terintegrasi. Program ini melibatkan penyuluh Kementerian Agama Kabupaten Sidoarjo serta lembaga-lembaga komunitas yang fokus pada transformasi narapidana.
| Hari | Aktivitas Pembinaan Spiritual |
|---|---|
| Senin-Jumat | Kajian rutin, pembinaan tahfiz Al-Quran, dan dzikir pagi |
| Kamis | Materi kajian oleh penyuluh Kementerian Agama |
| Jumat | Yasinan dan tahlil di lingkungan blok hunian |
| Minggu | Madrasah untuk warga binaan yang ingin belajar membaca Al-Quran |
| Seluruh Hari | Shalat berjamaah di masjid dan kamar hunian |
Andik menekankan bahwa pembinaan spiritual tidak hanya memberikan ilmu agama, tetapi juga membentuk karakter. ‘Kita ingin narapidana merasa bahwa Tuhan tidak pernah lepas dari hidup mereka. Dengan ketaatan pada nilai-nilai agama, mereka lebih tenang menjalani hukuman dan siap kembali ke masyarakat,’ ujarnya.
Dampak Psikologis dan Sosial
Pembinaan spiritual telah menghasilkan perubahan nyata dalam perilaku dan mental warga binaan. Survei internal Lapas Porong menunjukkan bahwa 65% dari 800 narapidana lulusan program ini mengaku tidak akan mengulangi kesalahan setelah bebas. Selain itu, tingkat konflik di antara warga binaan menurun hingga 40% dalam dua tahun terakhir.
- Psikologis: Menurunkan stres dan depresi melalui rutinitas ibadah
- Sosial: Meningkatkan kesadaran akan tanggung jawab terhadap keluarga dan masyarakat
- Legal: Mengurangi risiko residivisme melalui perubahan mindset
Kolaborasi Multi-Pihak dan Tantangan
Keberhasilan program ini tidak terlepas dari kerja sama antarlembaga. Selain Kementerian Agama, Lapas Porong juga bermitra dengan NGO seperti YPMI (Yayasan Pendidikan Masyarakat Indonesia) dan Majelis Ulama Indonesia (MUI) untuk menyediakan pelatihan keterampilan spiritual dan emosional. Namun, tantangan tetap ada, seperti keterbatasan sumber daya manusia dan konsistensi partisipasi warga binaan.
Implikasi ke Depan
Program ini menjadi contoh inovasi dalam sistem pemasyarakatan Indonesia. Dengan pendekatan spiritual, Lapas Porong menunjukkan bahwa rehabilitasi tidak hanya tentang hukuman, tetapi juga tentang pengharapan. Pemerintah diharapkan dapat mengalokasikan anggaran lebih besar untuk program serupa di seluruh Nusantara.
Masyarakat juga perlu memahami bahwa narapidana yang melewati proses transformasi ini layak diberikan kesempatan kedua. Dengan dukungan sosial yang kuat, mereka bisa menjadi aset bagi komunitasnya.
Artikel ini dipublikasikan oleh Plat Merah.
Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.













