Bencana Indonesia: Memahami Wajah Masyarakat Risiko dalam Gempa dan Karhutla
PlatMerah.com – Indonesia kembali menghadapi rentetan bencana alam dan sosial, dari gempa bumi berkekuatan M7,7 di Nusa Tenggara Timur hingga kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda berbagai wilayah, termasuk Taman Nasional Way Kambas di Lampung Timur. Peristiwa ini menegaskan kerentanan masyarakat Indonesia terhadap risiko bencana, meski kemajuan teknologi telah memungkinkan pemantauan dan mitigasi yang lebih baik.
Fenomena Bencana dan Masyarakat Risiko
Bencana alam seperti gempa dan karhutla seringkali dianggap sebagai peristiwa murni alamiah. Namun, pandangan ini kurang lengkap jika tidak mempertimbangkan faktor sosial yang menentukan dampak dan korban yang terjadi. Gempa yang dihantam dengan infrastruktur yang kurang memadai, kesiapan evakuasi yang rendah, dan distribusi bantuan yang lambat akan menimbulkan kerusakan dan penderitaan yang lebih besar.
Karhutla juga bukan sekadar hasil dari musim kemarau atau kelalaian manusia, melainkan mencerminkan bagaimana pengelolaan lahan dan kebijakan negara dalam mengantisipasi risiko tersebut. Dalam konteks ini, bencana harus dilihat sebagai hasil interaksi antara faktor alam dan sosial.
Konsep Masyarakat Risiko menurut Ulrich Beck
Sosiolog Jerman Ulrich Beck memperkenalkan konsep risk society atau masyarakat risiko, yang relevan untuk memahami situasi bencana di Indonesia. Menurut Beck, masyarakat modern menghadapi risiko baru yang timbul sebagai konsekuensi perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan industrialisasi. Batas antara bencana alam dan risiko yang dihasilkan manusia menjadi semakin kabur.
Beck menyebut fenomena ini sebagai reflexive modernization, yaitu ketika modernitas menghadapi konsekuensi dari perkembangan dirinya sendiri. Dengan kata lain, kemajuan teknologi tidak otomatis menghilangkan risiko, melainkan memunculkan tantangan baru dalam pengelolaan risiko tersebut.
Faktor Sosial dalam Dampak Bencana
Dampak bencana tidak dirasakan secara merata oleh seluruh masyarakat. Kelompok dengan sumber daya ekonomi lebih besar memiliki kemampuan untuk mengurangi dampak, seperti mengungsi sementara, memperbaiki rumah, atau menghentikan aktivitas tanpa kehilangan segalanya. Sebaliknya, kelompok kurang mampu sering menghadapi kehilangan yang lebih besar, termasuk rumah, pekerjaan, dan akses terhadap kebutuhan dasar.
Ketimpangan sosial ini memperlihatkan wajah asli masyarakat risiko, di mana risiko berinteraksi dengan ketidaksetaraan yang sudah ada sebelum bencana terjadi. Oleh karena itu, ketangguhan menghadapi bencana tidak hanya bergantung pada kekuatan alam, tetapi juga kapasitas sosial masyarakat.
Dari Penanggulangan Menuju Pengelolaan Risiko
Kebijakan penanggulangan bencana di Indonesia selama ini lebih banyak fokus pada penanganan pasca-bencana, seperti pengiriman bantuan dan pembangunan pengungsian. Namun, paradigma masyarakat risiko menuntut pendekatan yang lebih preventif, yaitu kemampuan mengantisipasi dan mengelola risiko sebelum menjadi bencana besar.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) telah mengembangkan berbagai upaya kesiapsiagaan, pemantauan, pemetaan wilayah rawan, dan deteksi dini, khususnya untuk karhutla. Pendekatan ini menekankan pentingnya sistem yang mampu mengenali risiko secara cepat dan efektif.
Langkah Penguatan Masyarakat Risiko
- Membangun infrastruktur yang tahan bencana dan tata ruang yang aman.
- Mengembangkan sistem peringatan dini yang merata dan dapat diakses seluruh lapisan masyarakat.
- Meningkatkan akses informasi dan edukasi kesiapsiagaan bencana.
- Mengakomodasi kelompok rentan dalam kebijakan dan program mitigasi risiko.
Menjadi Masyarakat yang Lebih Tangguh
Teori masyarakat risiko mengajak kita untuk melihat bencana sebagai hasil interaksi antara alam dan cara manusia membangun masyarakatnya. Modernitas memberikan alat untuk mengendalikan banyak hal, namun juga menghadirkan konsekuensi yang tidak sepenuhnya dapat dikendalikan.
Oleh karena itu, pertanyaan penting bukan hanya tentang penyebab bencana, tetapi bagaimana membangun masyarakat yang mampu hidup berdampingan dengan risiko dan meminimalkan dampaknya. Dengan memahami dan mengelola risiko secara lebih baik, Indonesia dapat mengurangi penderitaan akibat bencana dan meningkatkan ketangguhan sosialnya di masa depan.
Artikel ini dipublikasikan oleh Plat Merah.
Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.











