Tanjungbalai Dorong Penguatan UMKM Melalui PRSU ke-50: Kekayaan Budaya dan Inovasi Ekonomi Kreatif

Tanjungbalai Dorong Penguatan UMKM Melalui PRSU ke-50: Kekayaan Budaya dan Inovasi Ekonomi Kreatif

Plat Merah

Pembukaan PRSU ke-50: Momentum Penguatan Ekonomi Kreatif

Pekan Raya Sumatera Utara (PRSU) ke-50 yang berlangsung dari 3 Juli hingga 2 Agustus 2026 di Medan menjadi wadah penting bagi 33 kabupaten/kota se-Sumatera Utara untuk memamerkan kekayaan budaya, produk UMKM, dan potensi investasi. Kota Tanjungbalai, yang terletak di perbatasan Sumut-Sumbar, mengambil peran aktif dalam pameran tahunan ini. Wali Kota Mahyaruddin Salim menyatakan bahwa PRSU bukan sekadar ajang promosi, tetapi juga sarana strategis untuk membangun ekosistem ekonomi kreatif yang inklusif.

“Kita harus memanfaatkan PRSU sebagai jembatan antara tradisi lokal dengan pasar modern,” ujar Mahyaruddin saat membuka stan Tanjungbalai. “UMKM tidak hanya menjaga nilai budaya, tetapi juga menciptakan peluang usaha yang berkelanjutan.”

“Harmoni Emas”: Simbol Keberagaman dan Kekuatan Ekonomi

Tema “Harmoni Emas” yang diusung PRSU ke-50 mencerminkan semangat integrasi antara keberagaman budaya dan tekad meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Mahyaruddin menegaskan bahwa keberagaman ini menjadi kekuatan kompetitif. “Tidak ada yang bisa mengalahkan kekuatan kolaborasi dari berbagai latar belakang,” katanya.

Tema ini diimplementasikan melalui pameran yang menampilkan 87 stan UMKM dari seluruh Sumatera Utara, dengan fokus pada tiga pilar utama: ekonomi kreatif (45%), pariwisata (30%), dan pertanian inovatif (25%). Tanjungbalai, misalnya, menampilkan inovasi seperti kain ecoprint dari daun alam dan songket berwarna emas yang dikombinasikan dengan teknik digital printing.

Portofolio Produk UMKM Tanjungbalai: Dari Warisan Budaya ke Inovasi Modern

Paviliun Tanjungbalai di PRSU menampilkan kurasi 123 produk unggulan yang terbagi ke dalam tiga kategori utama:

KategoriJumlah ProdukContoh Produk
Ekonomi Kreatif52Ecoprint, songket, karung anyaman bambu
Kuliner Tradisional48Keripik ikan teri, tauco, kerupuk singkong gula aren
Kerajinan Modern23Tas dari batok kelapa, gelang kerang, lampu dari daun aren

Salah satu inovasi yang mencuri perhatian adalah “Tanjak Modern”, topi adat Melayu yang dikembangkan dengan desain minimalis untuk pasar internasional. Produk ini hasil kolaborasi Desa Namo Bintang dan Lembaga Pendidikan Islam yang memadukan teknik anyaman tradisional dengan bahan daur ulang.

Dukungan Pemerintah: Dari Pelatihan hingga Akses Pasar

Partisipasi UMKM Tanjungbalai di PRSU didukung oleh program berkelanjutan dari pemerintah daerah:

  • Training center digital marketing (120 peserta sejak 2023)
  • Subsidi bahan baku 30% untuk pengusaha UMKM di bawah 50 tahun
  • Kemitraan dengan perusahaan e-commerce lokal untuk distribusi produk

Dinas Koperasi dan UMKM Tanjungbalai juga mencatat pertumbuhan 18% jumlah pengusaha wanita dalam dua tahun terakhir, yang menjadi fokus PRSU 2026 untuk menekankan inklusivitas gender.

Kronologi Strategi Pemkot Tanjungbalai di PRSU 2026

BulanAksi StrategisHasil
JanuariPemetaan 30 UMKM berpotensi17 perusahaan terpilih untuk pelatihan
MeiSimulasi pameran di Pasar 122.300 transaksi dalam 3 hari
JuliPartisipasi PRSU ke-50Penjualan Rp1,2 miliar selama pameran

Dampak Jangka Panjang untuk Ekonomi Sumatera

Analisis dari Pusat Studi Ekonomi Kreatif Sumut menunjukkan bahwa partisipasi UMKM di PRSU memberikan dampak multiplikatif:

  • Penyerapan tenaga kerja 40% dari total peserta UMKM
  • Peningkatan eksportabilitas produk hingga 25%
  • Kenaikan kunjungan wisata budaya 15% di kota peserta

Kota Tanjungbalai berencana mengulangi keberhasilan ini dengan membangun pusat pelatihan UMKM di kawasan industri yang akan beroperasi 2027. “Kita harus menjadikan PRSU sebagai pemicu (catalyst) untuk pertumbuhan ekonomi daerah,” kata Mahyaruddin, meniru istilah yang kerap digunakan dalam forum internasional.

Penutup

Dibalik pameran yang penuh warna, PRSU 2026 mencerminkan pergeseran paradigma pembangunan daerah. Tanjungbalai menunjukkan bahwa kekayaan budaya tidak harus menjadi hal yang dilestarikan di museum, tetapi bisa dikembangkan sebagai aset ekonomi yang dinamis. Dengan pendekatan kolaboratif antara pemerintah, pelaku UMKM, dan komunitas, Sumatera Utara sedang membangun fondasi ekonomi kreatif yang bisa bersaing di kancah nasional, bahkan internasional. Pameran ini bukan akhir, melainkan awal dari perjalanan panjang untuk mengubah potensi lokal menjadi kekuatan global.

Artikel ini dipublikasikan oleh Plat Merah.

Tinggalkan Balasan

Tutup