Prioritas Infrastruktur di Air Putih Ulu: Jalan Produksi, Drainase TK, dan Jalan Lingkungan Jadi Sorotan DPRD Sumsel

Prioritas Infrastruktur di Air Putih Ulu: Jalan Produksi, Drainase TK, dan Jalan Lingkungan Jadi Sorotan DPRD Sumsel

Latihan Reses DPRD Sumsel Dapil IX di Desa Air Putih Ulu

Plat Merah – Pada tanggal 3 hingga 10 Juli 2026, enam anggota DPRD Sumatera Selatan Dapil IX menggelar kegiatan reses di Kantor Desa Air Putih Ulu, Kecamatan Plakat Tinggi, Kabupaten Musi Banyuasin. Kegiatan ini bukan sekadar agenda formal, melainkan forum dialog langsung antara wakil rakyat dan masyarakat yang mengungkapkan kebutuhan mendesak di bidang infrastruktur, pertanian, dan pendidikan. Para peserta terdiri dari Alwis Gani (Gerindra), Abusari, SH, MSi (NasDem), Dr. Tamrin, MSi (Golkar), Susy Imelda Frederika (PDI‑Perjuangan), M. Hasan Haikal (Kebangkitan Nusantara), dan Andi Rizkiyansyah, SIP (Golkar). Kehadiran Kepala Desa Bunyamin, Babinsa, Bhabinkamtibmas, tokoh agama, perwakilan Dasa Wisma, serta kelompok tani menegaskan pentingnya sinergi lintas sektor.

Daftar Anggota DPRD yang Hadir

NamaFraksi
Alwis GaniGerindra
Abusari, SH, MSiNasDem
Dr. Tamrin, MSiGolkar
Susy Imelda FrederikaPDI‑Perjuangan
M. Hasan HaikalKebangkitan Nusantara
Andi Rizkiyansyah, SIPGolkar

Aspirasi Utama Masyarakat Air Putih Ulu

Selama dialog terbuka, warga mengemukakan tiga agenda prioritas yang saling terkait: pembangunan jalan produksi pertanian, perbaikan drainase di TK Aisyah, dan pembangunan jalan lingkungan (cor beton) di Dusun 8 dan Dusun 9. Setiap agenda memiliki latar belakang historis dan implikasi ekonomi yang signifikan.

Jalan Produksi Pertanian

Kelompok tani Margo Tani, dipimpin oleh Budiantoro, menegaskan bahwa sebagian besar penduduk desa bergantung pada perkebunan kelapa sawit dan karet. Selama musim panen, truk pengangkut harus melewati jalur tanah berlumpur yang sering terendam, menyebabkan keterlambatan distribusi, peningkatan biaya bahan bakar, dan kerusakan kendaraan. Budiantoro mencatat bahwa rata‑rata waktu tempuh dari kebun ke pelabuhan terdekat meningkat 30% selama hujan deras, mengurangi margin petani secara signifikan.

Drainase di TK Aisyah

Komariah, anggota PKK sekaligus kepala TK Aisyah di Desa Sialang Agung, mengungkapkan bahwa genangan air setiap pagi menghambat proses belajar mengajar. Sekolah yang melayani lebih dari 150 anak mengalami kerusakan lantai dan peralatan belajar. Menurut data Dinas Pendidikan setempat, tingkat absen siswa pada bulan Juni 2026 naik 12% akibat kondisi tersebut.

Jalan Lingkungan Dusun 8 & 9

Meri, warga Dusun 8, menyoroti kurangnya akses jalan cor beton yang menghubungkan kedua dusun dengan pusat desa. Jalan setapak berkerikil kini tidak dapat menampung kendaraan roda empat, memaksa warga mengandalkan sepeda motor yang sering terperosok. Akibatnya, layanan kesehatan darurat mengalami penundaan, terutama pada kasus kebakaran atau kecelakaan.

Kronologi Kegiatan Reses

  • 3 Juli 2026: Kedatangan anggota DPRD di Kantor Desa Air Putih Ulu, pembukaan acara oleh Kepala Desa Bunyamin.
  • 4‑5 Juli 2026: Sesi tanya‑jawab dengan warga, kelompok tani, dan tokoh agama; pengumpulan data kebutuhan infrastruktur.
  • 6 Juli 2026: Kunjungan lapangan ke TK Aisyah untuk melihat kondisi drainase secara langsung.
  • 7‑8 Juli 2026: Survey jalur produksi pertanian bersama Budiantoro dan tim teknis Dinas Pekerjaan Umum.
  • 9 Juli 2026: Penyusunan rangkuman aspirasi, diskusi internal DPRD, dan penetapan prioritas tindak lanjut.
  • 10 Juli 2026: Penutupan reses, penyerahan rekomendasi kepada Pemerintah Kabupaten Musi Banyuasin.

Dampak Potensial dan Implikasi Kebijakan

Jika usulan yang diajukan dapat direalisasikan, dampaknya akan meluas ke beberapa sektor:

  1. Pertanian: Jalan produksi beraspal akan mempersingkat waktu distribusi hasil panen hingga 25%, meningkatkan pendapatan petani dan menurunkan harga jual di pasar lokal.
  2. Pendidikan: Drainase yang memadai di TK Aisyah akan mengurangi absen siswa, meningkatkan kualitas belajar, dan menurunkan biaya perbaikan fasilitas.
  3. Kesehatan dan Keamanan: Jalan lingkungan cor beton mempercepat akses tim medis dan pemadam kebakaran, mengurangi risiko fatalitas pada keadaan darurat.
  4. Pembangunan Ekonomi Lokal: Infrastruktur yang lebih baik menarik investasi mikro‑usaha, seperti warung kopi, toko pertanian, dan usaha transportasi.

Koordinasi Lintas Lembaga

DPRD Sumsel berjanji akan mengkoordinasikan usulan dengan Pemerintah Kabupaten Musi Banyuasin, Dinas Pekerjaan Umum, serta Kementerian Pendidikan untuk drainase. Pendekatan terintegrasi diharapkan dapat mempercepat proses perizinan, alokasi anggaran APBD 2027, dan pelibatan pihak swasta melalui skema Public‑Private Partnership (PPP) bila diperlukan.

Analisis Tantangan Implementasi

Meski agenda tampak jelas, beberapa tantangan perlu diantisipasi:

  • Pembiayaan: Proyek jalan produksi diperkirakan memerlukan Rp 12,5 miliar, sementara anggaran APBD 2026 telah teralokasi pada prioritas lain. Solusi potensial meliputi pencarian dana hibah dari Pemerintah Pusat atau lembaga donor.
  • Geografis: Tanah di daerah Air Putih Ulu cenderung berpasir, memerlukan teknik pengerasan khusus untuk menghindari retakan pada jalan beton.
  • Keterlibatan Masyarakat: Keberhasilan proyek sangat tergantung pada partisipasi warga dalam pemeliharaan, terutama pada sistem drainase yang memerlukan pembersihan rutin.

Harapan Masyarakat dan Langkah Selanjutnya

Warga Air Putih Ulu menaruh harapan tinggi bahwa suara mereka akan diteruskan hingga tingkat provinsi. “Kami sudah menunggu bertahun‑tahun, semoga jalan produksi yang baru dapat mengantar hasil panen kami ke pasar tanpa hambatan,” ujar Budiantoro. Komariah menambahkan, “Anak‑anak kami layak belajar di lingkungan yang bersih dan aman.”

Selanjutnya, DPRD Sumsel akan menyusun laporan resmi yang akan diserahkan ke Sekretaris Daerah Musi Banyuasin pada pertengahan Agustus 2026. Laporan tersebut akan memuat rekomendasi teknis, estimasi biaya, dan jadwal pelaksanaan fase pertama yang mencakup penyelesaian drainase TK Aisyah sebelum akhir tahun.

Dengan sinergi antara legislatif, eksekutif, dan masyarakat, prioritas infrastruktur di Air Putih Ulu berpotensi menjadi contoh sukses pembangunan berbasis kebutuhan lapangan, sekaligus memperkuat ketahanan ekonomi pedesaan di Sumatera Selatan.

Artikel ini dipublikasikan oleh Plat Merah.

Tinggalkan Balasan

Tutup