Produksi Beras Turun, Kilang Padi di Asahan Kesulitan Dapatkan Gabah
Krisis Pasokan di Kilang Padi Asahan
Plat Merah – Kabupaten Asahan, Sumatera Utara, tengah menghadapi krisis pasokan gabah yang berimbas pada operasional dua kilang padi utama di wilayah tersebut. Tim gabungan Pemerintah Kota Tanjungbalai bersama Satgas Pangan mengungkap fakta ini setelah melakukan inspeksi lapangan ke PT Jampalan Baru dan Kilang Padi AA pada Senin, 6 Juli 2026. Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran terkait stabilitas pasokan beras premium di kawasan Sumatera Utara.
Penyebab Penurunan Produksi
Management Representative PT Jampalan Baru, Khairani, menjelaskan bahwa penurunan produksi beras mencapai 60% dibandingkan tahun sebelumnya. Faktor utama yang menyebabkan krisis pasokan meliputi:
- Menurunnya hasil panen petani akibat curah hujan tidak menentu sepanjang tahun 2025
- Fluktuasi harga gabah yang membuat petani enggan menjual ke pabrikan
- Ketergantungan pada pasokan gabah dari luar daerah yang kini juga mengalami defisit
“Tahun lalu kami masih bisa mengimpor dari Aceh, tapi tahun ini Aceh juga mengalami masalah serupa akibat kekeringan,” ujar Khairani. Stok gabah yang tersisa diperkirakan hanya mampu memenuhi kebutuhan produksi hingga September 2026.
Dampak Terhadap Pasar dan Ekonomi
Pemilik Kilang Padi AA, Ahun, mengungkapkan kerugian hingga 80% dibandingkan tahun lalu. Menurutnya, keputusan tidak membeli gabah dalam jumlah besar saat panen raya akibat harga terlalu tinggi (Rp5.500/kg) justru berujung pada krisis bahan baku saat ini.
| Perbandingan Produksi | 2024 | 2025 | 2026 |
| Produksi Kilang Jampalan Baru (ton/bulan) | 120 | 100 | 45 |
| Produksi Kilang AA (ton/bulan) | 180 | 110 | 30 |
Langkah darurat yang diambil meliputi:
- Mencari pasokan gabah hingga ke Kabupaten Tapanuli Utara dengan biaya angkut meningkat 40%
- Menghentikan sementara produksi beras kemasan 5 kg yang membutuhkan pasokan kontinu
- Meningkatkan harga pembelian gabah hingga Rp6.200/kg untuk menarik petani
Kronologi Kepungan Pasokan
| Tanggal | Peristiwa |
| Januari 2026 | Petani mulai melaporkan hasil panen di bawah rata-rata |
| Februari 2026 | Kilang padi mengalami kenaikan harga gabah hingga 25% |
| Maret 2026 | Penurunan produksi beras premi tercatat mencapai 15% |
| Juni 2026 | Satgas Pangan mencatat stok gabah nasional turun 30% |
| 7 Juli 2026 | Inspeksi ke lapangan mengungkap krisis pasokan |
Implikasi Jangka Panjang
Kondisi ini berpotensi menciptakan gelombang efek dalam perekonomian regional:
- Kenaikan harga beras premi di pasaran hingga 20% dalam 3 bulan mendatang
- Pengangguran sementara di pabrik penggilingan yang terpaksa beroperasi part time
- Penurunan pendapatan petani yang tidak bisa menjual gabah dalam jumlah besar
- Kebijakan pemerintah daerah mempertimbangkan subsidi pengangkutan gabah antar provinsi
Kondisi ini menuntut solusi inovatif dari semua pihak terkait. Pemerintah sedang mempertimbangkan skema bantuan operasional untuk kilang padi yang mampu mempertahankan pasokan, sementara petani diminta untuk mempercepat penanaman musim tanam berikutnya.
Dampak Global
Menariknya, krisis ini juga berdampak pada bisnis ekspor. Impor beras dari Thailand dan Vietnam mulai meningkat karena permintaan domestik yang tidak terpenuhi. Hal ini menimbulkan kekhawatiran di kalangan pemerintah terkait ketergantungan pada pangan impor.
Kondisi ini mengingatkan kita pada situasi serupa tahun 2019 di Pulau Jawa, di mana krisis pasokan pangan memicu kenaikan inflasi hingga 4,2%. Kini, Asahan menjadi peringatan awal bahwa sistem distribusi pangan Indonesia masih rentan terhadap fluktuasi produksi.
Artikel ini dipublikasikan oleh Plat Merah.
Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.













