HKTI Kepri Jajaki Kerja Sama Hilirisasi Kelapa di Bintan
Komitmen HKTI Kepri Dukung Penguatan Sektor Pertanian
Plat Merah – Bintan – Dewan Pimpinan Daerah Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Provinsi Kepulauan Riau kembali menunjukkan komitmen strategisnya dalam transformasi sektor pertanian. Kunjungan kerja ke PT Bionesia Organic Food di kawasan Lobam Industrial Park, Kabupaten Bintan, 7 Juli 2026, menjadi momentum penting bagi pengembangan program hilirisasi kelapa yang telah menjadi agenda prioritas nasional.
Latar Belakang: Potensi Kelapa di Kepri
Kepulauan Riau dikenal sebagai salah satu sentra produksi kelapa terbesar di Indonesia. Dengan luas area perkebunan mencapai 120.000 hektar dan produksi sekitar 8 juta ton per tahun, potensi ekonomi dari komoditas ini belum sepenuhnya dimanfaatkan. Data Kementerian Pertanian menunjukkan bahwa 85% hasil panen kelapa di daerah ini masih diperdagangkan dalam bentuk kopra mentah, sementara hanya 15% yang diolah menjadi produk bernilai tambah.
Kolaborasi Strategis dengan PT Bionesia Organic Food
Dipimpin Sekretaris DPD HKTI Kepri Dr. I Wayan Catra Yasa, kunjungan tersebut melibatkan tim spesialis organisasi pertanian ini. Kepala Bidang OKK DPD HKTI Kepri, Budi Lesmana, menegaskan bahwa inisiatif ini berasal dari amanat Ketua DPD HKTI Kepri sekaligus Wakil Gubernur Kepri, Dr. Nyanyang Haris Pratamura.
“Kolaborasi ini merupakan langkah konkret dalam menjawab tantangan global terhadap komoditas kelapa. Kami ingin membangun ekosistem industri yang mampu mengubah kelapa dari komoditas bahan baku menjadi produk inovatif,” tutur Budi.
Strategi Hilirisasi yang Diusung
Program kerja sama ini menargetkan penguatan empat pilar utama:
- Pengembangan teknologi pengolahan berbasis organik
- Peningkatan nilai tambah melalui diversifikasi produk
- Penguatan kapasitas petani melalui pelatihan manajemen
- Penyusunan regulasi khusus untuk perlindungan harga petani
Prospek Produk Hilir dan Manfaatnya
Analisis Bappenas menyebutkan bahwa hilirisasi kelapa bisa meningkatkan nilai ekonomi hingga 500%. Berikut perbandingan nilai ekonomi berbagai produk olahan:
| Produk | Harga per Kg (Mentah) | Harga per Kg (Olahan) | NILAI TAMBAH |
|---|---|---|---|
| Kopra | Rp 9.500 | Rp 75.000 (VCO) | 8x |
| Arang aktif | Rp 12.000 | Rp 120.000 | 10x |
| Cocopeat | Rp 8.000 | Rp 90.000 | 11x |
Kronologi Langkah Strategis
- 2026: Penandatanganan nota kesepahaman kerja sama
- 2027: Pemetaan sentra produksi dan pelatihan teknis
- 2028: Pembangunan pilot plant pengolahan
- 2029: Ekspor pertama produk olahan ke pasar regional
- 2030: Pengembangan kawasan industri terpadu
Dampak Strategis bagi Ekosistem Petani
Program ini diharapkan menghasilkan dampak multidimensi:
- Menstabilkan harga jual petani hingga 30-40%
- Menciptakan 5.000 lapangan kerja di Bintan dalam 5 tahun
- Meningkatkan nilai ekspor daerah hingga Rp 2 triliun tahunan
- Menurunkan impor produk olahan kelapa hingga 25%
Challenges dan Solusi Inovatif
Beberapa tantangan yang dihadapi antara lain:
- Infrastruktur pengolahan yang belum merata
- Kelemahan akses pasar petani terhadap produk olahan
- Kendala regulasi impor produk olahan kelapa
Untuk mengatasinya, HKTI Kepri bersama kementerian terkait akan menyiapkan skema kredit usaha rakyat khusus, pembangunan cold storage di sentra produksi, serta penyusunan roadmap regulasi yang pro-petani.
Implikasi Nasional dan Global
Dengan potensi pasar global mencapai USD 15 miliar per tahun, program ini bisa menempatkan Indonesia sebagai pusat pengolahan kelapa terbesar di Asia Tenggara. Peta jalan hilirisasi kelapa hingga 2045 yang dirancang pemerintah melibatkan 15 provinsi penghasil, dengan Kepri menjadi ujung tombak pengembangan industri organik berkelanjutan.
Gubernur Kepri yang juga Ketua Umum Asosiasi Petani Kelapa Nusantara (APKN) optimis program ini akan memperkuat posisi Indonesia di pasar global. “Dengan inovasi hilirisasi, kita tidak hanya menjual kelapa, tapi menjual nilai-nilai ekosistem yang berkelanjutan,” ungkapnya.
Artikel ini dipublikasikan oleh Plat Merah.
Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.












