Pemprov DKI Bangun Kawasan Peternakan Terintegrasi di Ciangir, Target Tampung 5.000 Ekor Sapi

Pemprov DKI Bangun Kawasan Peternakan Terintegrasi di Ciangir, Target Tampung 5.000 Ekor Sapi

PlatMerah.com, Jakarta – Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memperkuat ketahanan pangan melalui pengembangan lahan seluas hampir 100 hektare di Ciangir, Kabupaten Tangerang, Banten, menjadi Kawasan Peternakan Terintegrasi. Kawasan ini akan dikelola oleh Perumda Dharma Jaya dan dirancang untuk mengintegrasikan sektor peternakan, budi daya perikanan, dan hortikultura dalam satu ekosistem guna mendukung pasokan pangan Jakarta secara berkelanjutan.

Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, saat meninjau Pusat Olah Organik Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta di Ciangir, Jumat (31/7), menyatakan bahwa kawasan ini akan mengembangkan peternakan sapi, ayam, perikanan, hingga pertanian seperti jagung dan padi. Langkah ini merupakan bagian dari upaya pemerintah daerah untuk memastikan ketersediaan pangan yang stabil dan terjangkau bagi warga Jakarta.

Pemanfaatan Lahan Sesuai Fungsi

Lahan seluas hampir 100 hektare tersebut merupakan aset milik Pemprov DKI Jakarta. Pemanfaatannya dibagi menjadi beberapa fungsi. Sekitar 40 hektare dikelola oleh DLH DKI Jakarta untuk mendukung pengolahan organik, termasuk budi daya maggot dan kegiatan pendukung lainnya. Sementara itu, sekitar 20 hektare dikelola oleh Perumda Dharma Jaya sebagai kawasan pertanian dan peternakan terintegrasi. Sisa lahan merupakan bagian dari kontribusi aset Pemprov DKI Jakarta kepada Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia.

Bukan Lokasi Pembuangan Sampah

Pramono Anung menegaskan bahwa kawasan Ciangir tidak akan difungsikan sebagai lokasi pembuangan sampah maupun alternatif Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang. Yang akan dikirim ke kawasan tersebut adalah pupuk hasil pengolahan TPS 3R di Jakarta, salah satunya dari Menteng Atas. “Penanganan persoalan sampah tetap dilakukan secara menyeluruh. Tempat ini bukan untuk sampah, melainkan untuk memperkuat ketahanan pangan,” ujarnya.

Kapasitas Lahan 5.000 Ekor Sapi

Pengembangan kawasan seluas sekitar 20 hektare tersebut telah memperoleh Persetujuan Penggunaan Barang Milik Daerah (BMD) pada 23 Juni 2026. Lahan akan dibagi menjadi dua zona. Sebanyak 17 hektare diproyeksikan mampu menampung sekitar 5.000 ekor sapi dan akan dilengkapi berbagai fasilitas pendukung, seperti kantor operasional, gudang pakan, kandang karantina, kandang penggemukan, jembatan timbang, hingga instalasi pengolahan air limbah (IPAL). Sementara tiga hektare sisanya akan dimanfaatkan sebagai kawasan penghijauan.

Untuk mempercepat realisasi proyek, Pramono menginstruksikan Dinas Lingkungan Hidup, Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian (KPKP), serta Badan Pengelolaan Aset Daerah (BPAD) agar pekerjaan yang menjadi kewenangan Pemprov DKI Jakarta dapat dimulai paling lambat pada awal September 2026.

Konsep Peternakan Terintegrasi dari Hulu ke Hilir

Kawasan Ciangir akan menerapkan konsep peternakan terintegrasi dari hulu hingga hilir. Sistem tersebut mencakup penggemukan sapi, penyediaan pakan berkualitas yang dikelola secara mandiri dengan dukungan teknologi, rumah potong hewan, cold storage, hingga fasilitas pengolahan daging (meat processing) dalam satu kawasan. Melalui integrasi ini, pemerintah berharap tercipta rantai pasok yang lebih efisien, higienis, modern, sekaligus memberikan nilai tambah bagi sektor peternakan.

Libatkan Warga Lokal dan Dorong Ekonomi Sirkular

Selain memperkuat ketahanan pangan, pengembangan kawasan ini juga ditujukan untuk memberdayakan masyarakat sekitar. Keterlibatan warga akan dilakukan melalui penyerapan tenaga kerja lokal, kemitraan penyediaan hijauan pakan ternak, serta pemberdayaan pelaku usaha setempat. Langkah tersebut diharapkan mampu mendorong pertumbuhan ekonomi sirkular, meningkatkan kesejahteraan masyarakat, mengembangkan peternakan berbasis teknologi, sekaligus memperkuat ketahanan pangan DKI Jakarta secara berkelanjutan.

“Saya sudah menyampaikan kepada Kepala Dinas LH, Kepala Dinas KPKP, dan Direktur Utama Dharma Jaya agar semaksimal mungkin memberdayakan warga lokal,” tutur Pramono.

Artikel ini dipublikasikan oleh Plat Merah.

Tinggalkan Balasan

Tutup