Ahmad Luthfi Genjot Penanganan Stunting, Demak dan Kabupaten Semarang Jadi Role Model
PlatMerah.com, Semarang – Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, menegaskan pentingnya penanganan stunting secara komprehensif dengan menjadikan Kabupaten Demak dan Kabupaten Semarang sebagai role model keberhasilan. Kedua daerah ini berhasil menekan angka prevalensi stunting hingga sekitar dua persen, jauh di bawah rata-rata provinsi.
Angka Prevalensi Stunting di Jawa Tengah
Berdasarkan data triwulan II tahun 2026, prevalensi stunting di Jawa Tengah tercatat sebesar 9,93 persen. Meski tren penurunan sejak 2024 menunjukkan hasil positif, disparitas antarwilayah masih cukup tinggi. Beberapa daerah seperti Wonosobo, Purworejo, Banjarnegara, Kabupaten Magelang, dan Kabupaten Tegal masih memiliki angka prevalensi di atas 15 persen, sementara Demak dan Kabupaten Semarang berhasil menekan angka stunting hingga sekitar 2 persen.
Strategi Penanganan dan Pembelajaran dari Demak dan Semarang
Ahmad Luthfi menginstruksikan seluruh dinas di tingkat provinsi dan kabupaten/kota untuk mengamati, meniru, dan memodifikasi praktik baik yang diterapkan di Demak dan Semarang. Pendekatan ini bertujuan mempercepat penurunan angka stunting secara merata di seluruh wilayah Jawa Tengah.
Penanganan stunting, menurut Luthfi, harus dilakukan bersama-sama dan komprehensif dengan melibatkan pemerintah pusat, provinsi, kabupaten/kota, kecamatan, hingga desa. Faktor penyebab stunting yang kompleks meliputi kurang gizi, lingkungan yang tidak bersih, dan pola hidup yang kurang sehat harus diatasi dengan pendekatan multisektoral.
Data Valid dan Target Penurunan Stunting
Daerah dengan angka stunting tinggi diharapkan melakukan pendataan yang valid agar intervensi dapat tepat sasaran dan berkelanjutan. Hal ini penting untuk memastikan bahwa program penanganan dapat menjangkau sasaran yang membutuhkan secara efektif.
Dukungan Nasional dalam Penanganan Stunting
Deputi Bidang Peningkatan Kesejahteraan dan Pembangunan Sumber Daya Manusia Sekretariat Wakil Presiden, Eddy Cahyono Sugiarto, menyampaikan bahwa prevalensi stunting nasional saat ini mencapai 19,8 persen. Target pada 2029 adalah menurunkannya menjadi 14-15 persen, sehingga masih ada tantangan besar yang harus diatasi.
Keterlibatan kepala daerah dan instansi terkait sangat penting karena penanganan stunting memerlukan sinergi berbagai sektor, termasuk gizi, lingkungan, sanitasi, dan infrastruktur. Pelajaran dari Demak dan Semarang akan direplikasi untuk daerah lain di Indonesia.
Sinergi Program Makan Bergizi Gratis
Sekretaris Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga, Budi Setiyono, menambahkan bahwa penanganan stunting akan disinergikan dengan program makan bergizi gratis (MBG), khususnya untuk ibu hamil, menyusui, dan balita non-PAUD. Sinergi ini diharapkan dapat meningkatkan efektivitas program dan mendukung target penurunan stunting di daerah.
Upaya penanganan stunting yang terintegrasi dan komprehensif ini diharapkan mampu meningkatkan kualitas hidup generasi muda dan mendukung pembangunan sumber daya manusia yang lebih baik di Jawa Tengah dan Indonesia secara keseluruhan.
Artikel ini dipublikasikan oleh Plat Merah.
Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.













