Intervensi Jepang-AS Guncang Pasar, Yen Menguat Tapi Saham Nikkei Terkoreksi

Intervensi Jepang-AS Guncang Pasar, Yen Menguat Tapi Saham Nikkei Terkoreksi

PlatMerah.com, TokyoNilai tukar yen terhadap dolar AS menguat tajam pada perdagangan Senin (3/8/2026) setelah Jepang dan Amerika Serikat mengonfirmasi intervensi bersama di pasar valuta asing. Aksi ini merupakan yang pertama dalam 15 tahun terakhir dan berhasil mengangkat yen dari level terlemahnya dalam 40 tahun.

Dolar AS sempat turun ke kisaran 155,20 yen, posisi terkuat yen sejak awal Mei, sebelum bergerak di level 156,46-156,47 yen pada perdagangan tengah hari. Angka ini jauh lebih rendah dibandingkan penutupan akhir pekan lalu di New York yang berada di kisaran 157,33-157,43 yen dan di Tokyo yang mencapai 160,20-160,22 yen.

Intervensi Terkoordinasi Jepang-AS

Intervensi bersama dilakukan pada Jumat (31/7) di pasar New York, setelah yen sempat menyentuh level 163,99 per dolar AS pada 23 Juli, posisi terlemah sejak 1986. Pelemahan yen dipicu oleh kekhawatiran pasar terhadap kebijakan fiskal ekspansif Perdana Menteri Sanae Takaichi, yang memicu pertanyaan mengenai sumber pendanaan program belanja pemerintah.

Wakil Menteri Keuangan Jepang Urusan Internasional, Atsushi Mimura, menegaskan pemerintah akan terus bertindak untuk meredam gejolak nilai tukar yang berlebihan. Ia bahkan menyebut intervensi ini sebagai “penyempurnaan aliansi mata uang Jepang-AS.”

Menteri Keuangan Jepang, Satsuki Katayama, juga menegaskan kesiapan kedua negara untuk turun tangan kembali. “Kami tidak akan ragu melakukan intervensi bersama lagi,” ujarnya. Pernyataan serupa disampaikan Menteri Keuangan AS, Scott Bessent.

Dampak terhadap Pasar Saham

Reaksi pasar tidak hanya terlihat di pasar valuta asing. Bursa saham Tokyo melemah tajam karena investor khawatir penguatan yen akan menekan prospek laba perusahaan-perusahaan Jepang yang bergantung pada ekspor. Indeks Nikkei 225 ditutup turun 1.121,51 poin atau 1,74 persen ke level 63.240,51, sementara indeks Topix melemah 86,69 poin atau 2,17 persen menjadi 3.916,61.

Tekanan di pasar saham juga dipicu aksi ambil untung pada saham-saham teknologi berkapitalisasi besar, setelah pada sesi sebelumnya Nikkei sempat melonjak hampir 2.500 poin.

Respons Pelaku Pasar dan Ekonom

Peneliti senior Gaitame.com Research Institute, Takuya Kanda, mengatakan intervensi pada dasarnya hanya memberikan efek jangka pendek. Namun, intervensi yang dilakukan secara bersama-sama memiliki peluang lebih besar untuk mempertahankan dampaknya terhadap pasar.

Sementara itu, EM Asia FX and Rates Strategist BNP Paribas Singapore, Chandreesh Jain, menuturkan sulit untuk memastikan apakah otoritas telah melakukan intervensi tambahan pada Senin. “Saya rasa pasar juga mencermati komentar yang muncul dari pihak Amerika Serikat. Jadi menurut saya, para pelaku pasar yang memegang posisi long beli dolar/yen mulai menutup posisi pagi ini,” kata dia.

Ia menambahkan bahwa intervensi semacam ini datang dan pergi dari waktu ke waktu, tetapi pergerakan dolar/yen tetap satu arah, yakni terus menguat. “Hal ini jelas menunjukkan bahwa pasar tidak terlalu terpengaruh oleh intervensi tersebut; situasi baru bisa berubah jika dan hanya jika Bank of Japan (BOJ) mulai menaikkan suku bunga secara agresif,” ujarnya.

Executive Adviser SBI FX Trade Japan, Yuji Santo, menilai penurunan tajam pada pasangan mata uang dolar/yen kemungkinan besar disebabkan oleh intervensi tambahan. Ia mengatakan, dalam pernyataan yang dirilis pagi ini, baik Jepang maupun AS menegaskan akan terus melakukan intervensi ke depannya.

Konteks Pelemahan Yen

Pelemahan yen terjadi akibat tekanan suku bunga rendah Jepang dan dampak kenaikan harga energi terhadap terms of trade. Sejak Takaichi menjabat pada Oktober tahun lalu, nilai tukar yen telah melemah lebih dari 10 yen terhadap dolar AS. Kondisi ini memicu kekhawatiran terhadap kesehatan fiskal Jepang yang sudah menjadi salah satu yang terburuk di antara negara-negara maju.

Tekanan juga terlihat di pasar obligasi. Imbal hasil obligasi pemerintah Jepang tenor 10 tahun bulan lalu mencapai 2,9 persen, tertinggi dalam hampir tiga dekade, setelah banyak investor mengurangi kepemilikan surat utang jangka panjang.

Langkah intervensi bersama ini mengingatkan pada aksi serupa negara-negara G7 pada 2011, ketika Amerika Serikat membantu menopang yen setelah Jepang dilanda gempa bumi dan tsunami besar.

Artikel ini dipublikasikan oleh Plat Merah.

Tinggalkan Balasan

Tutup