Jejak Ekspansi Bisnis Haji Isam lewat Akuisisi Emiten: PACK hingga BYAN
PlatMerah.com – Pengusaha nasional Andi Syamsuddin Arsyad, yang dikenal dengan nama Haji Isam, terus memperluas ekspansi bisnisnya melalui serangkaian akuisisi emiten di berbagai sektor, mulai dari pertambangan batu bara hingga makanan cepat saji.
Langkah terbaru Haji Isam adalah rencananya mengakuisisi sekitar 30% saham PT Bayan Resources Tbk (BYAN) dari Low Tuck Kwong dan putrinya Elaine Low. Transaksi ini dilakukan melalui perusahaan miliknya, PT Jhonlin Baratama. Perjanjian jual beli saham bersyarat tersebut mencakup pengalihan 10 miliar saham BYAN atau setara sekitar 30% dari total saham beredar. Namun, penyelesaian transaksi masih menunggu pemenuhan sejumlah persyaratan pendahuluan yang disepakati kedua pihak.
Ekspansi Bisnis Melalui Akuisisi Emiten
Jejak akuisisi Haji Isam sebelumnya juga terlihat saat ia memasuki bisnis nikel melalui pembelian saham PT Abadi Nusantara Hijau Investama Tbk (PACK) pada Mei 2026. Saat itu, Haji Isam membeli 6,83 miliar saham PACK dengan harga Rp 137 per saham, sehingga menguasai 21,12% saham perusahaan tersebut. Nilai transaksi pembelian saham PACK mencapai sekitar Rp 936,65 miliar. Langkah ini menandai perluasan portofolio bisnisnya di luar sektor batu bara yang selama ini menjadi basis bisnis Jhonlin Group.
Selain itu, pada 2025, Haji Isam juga mengembangkan bisnis di sektor makanan dengan akuisisi PT Fast Food Indonesia Tbk (FAST), pengelola jaringan KFC Indonesia. Akuisisi ini dilakukan melalui anaknya yang memiliki perusahaan PT Shankara Fortuna Nusantara, yang membeli 15% saham PT Jagonya Ayam Indonesia (JAI) dari FAST dengan nilai transaksi Rp 54,44 miliar.
Profil dan Portofolio Saham Haji Isam
Haji Isam memiliki portofolio saham yang cukup luas, terutama melalui kepemilikan anak-anaknya di beberapa emiten di Bursa Efek Indonesia. Putrinya, Liana Saputri, menguasai saham mayoritas di PT Pradiksi Gunatama Tbk (PGUN), PT Jhonlin Agro Raya Tbk (JARR), dan PT Dana Brata Luhur Tbk (TEBE). Total estimasi nilai pasar saham yang dimiliki Haji Isam di ketiga perusahaan tersebut mencapai hampir Rp 80 triliun.
Dampak dan Kondisi Terbaru Saham BYAN
Saham PT Bayan Resources Tbk (BYAN) mencatatkan kenaikan signifikan hingga menembus auto reject atas (ARA) di level Rp 13.825 per saham pada sesi pertama perdagangan tanggal 18 September 2026. Kenaikan ini dipicu oleh rencana akuisisi saham oleh Haji Isam. Volume perdagangan saham BYAN pada hari itu mencapai 9,02 juta saham dengan nilai transaksi Rp 124,56 miliar dan kapitalisasi pasar BYAN mencapai Rp 460,83 triliun.
Sebelumnya, aktivitas produksi batu bara BYAN sempat terganggu akibat belum keluarnya persetujuan perubahan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) 2026 dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), sehingga anak usaha BYAN harus menyatakan force majeure. Namun, setelah akuisisi saham oleh Haji Isam, sinyal positif muncul mengenai kemungkinan keluarnya persetujuan RKAB dalam waktu dekat.
Meskipun Moody’s Ratings memangkas prospek BYAN menjadi negatif akibat ketidakpastian regulasi kuota produksi batu bara, peringkat korporasi BYAN tetap dipertahankan di level Ba1. Neraca keuangan BYAN yang bebas utang menjadi faktor pendukung kekuatan kreditnya, meskipun risiko penurunan kemampuan produksi tetap ada jika ketidakpastian regulasi berlanjut.
Transaksi Saham BYAN Masih Bersyarat
Perjanjian jual beli saham antara Low Tuck Kwong dan Elaine Low dengan PT Jhonlin Baratama masih bersifat bersyarat dan belum rampung. Harga transaksi resmi belum diumumkan, namun berdasarkan harga pasar saham BYAN per tanggal 18 September 2026, nilai pasar untuk 10 miliar saham yang menjadi objek transaksi sekitar Rp 115,25 triliun.
Rumor sebelumnya menyebutkan tawaran Haji Isam sebesar US$3 miliar untuk mengakuisisi 62% saham BYAN, namun transaksi yang sedang berjalan saat ini hanya mencakup 30%. Bayan Resources menegaskan bahwa transaksi ini tidak memberikan dampak material negatif terhadap operasional, aspek hukum, finansial, maupun kelangsungan usaha perusahaan.
Kesimpulan
Ekspansi bisnis Haji Isam melalui akuisisi emiten menunjukkan strategi diversifikasi dan penguatan portofolio di berbagai sektor industri, khususnya pertambangan dan makanan cepat saji. Rencana akuisisi 30% saham BYAN menjadi langkah strategis untuk memperluas pengaruhnya di sektor pertambangan batu bara yang memiliki peranan penting dalam industri energi nasional. Transaksi ini masih menunggu penyelesaian persyaratan pendahuluan dan akan menjadi salah satu catatan penting dalam perkembangan bisnis dan pasar modal Indonesia.
Artikel ini dipublikasikan oleh Plat Merah.
Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.














