Kemensos Berdayakan Penerima Bansos Madura Jadi Petani Ekspor Cabai Jamu Organik

Kemensos Berdayakan Penerima Bansos Madura Jadi Petani Ekspor Cabai Jamu Organik

Pemberdayaan Penerima Bansos Menjadi Petani Ekspor

PlatMerah.com, Sumenep – Kementerian Sosial (Kemensos) melalui Direktorat Jenderal Pemberdayaan Sosial meluncurkan program strategis pemberdayaan penerima bantuan sosial (bansos) di Madura, khususnya di Kabupaten Sumenep. Program ini mengajak 220 Keluarga Penerima Manfaat (KPM) dari program Keluarga Harapan (PKH) dan sembako untuk menjadi petani mandiri yang menghasilkan cabai jamu organik dengan target pasar ekspor ke Eropa, Amerika, dan Australia.

Langkah ini merupakan bagian dari upaya transformasi paradigma bantuan sosial menjadi pemberdayaan ekonomi yang berkelanjutan, sehingga penerima bansos tidak hanya bergantung pada bantuan, tetapi juga mampu mandiri secara ekonomi dan bersaing di pasar global.

Pembentukan Ekosistem dan Kolaborasi

Program ini dijalankan dengan pendekatan terintegrasi yang membangun ekosistem pemberdayaan sosial berbasis pasar dan link and match dengan standar industri hingga tingkat desa dan kelurahan. Kemensos bekerja sama dengan PT Mega Inovasi Organik (PT MIO) sebagai mitra pembina dan offtaker resmi yang menjamin pembelian hasil panen.

Kerja sama ini juga melibatkan Koperasi Dewa Dewi Ramadaya (Yayasan Alit) sebagai titik pengumpulan cabai jamu organik. Harga beli cabai jamu organik dari koperasi disepakati berkisar Rp125 ribu hingga Rp130 ribu per kilogram, meningkat sekitar Rp25 ribu hingga Rp30 ribu dibanding harga sebelumnya, sehingga berpotensi meningkatkan pendapatan petani penerima bansos.

Pendampingan dan Standar Ekspor

Kemensos memastikan setiap petani mendapatkan pendampingan teknis intensif dari PT MIO dan koperasi untuk memenuhi standar ekspor internasional. Data KPM difilter untuk memilih petani yang berusia produktif agar budidaya cabai jamu organik berjalan optimal.

Para petani tergabung dalam Kelompok Masyarakat (Pokmas) “Jamu Maju Bersama” yang terdiri dari 220 anggota tersebar di 16 desa di enam kecamatan di Kabupaten Sumenep, meliputi Bluto, Gili Genting, Guluk-Guluk, Pasongsongan, Ambunten, dan Saronggi.

Dukungan Sarana dan Prasarana

Untuk menunjang keberhasilan budidaya dan pengolahan cabai jamu organik, Kemensos menyalurkan berbagai bantuan sarana dan prasarana, antara lain:

  • 11.000 bibit cabai jamu, 4.400 bibit lada, dan 11.000 bibit tajar
  • Dua paket Solar Dryer (pengering tenaga surya)
  • Perbaikan dan renovasi gudang penyimpanan cabai jamu milik koperasi
  • 220 perlengkapan kerja petani seperti gunting panen, sepatu boot APD, dan sarung tangan kerja
  • Fasilitas pendukung seperti tangga lipat, tandon air, dan peralatan olah pascapanen (kompor, gas elpiji, panci)

Implementasi Model Hilirisasi dan Kolaborasi Multi Pilar

Menurut Tenaga Ahli Menteri Sosial Ahmad Rifai, program ini sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto untuk mengimplementasikan model hilirisasi, yaitu menjual produk jadi, bukan bahan mentah, guna mendukung pengentasan kemiskinan.

Program ini juga melibatkan pilar pembangunan negara, swasta, dan masyarakat secara sinergis, dengan pengorganisasian rakyat sebagai kunci keberhasilan. Kolaborasi antara Kemensos, PT MIO, koperasi, dan Pokmas menjadi model percontohan nasional dalam mentransformasi penerima bansos menjadi pengusaha tani mandiri yang berdaya saing internasional.

Signifikansi Program Pemberdayaan

Inisiatif ini tidak hanya meningkatkan kesejahteraan petani di Madura tetapi juga mendorong pertumbuhan ekonomi lokal yang berkelanjutan. Dengan jaminan pasar ekspor dan pendampingan teknis, para petani cabai jamu organik diharapkan dapat meningkatkan produktivitas dan pendapatan secara signifikan, sekaligus membuka peluang baru dalam perdagangan internasional.

Artikel ini dipublikasikan oleh Plat Merah.

Tinggalkan Balasan

Tutup