Dampak Daylight Saving Time: Perubahan Waktu dan Risiko Kesehatan Mata

Dampak Daylight Saving Time: Perubahan Waktu dan Risiko Kesehatan Mata

PlatMerah.comDaylight Saving Time (DST) atau perubahan waktu musim panas kembali menjadi perdebatan di Amerika Serikat setelah DPR AS mengesahkan Sunshine Protection Act yang akan menjadikan DST permanen. Namun, di balik wacana tersebut, penelitian terbaru menunjukkan bahwa perubahan waktu satu jam saja dapat berdampak pada kesehatan mata.

Sebuah studi yang diterbitkan di jurnal Scientific Reports menemukan bahwa perubahan waktu pada musim semi dikaitkan dengan peningkatan risiko penyakit pembuluh darah retina hingga hampir 30 persen. Sementara itu, perubahan waktu pada musim gugur justru menurunkan risiko sekitar 20 persen. Penelitian ini menganalisis data asuransi kesehatan lebih dari 18 juta orang dewasa di Amerika Serikat.

Apa Itu Daylight Saving Time?

Daylight Saving Time adalah praktik memajukan waktu satu jam pada bulan Maret dan mengembalikannya pada bulan November. Tujuannya untuk memanfaatkan cahaya matahari lebih lama di sore hari. Namun, kebiasaan ini menuai kritik karena mengganggu ritme sirkadian tubuh.

Dampak Kesehatan dari Perubahan Waktu

Para ahli kesehatan, termasuk American Academy of Sleep Medicine, menentang DST permanen. Mereka berpendapat bahwa waktu standar sepanjang tahun lebih baik untuk kesehatan. Dr. Fariha Abbasi-Feinberg, presiden American Academy of Sleep Medicine, menyatakan bahwa DPR mengabaikan bukti kuat tentang manfaat kesehatan dan keselamatan dari waktu standar permanen.

Penelitian sebelumnya juga mengaitkan perubahan waktu dengan peningkatan risiko serangan jantung dan stroke. Gangguan tidur akibat perubahan waktu dapat meningkatkan peradangan, mengganggu metabolisme, dan memberi tekanan pada pembuluh darah di seluruh tubuh, termasuk retina yang membutuhkan pasokan darah konstan.

Dampak Sosial dan Ekonomi

Jika DST menjadi permanen, beberapa wilayah seperti Ohio dan New Jersey akan mengalami matahari terbit lebih lambat di musim dingin, hingga pukul 8:15 pagi atau bahkan 9 pagi. Hal ini berarti anak-anak berangkat sekolah dalam keadaan gelap dan pekerja memulai hari tanpa cahaya matahari. Sebagai respons, beberapa pihak mengusulkan perubahan zona waktu, misalnya Ohio beralih dari Eastern Time ke Central Time untuk mengembalikan waktu matahari terbit seperti semula.

Perubahan zona waktu juga berdampak pada sektor bisnis. Perusahaan yang terikat dengan New York akan berbeda jadwal dengan perusahaan yang terikat dengan Chicago. Pertandingan olahraga, jam kerja, dan aktivitas ekonomi lainnya perlu disesuaikan.

Sejarah Perubahan Waktu di AS

Upaya mengubah waktu musiman bukanlah hal baru. Pada tahun 1973, krisis minyak akibat perang Yom Kippur mendorong Presiden Richard Nixon memberlakukan DST sepanjang tahun untuk menghemat energi. Kebijakan tersebut hanya bertahan beberapa bulan karena protes masyarakat.

Saat ini, polling Gallup menunjukkan hanya 40 persen responden yang mendukung DST, sementara 48 persen lebih memilih waktu standar sepanjang tahun. Dukungan terhadap DST menurun drastis dibandingkan tahun 1990-an.

RUU Sunshine Protection Act masih harus disetujui Senat dan ditandatangani Presiden Donald Trump sebelum menjadi undang-undang. Jika disahkan, Amerika Serikat akan beralih ke DST permanen, meninggalkan perubahan waktu dua kali setahun.

Artikel ini dipublikasikan oleh Plat Merah.

Tinggalkan Balasan

Tutup