Jakarta Masuk 4 Besar Kota dengan Kualitas Udara Terburuk di Dunia 31 Juli 2026

Jakarta Masuk 4 Besar Kota dengan Kualitas Udara Terburuk di Dunia 31 Juli 2026

PlatMerah.com, Jakarta – Kualitas udara Jakarta pada Jumat (31/7/2026) pagi tercatat sebagai salah satu yang terburuk di dunia. Berdasarkan data situs pemantau kualitas udara IQAir pada pukul 06.00 WIB, indeks kualitas udara (AQI) Jakarta berada di angka 147, yang masuk kategori tidak sehat bagi kelompok sensitif.

Angka tersebut menempatkan Jakarta di peringkat keempat dunia, di bawah Kinshasa (RD Kongo) dengan AQI 174, Kampala (Uganda) dengan AQI 154, dan Lahore (Pakistan) dengan AQI 151. Kondisi ini menandakan bahwa polusi udara di ibu kota masih menjadi tantangan serius yang memengaruhi kesehatan warga.

Imbauan untuk Masyarakat

Dengan tingkat polusi yang masuk kategori tidak sehat bagi kelompok sensitif, masyarakat yang beraktivitas di luar ruangan dianjurkan untuk menggunakan masker. Kelompok yang rentan, seperti anak-anak, lansia, dan penderita penyakit pernapasan, disarankan membatasi aktivitas di luar rumah dan memantau kondisi udara secara berkala.

Penyebab Utama: Sektor Transportasi

Sektor transportasi menjadi penyumbang terbesar emisi gas buang di Jakarta, yakni sekitar 50 persen. Tingginya penggunaan kendaraan pribadi menjadi faktor dominan yang memperburuk kualitas udara. Untuk itu, Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta telah menyiapkan sejumlah strategi untuk menekan polusi.

Langkah Pemprov DKI Jakarta

Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, mengajak masyarakat untuk beralih ke transportasi publik. Pemprov DKI juga telah menerbitkan aturan pemberian layanan transportasi umum gratis bagi 15 golongan masyarakat. Saat ini, konektivitas transportasi Jakarta telah mencapai 92 persen, yang menempatkan Jakarta di posisi ke-17 dunia dan peringkat kedua di ASEAN setelah Singapura.

Salah satu langkah konkret yang tengah dijalankan adalah perluasan jangkauan layanan bus Transjabodetabek, seperti rute Blok M-Alam Sutera, Blok M-PIK 2, serta rencana pembukaan rute baru Blok M-Bandara Soekarno Hatta. Selain itu, Pemprov DKI menargetkan pengoperasian 10.000 bus listrik Transjakarta pada 2030.

“Kalau itu bisa dilakukan, secara signifikan akan mengurangi kontribusi terhadap emisi itu,” kata Pramono saat menghadiri acara Townhall Meeting yang membahas isu dan solusi mengatasi polusi udara di Melting Pop, M Bloc, Kebayoran Baru, Selasa (10/2).

Pengelolaan Sampah Juga Jadi Perhatian

Selain transportasi, sektor pengelolaan sampah juga menjadi fokus Pemprov DKI. Pemerintah mempercepat pembangunan fasilitas pengolahan sampah ITF (Intermediate Treatment Facility) di Sunter, Rorotan, Bantargebang, dan Jakarta Barat. Proyek tersebut ditargetkan mulai berjalan pada pertengahan tahun ini.

Dengan berbagai upaya tersebut, diharapkan kualitas udara Jakarta dapat membaik secara bertahap, sehingga risiko kesehatan akibat polusi dapat diminimalkan.

Artikel ini dipublikasikan oleh Plat Merah.

Tinggalkan Balasan

Tutup