Sapta Darma Sukoreno Berbagi di Suro 1960 Saka Jawa: Wujud Syukur dan Kerukunan di Desa Pancasila

Sapta Darma Sukoreno Berbagi di Suro 1960 Saka Jawa: Wujud Syukur dan Kerukunan di Desa Pancasila

Plat Merah – Jember, 20 Juni 2026 – Semangat menyambut Tahun Baru 1 Suro 1960 Saka Jawa terasa hangat di Desa Sukoreno, Kecamatan Umbulsari, Kabupaten Jember. Selasa (16/6/2026), pengelola Sanggar Candi Busana, Sunyoto, bersama warga dan anak-anak Sapta Darma menggelar kegiatan sosial yang menyasar saudara, tetangga, dan masyarakat sekitar. Kegiatan ini bukan sekadar tradisi tahunan, melainkan wujud nyata dari nilai-nilai luhur yang dijunjung tinggi oleh masyarakat Sukoreno yang dikenal sebagai Desa Pancasila.

Makna 1 Suro dalam Tradisi Jawa

Dalam penanggalan Jawa, 1 Suro merupakan hari pertama bulan Suro yang dianggap sakral. Masyarakat Jawa memaknainya sebagai momentum untuk introspeksi diri, membersihkan jiwa, dan menata kembali perjalanan hidup. Sunyoto menjelaskan, “Kegiatan kami menjadi wujud nyata rasa syukur sekaligus ikhtiar memperkuat nilai persaudaraan, kepedulian, dan kebersamaan yang telah lama tumbuh di tengah masyarakat Sukoreno.” Tradisi berbagi di bulan Suro telah menjadi bagian dari kearifan lokal yang terus dilestarikan, terutama di daerah pedesaan yang masih kental dengan budaya gotong royong.

Bagi penganut Sapta Darma, aliran kepercayaan yang diakui negara, momen 1 Suro juga menjadi ajang untuk memperkuat spiritualitas dan hubungan dengan sesama. Sanggar Candi Busana yang berada di RT 001 RW 009 Gang V, Lingkungan Krajan Kidul, merupakan tempat ibadah sekaligus pusat kegiatan sosial yang aktif membangun harmoni dengan lingkungan sekitar.

Kegiatan Sosial: Berbagi Makanan dan Sembako

Rangkaian acara dimulai dengan pembagian makanan dan sembako kepada warga kurang mampu di sekitar desa. Anak-anak Sapta Darma turut berpartisipasi, menjadi bagian dari pendidikan karakter sejak dini. Sunyoto menambahkan, “Kehadiran anak-anak dalam kegiatan ini sekaligus menjadi sarana pendidikan karakter untuk menanamkan nilai gotong royong dan penghormatan terhadap sesama sejak dini.”

Berikut adalah rincian kegiatan yang dilakukan:

KegiatanDeskripsiJumlah Penerima
Pembagian MakananMakanan siap saji dan tradisional200 porsi
Pembagian SembakoBeras, minyak, gula, dan kebutuhan pokok50 paket
Doa BersamaDipimpin oleh tetua adatSeluruh peserta

Seluruh rangkaian kegiatan berlangsung lancar, tertib, dan penuh kehangatan. “Kami keluarga besar menyampaikan rasa syukur atas kebersamaan dengan warga yang harmonis selama ini,” ujar Sunyoto.

Desa Sukoreno: Laboratorium Kerukunan Nasional

Desa Sukoreno memiliki keunikan tersendiri. Dikenal secara nasional sebagai Desa Pancasila, desa ini menjadi contoh nyata bagaimana keberagaman agama, kepercayaan, budaya, dan latar belakang masyarakat dapat hidup berdampingan secara rukun. Di Sukoreno, penganut Islam, Kristen, Hindu, Buddha, serta aliran kepercayaan seperti Sapta Darma saling menghormati dan bekerja sama dalam berbagai kegiatan sosial.

Keberhasilan Sukoreno dalam menjaga kerukunan tidak lepas dari peran tokoh masyarakat dan pemimpin agama yang terus menanamkan nilai-nilai Pancasila. Kegiatan seperti berbagi di bulan Suro ini menjadi salah satu cara untuk memperkuat ikatan sosial dan mencegah konflik horizontal. Sunyoto menegaskan, “Nilai-nilai itulah yang sejalan dengan semangat bulan Suro, yakni membangun keseimbangan hubungan antar manusia melalui sikap saling menghormati, saling membantu, dan menjaga harmoni sosial.”

Dampak dan Implikasi bagi Masyarakat

Kegiatan berbagi di 1 Suro ini memberikan dampak positif yang luas:

  • Penguatan Solidaritas Sosial: Masyarakat semakin sadar akan pentingnya kepedulian terhadap sesama, terutama di tengah kesulitan ekonomi.
  • Pendidikan Karakter bagi Generasi Muda: Anak-anak yang terlibat belajar tentang gotong royong dan toleransi secara langsung.
  • Promosi Desa Pancasila: Sukoreno semakin dikenal sebagai model kerukunan yang dapat direplikasi di daerah lain.
  • Pelestarian Budaya: Tradisi 1 Suro tetap hidup dan relevan di era modern.

Implikasi jangka panjang dari kegiatan semacam ini adalah terciptanya masyarakat yang lebih tangguh dalam menghadapi tantangan sosial. Pemerintah daerah pun diharapkan dapat mendukung inisiatif serupa melalui kebijakan yang mendorong partisipasi masyarakat.

Kronologi Kegiatan

Berikut adalah urutan waktu acara pada 16 Juni 2026:

  1. Pukul 07.00 WIB: Persiapan di Sanggar Candi Busana.
  2. Pukul 08.30 WIB: Doa bersama dipimpin tetua adat.
  3. Pukul 09.00 WIB: Pembagian makanan dan sembako dimulai.
  4. Pukul 11.00 WIB: Kegiatan selesai, diikuti dengan ramah tamah.

Seluruh proses berjalan lancar berkat kerjasama antara pengelola sanggar, warga, dan anak-anak Sapta Darma.

Dengan membawa pesan Rahayu, Salam Waras, peringatan Tahun Baru 1 Suro 1960 Saka Jawa di Sukoreno menjadi pengingat bahwa kerukunan, kepedulian sosial, dan nilai-nilai kemanusiaan merupakan warisan luhur yang harus terus dirawat dari generasi ke generasi. Di tengah arus modernisasi dan individualisme, tradisi berbagi seperti ini adalah oase yang menyegarkan jiwa dan mempererat tali persaudaraan. Semoga semangat Suro tidak hanya menjadi seremonial, tetapi benar-benar terinternalisasi dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia.

Artikel ini dipublikasikan oleh Plat Merah.

Tinggalkan Balasan

Tutup