Mengabdi Tanpa Digaji, Cerita Iin Berbagi Ilmu di Sekolah Anak Jalanan

Mengabdi Tanpa Digaji, Cerita Iin Berbagi Ilmu di Sekolah Anak Jalanan

PlatMerah.com, Jakarta Selatan – Di tengah keterbatasan fasilitas dan tanpa menerima gaji tetap, Kristina Iin Dwiyanti telah mengabdikan dirinya selama lebih dari dua dekade untuk mengajar dan memimpin Sekolah Alternatif Anak Jalanan (Saaja). Sekolah ini memberikan kesempatan belajar bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu dan rentan berada di jalanan di kawasan Rasuna Said, Jakarta Selatan.

Lahir dari Keprihatinan

Saaja berawal dari keprihatinan terhadap banyak anak yang tidak mendapatkan akses pendidikan. Pendiri Saaja, almarhum Farid Faqih, bersama para relawan awalnya menjalankan kegiatan sosial melalui Lembaga Swadaya Masyarakat Pangan untuk Rakyat Miskin. Dari distribusi bantuan pangan tersebut, ditemukan banyak anak yang tidak sekolah karena harus membantu orang tua mencari penghasilan.

Melihat masa depan anak-anak tersebut, Farid mengajak rekan-rekan relawan untuk memulai kegiatan belajar sederhana. Awalnya, hanya sekitar tiga hingga lima anak yang mengikuti pelajaran setelah membantu orang tua mereka. Kegiatan ini kemudian berkembang menjadi Saaja yang fokus pada pendidikan anak usia dini setingkat taman kanak-kanak.

Metode Pembelajaran di Saaja

Di Saaja, kegiatan belajar mengajar berlangsung seperti sekolah TK pada umumnya dengan materi yang mencakup bahasa, kognitif, keterampilan, dan kreativitas. Kurikulum diadaptasi sesuai kebutuhan anak-anak dari keluarga prasejahtera, dengan tema seperti diri sendiri, keluarga, dan lingkungan sekitar.

Untuk anak TK B, pembelajaran diarahkan sebagai persiapan memasuki jenjang sekolah dasar. Namun, tantangan tetap ada karena kondisi dan karakter anak yang beragam, sehingga guru harus mampu membangun konsentrasi dan semangat belajar tanpa memaksa ketika anak mengalami kelelahan atau kehilangan motivasi.

Mengabdi Tanpa Gaji Tetap

Para guru di Saaja, termasuk Iin, mengajar tanpa menerima gaji tetap sejak awal berdirinya sekolah ini. Jika memungkinkan, mereka hanya mendapatkan pengganti biaya transportasi. Meski demikian, semangat pengabdian tetap terjaga untuk membantu anak-anak yang membutuhkan pendidikan.

Iin memandang keberadaan Saaja sangat penting karena masih banyak anak yang belum mendapatkan akses pendidikan. Ia juga melihat perubahan positif pada anak-anak yang belajar di sekolah tersebut, mulai dari pengenalan pelajaran dasar hingga peningkatan kepercayaan diri.

Peran Iin dan Makna Pengabdian

Selain sebagai guru, Iin juga menjabat sebagai kepala sekolah yang mengurus keberlangsungan kegiatan Saaja. Ia memulai pengabdian sejak 1999 sebagai relawan mendampingi pendiri Saaja. Baginya, mengajar adalah wujud amanah dan panggilan hati untuk membantu masyarakat yang membutuhkan melalui waktu dan tenaga yang dimilikinya.

Pendidikan usia dini yang diberikan di Saaja dianggap sangat penting sebagai dasar bagi perkembangan karakter dan pondasi masa depan anak. Melalui pengajarannya, Iin berharap dapat memberikan kontribusi nyata bagi anak-anak kurang mampu agar memiliki peluang yang lebih baik di masa depan.

Saaja di Mata Komunitas

Saaja menjadi contoh nyata bagaimana pendidikan alternatif dapat menjadi solusi bagi anak-anak jalanan dan keluarga prasejahtera yang sering terpinggirkan. Dengan dukungan relawan seperti Iin, sekolah ini terus berupaya memberikan pendidikan yang layak dan membangun harapan baru bagi generasi muda di Jakarta Selatan.

Kisah pengabdian Iin menginspirasi banyak pihak untuk peduli dan berkontribusi dalam pendidikan anak-anak yang kurang beruntung, membuktikan bahwa semangat tanpa pamrih dapat menghadirkan perubahan positif dalam masyarakat.

Artikel ini dipublikasikan oleh Plat Merah.

Tinggalkan Balasan

Tutup