Lima Ribu Lebih Personel Disiagakan dalam Antisipasi Karhutla
Kesiapsiagaan Nasional Hadapi Ancaman Karhutla di Wilayah Rawan
Plat Merah – Provinsi Jambi menunjukkan komitmen kuat dalam mencegah kebakaran hutan dan lahan (karhutla) selama musim kemarau 2026. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jambi telah menyiagakan 5.923 personel gabungan yang terdiri dari TNI, Polri, Manggala Agni, Kelompok Tani Peduli Api (KTPA), Masyarakat Peduli Api (MPA), serta regu pemadam dari perusahaan perkebunan dan kehutanan. Langkah ini diambil menyusul prediksi potensi karhutla meningkat akibat pola cuaca El Niño yang berpotensi memperpanjang musim kemarau hingga Oktober 2026.
Struktur Penugasan dan Koordinasi Multiagen
| Instansi | Jumlah Personel | Peran |
|---|---|---|
| TNI | 1.200 | Patroli udara dan darat, evakuasi korban |
| Polri | 900 | Penegakan hukum dan pengamanan lokasi |
| BPBD | 1.500 | Pemadaman langsung dan logistik |
| Manggala Agni | 800 | Mobilisasi unit pemadam darat |
| Perusahaan | 523 | Pemantauan area tanggung jawab |
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Jambi, Andre Eko Rinjani, menjelaskan bahwa personel ini ditempatkan di 81 pos terpadu di kawasan rawan. Setiap pos dilengkapi dengan peralatan lengkap seperti alat pemadam, masker, dan alat komunikasi. “Kami juga melakukan simulasi pemadaman dan pelatihan teknik penyelamatan korban,” ujar Andre.
Kronologi Kesiapan Operasional
- April 2026: Pemetaan titik rawan karhutla di 7 kabupaten/kota
- Juni 2026: Pelatihan teknis 3.000 personel gabungan
- Juli 2026: Penetapan status Siaga Darurat Bencana
- Auli 2026: Pengajuan dukungan operasi udara ke BNPB
Teknologi dan Infrastruktur Pendukung
Besarnya risiko karhutla mengharuskan BPBD mengajukan dukungan operasi udara ke BNPB. Bantuan yang dimohonkan meliputi:
- Helikopter patroli untuk pemantauan 24 jam
- Pesawat pengawas dengan sistem radar termal
- Helikopter water bombing berkapasitas 1.200 liter
Analisis dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menunjukkan curah hujan di wilayah Jambi akan mengalami penurunan hingga 40% dibandingkan rata-rata lima tahun terakhir. Hal ini meningkatkan risiko kekeringan pada lahan gambut yang menjadi faktor utama kebakaran.
Dampak Ekonomi dan Sosial Jika Terjadi Karhutla
Kejadian karhutla tahun 2022 lalu mengakibatkan kerugian ekonomi hingga Rp 15 triliun di Jambi, terutama pada sektor pertanian, perkebunan, dan pariwisata. Asap tebal juga menyebabkan 12.300 warga terpapar ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Akut) pada bulan Agustus-September 2022.
Inovasi Sosialisasi Masyarakat
BPBD Jambi menerapkan strategi inovatif untuk meningkatkan partisipasi masyarakat. Beberapa langkah yang diambil:
- Pelatihan pencegahan karhutla di 500 desa
- Penggunaan media sosial dengan #JambiAntiAsap
- Penyediaan aplikasi laporan dini karhutla (Jambi Siaga API)
- Pemetaan desa tangguh bencana
Andre menegaskan, “Keterlibatan masyarakat sangat penting. Kami telah membentuk 300 relawan desa yang siap melaporkan titik kebakaran dalam waktu 10 menit.”
Prospek Jangka Panjang
Upaya saat ini tidak hanya fokus pada penanggulangan darurat, tetapi juga rehabilitasi lahan yang terkena dampak karhutla di masa lalu. Program reklamasi gambut akan dilanjutkan di 20.000 hektare lahan rusak tahun 2026-2027.
Artikel ini dipublikasikan oleh Plat Merah.
Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.













