Wamenko Pangan Hanif Faisol Nurofiq Resmikan Closed Barn di Purwodadi: Inovasi Peternakan Sapi Perah untuk Mengurangi Impor Susu

Wamenko Pangan Hanif Faisol Nurofiq Resmikan Closed Barn di Purwodadi: Inovasi Peternakan Sapi Perah untuk Mengurangi Impor Susu

Latar Belakang Kunjungan dan Pengenalan Closed Barn

Plat Merah – Pada Selasa, 27 Juli 2026, Wakil Menteri Koordinator Bidang Pangan (Wamenko Pangan) Hanif Faisol Nurofiq melakukan kunjungan kerja ke Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur. Kunjungan tersebut berfokus pada peresmian fasilitas Closed Barn di Kecamatan Purwodadi serta serah terima sapi perah impor yang disalurkan oleh Nestlé Indonesia kepada peternak binaan KUD Dadi Jaya.

Closed Barn merupakan sistem kandang tertutup yang mengintegrasikan teknologi ventilasi, kontrol suhu, dan kelembapan secara otomatis. Tujuannya adalah menciptakan mikroklimat optimal yang dapat melindungi ternak dari fluktuasi cuaca ekstrim serta menekan risiko penularan penyakit.

Chronology of the Event

  1. 09.00 WIB – Kedatangan Wamenko Pangan dan delegasi Nestlé Indonesia di kantor Pemkab Pasuruan.
  2. 09.30 WIB – Sambutan Bupati Pasuruan, Rusdi Sutejo, serta perwakilan KUD Dadi Jaya.
  3. 10.00 WIB – Tur ke fasilitas Closed Barn, penjelasan teknis oleh tim teknis Nestlé.
  4. 11.15 WIB – Upacara peresmian dan serah terima 150 ekor sapi perah impor.
  5. 12.00 WIB – Sesi tanya jawab dengan media dan peternak lokal.

Teknologi Closed Barn: Cara Kerja dan Manfaat

  • Ventilasi otomatis: Sistem sensor mengukur kadar CO₂ dan amonia, menyesuaikan aliran udara untuk menjaga kualitas udara tetap sehat.
  • Kontrol suhu dan kelembapan: Pendingin dan humidifier berbasis IoT menjaga suhu antara 18‑22°C dan kelembapan 55‑65%.
  • Pengaturan cahaya: Lampu LED simulasikan siklus siang‑malam, membantu produksi hormon melatonin yang berperan pada kesejahteraan sapi.
  • Manajemen pakan terintegrasi: Dispenser otomatis mengatur pakan sesuai kebutuhan nutrisi harian tiap ekor.

Data Produksi Susu Nasional vs Impor

KategoriVolume (juta ton)
Konsumsi susu nasional4,7
Produksi lokal1,0 (≈21%)
Impor susu dan sapi perah3,7 (≈79%)
Kontribusi Jawa Timur2,8 (≈60% produksi nasional)

Analisis Dampak Ekonomi dan Sosial

Implementasi Closed Barn di Purwodadi diharapkan menurunkan ketergantungan Indonesia pada impor sapi perah. Menurut data Badan Pusat Statistik 2025, populasi sapi perah Indonesia masih berada di bawah 5 juta ekor, jauh dari kebutuhan produksi susu nasional. Dengan meningkatkan produktivitas per ekor melalui teknologi mikroklimat, peternak dapat mencapai rata‑rata 25‑30 kg susu per hari, dibandingkan 15‑18 kg pada sistem terbuka tradisional.

Secara ekonomi, peningkatan produksi susu lokal dapat mengurangi defisit perdagangan susu sebesar US$1,2 miliar per tahun. Bagi petani kecil, akses ke teknologi ini dapat meningkatkan pendapatan tahunan hingga 40 % setelah memperhitungkan biaya operasional yang kini dapat dikelola melalui skema subsidi pemerintah dan program kemitraan dengan perusahaan multinasional seperti Nestlé.

Dari sisi sosial, program ini berpotensi menurunkan angka stunting di wilayah Pasuruan. Nestlé Indonesia telah mengintegrasikan program edukasi gizi berbasis susu bagi balita di sekolah dasar setempat, yang akan dipadukan dengan peningkatan pasokan susu segar lokal.

Sinergi Pemerintah, Swasta, dan Komunitas Peternak

Hanif Faisol Nurofiq menekankan pentingnya kolaborasi berkelanjutan antara pemerintah, perusahaan, dan peternak. Ia menyatakan:

“Saya ingin Pak Bupati dan Nestlé bekerja sama intens untuk menghasilkan sintesa rekayasa mikroklimat yang memungkinkan sapi perah dari daerah subtropis dapat beradaptasi di dataran rendah. Ini bukan sekadar proyek satu‑tahun, melainkan agenda jangka panjang untuk kedaulatan susu nasional.”

Berikut beberapa inisiatif yang direncanakan:

  • Pelatihan teknis bagi peternak KUD Dadi Jaya tentang pemeliharaan sistem Closed Barn.
  • Pengembangan pusat riset mikroklimat di Universitas Brawijaya, bekerjasama dengan tim R&D Nestlé.
  • Penyediaan kredit lunak melalui Bank Pembangunan Daerah untuk investasi kandang tertutup.
  • Program insentif pajak bagi perusahaan yang berkontribusi pada pengurangan impor sapi perah.

Prospek Jangka Panjang dan Tantangan

Jika model Closed Barn terbukti berhasil di Purwodadi, skala penerapannya dapat meluas ke wilayah lain seperti Kabupaten Malang, Kediri, dan bahkan provinsi luar Jawa. Namun, tantangan utama tetap pada:

  • Ketersediaan tenaga teknis yang menguasai sistem IoT pertanian.
  • Biaya investasi awal yang masih relatif tinggi bagi peternak skala kecil.
  • Adaptasi genetik sapi impor terhadap iklim tropis yang tetap memerlukan riset lanjutan.

Untuk mengatasi hambatan tersebut, pemerintah berencana mengintegrasikan program “Smart Farming” dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) 2026‑2030, dengan alokasi anggaran khusus sebesar Rp150 miliar.

Reaksi Masyarakat dan Peternak

Peternak lokal menyambut baik kehadiran Closed Barn. Salah satu peternak, Budi Santoso, mengungkapkan:

“Sebelumnya kami harus menurunkan produksi karena cuaca yang tidak menentu. Dengan kandang ini, susu kami tetap stabil dan harga jual naik.”

Bupati Rusdi Sutejo menegaskan komitmen Kabupaten Pasuruan untuk menjadi “sentra inovasi peternakan” di Jawa Timur, dengan target peningkatan produksi susu sebesar 30 % pada tahun 2028.

Secara keseluruhan, peresmian Closed Barn di Purwodadi bukan hanya simbol kemajuan teknologi pertanian, melainkan langkah strategis untuk mengurangi ketergantungan impor, meningkatkan kesejahteraan peternak, dan mendukung upaya gizi nasional.

Dengan dukungan pemerintah, swasta, dan komunitas peternak, Indonesia berada di jalur yang tepat untuk mewujudkan kemandirian susu yang berkelanjutan.

Artikel ini dipublikasikan oleh Plat Merah.

Tinggalkan Balasan

Tutup