Como 1907 Raih Liga Champions: Strategi Besar Djarum Mengubah Klub Bola Jadi Ekosistem Bisnis Global
Plat Merah – Strategi besar Djarum di Como 1907: Dari klub bola menuju ekosistem bisnis global [titlebase] menjadi sorotan utama setelah klub milik Hartono bersaudara menembus Liga Champions musim 2026/2027. Keberhasilan ini tidak lepas dari kebijakan jangka panjang yang dimulai sejak akuisisi pada 2019, ketika klub masih berkompetisi di Serie D. Presiden Mirwan Suwarso menegaskan bahwa transformasi bukan sekadar meningkatkan performa di lapangan, melainkan membangun jaringan bisnis yang terintegrasi dengan potensi wisata Danau Como.
Setelah pengambilalihan, langkah pertama Djarum adalah mengatasi masalah basis pendukung yang minim. Mirwan Suwarso mengungkapkan bahwa pada masa itu penggemar lokal lebih condong kepada klub-klub besar seperti Inter Milan dan AC Milan, sehingga pendapatan dari tiket dan merchandise hampir tidak ada. Untuk mengubah pola tersebut, grup menggelar program “Lake Como Experience” yang memadukan tiket pertandingan dengan paket wisata, mengubah stadion menjadi destinasi wisata sekaligus arena olahraga.
Strategi besar Djarum di Como 1907: Dari klub bola menuju ekosistem bisnis global [titlebase] juga melibatkan pendekatan data‑driven dalam proses rekrutmen pemain. Tim rekrutmen mengumpulkan statistik performa, analisis taktik, dan faktor psikologis sebelum menyaring kandidat. “Pertama‑tama harus ada tim rekrutmen yang mempelajari data, lalu data yang terfilter baru masuk ke tahap selanjutnya,” ujar Mirwan dalam wawancara di kanal YouTube Helmy Yahya Bicara. Pendekatan ini menghasilkan skuad yang seimbang, dipimpin oleh pelatih asal Spanyol, Cesc Fabregas, yang juga berperan dalam pengembangan fasilitas latihan modern.
Keberhasilan di Serie A tidak lepas dari kebijakan finansial yang hati‑hati. Tanpa mengandalkan gaji pemain tinggi, klub berfokus pada kontrak berbasis insentif dan pengembangan pemain muda melalui akademi lokal. Hasilnya, Como menutup musim 2025/2026 di peringkat keempat dengan 71 poin, selisih tipis dari AC Milan dan Juventus, dan mengamankan tiket ke Liga Champions.
Namun, tantangan baru muncul ketika UEFA menilai Stadion Giuseppe Sinigaglia belum memenuhi standar kompetisi Eropa. Masalah utama meliputi tribun sementara berbasis scaffolding, lebar lapangan yang kurang, serta jarak iklan yang tidak sesuai. Mirwan Suwarso optimis renovasi dapat selesai sebelum fase grup dimulai, dengan dukungan pemerintah kota dan rencana pembangunan struktur permanen pada musim panas.
Berikut adalah pilar utama strategi Djarum yang diterapkan di Como 1907:
- Pengembangan Ekosistem Wisata: Mengintegrasikan tiket pertandingan dengan paket wisata Danau Como untuk meningkatkan pendapatan non‑football.
- Rekrutmen Berbasis Data: Menggunakan analisis statistik dan psikologis untuk memilih pemain yang cocok dengan filosofi klub.
- Manajemen Keuangan Konservatif: Fokus pada kontrak insentif, pengembangan akademi, dan pengendalian gaji.
- Infrastruktur dan Kepatuhan UEFA: Renovasi stadion dan pencarian alternatif bila diperlukan.
- Branding Global: Memanfaatkan nama Djarum dan jaringan bisnis Indonesia untuk menarik sponsor internasional.
Keputusan untuk tidak mengadakan pramusim di Indonesia juga mencerminkan pertimbangan logistik dan efektivitas. Mirwan Suwarso menjelaskan bahwa jarak dan biaya perjalanan dapat mengganggu persiapan tim, sehingga klub lebih memilih latihan di Italia dengan fasilitas yang telah disiapkan.
Dengan semua upaya tersebut, Como 1907 tidak hanya menjadi kejutan di papan atas Serie A, tetapi juga contoh nyata bagaimana sebuah klub sepak bola dapat dijadikan platform bagi ekosistem bisnis global. Keberhasilan ini menegaskan visi Djarum untuk mengubah klub bola menjadi aset strategis yang mendukung pertumbuhan ekonomi regional dan memperkuat citra Indonesia di kancah internasional.
Ke depan, klub menargetkan konsistensi di Liga Champions, peningkatan kapasitas stadion, serta ekspansi kolaborasi bisnis di sektor pariwisata, teknologi, dan hiburan. Jika semua elemen berjalan sesuai rencana, Como 1907 dapat menjadi model klub multinasional yang menggabungkan prestasi olahraga dengan nilai ekonomi yang berkelanjutan.
Artikel ini dipublikasikan oleh Plat Merah.
Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.











