Cesc Fabregas Bangun Como dari Bawah: Tolak Tawaran Napoli Demi Proyek Liga Champions

Cesc Fabregas Bangun Como dari Bawah: Tolak Tawaran Napoli Demi Proyek Liga Champions

Plat Merah – Cesc Fabregas, pelatih sekaligus legenda sepak bola asal Spanyol, kembali menjadi sorotan setelah berhasil membawa Como 1907 menembus Liga Champions musim depan. Mantan gelandang Arsenal dan Barcelona ini memilih bertahan di klub Italia tersebut meskipun menerima tawaran dari tiga klub Serie A, termasuk Napoli. Keputusan Fabregas menunjukkan komitmennya terhadap proyek jangka panjang yang ia bangun di Como, klub yang kini juga dimiliki oleh pengusaha Indonesia, Mirwan Suwarso.

Dalam wawancara dengan La Stampa, Presiden Como, Mirwan Suwarso mengungkapkan bahwa Fabregas menolak tawaran Napoli dan dua klub Italia lainnya dalam beberapa bulan terakhir. “Beberapa klub sudah menanyakan soal dirinya, setidaknya tiga klub dalam beberapa bulan terakhir, namun ia menolaknya. Salah satunya adalah Napoli, seperti yang sudah diberitakan. Dua lainnya? Salah satunya klub Italia, tetapi saya tidak akan mengungkapkan lebih jauh,” ujar Suwarso.

Keputusan Cesc Fabregas untuk tetap di Como tidak lepas dari ambisinya membawa klub yang bermarkas di tepi Danau Como itu bersaing di level tertinggi Eropa. Fabregas, yang juga pemegang saham minoritas Como, telah menjadi arsitek utama kebangkitan klub tersebut. Di bursa transfer musim panas ini, ia aktif memperkuat skuad dengan merekrut pemain muda berbakat. Salah satu rekrutan terbaru adalah bek tengah asal Spanyol, Andrés Cuenca, yang didatangkan dari Barcelona dengan kontrak hingga 2030. “Andrés Cuenca adalah bek muda yang memiliki teknik, energi, dan kekuatan luar biasa. Ia adalah bek modern yang nyaman mengolah bola dan penuh percaya diri. Kami yakin dia dapat berkembang secara signifikan dalam proyek kami,” kata Fabregas dalam pernyataan resmi klub.

Selain Cuenca, Como juga dikaitkan dengan bek Chelsea, Trevoh Chalobah. Namun, negosiasi antara kedua klub masih berlangsung. Chelsea dilaporkan belum menerima tawaran Como karena banderol harga yang diminta cukup tinggi. Fabregas menginginkan Chalobah untuk menambah kedalaman lini pertahanan, namun ia tidak mau terburu-buru dan tetap mempertimbangkan anggaran klub.

Di luar urusan transfer, nama Cesc Fabregas juga mencuat karena komentarnya tentang taktik Thomas Tuchel di semifinal Piala Dunia 2026. Dalam wawancara dengan Sky Sports pada 2023, Fabregas sudah menyindir pendekatan Tuchel yang cenderung defensif saat unggul. “Ketika kamu menang 1-0, manajer kadang mengganti penyerang atau gelandang dengan bek, lalu tim kamu tiba-tiba main dengan lima bek. Saat seperti itu, mindset pemain di lapangan berubah jadi lebih bertahan,” kata Fabregas. Komentar itu kembali relevan setelah Inggris kalah 1-2 dari Argentina di semifinal Piala Dunia 2026, di mana Tuchel memasukkan banyak pemain bertahan setelah unggul lebih dulu.

Fabregas sendiri memiliki pengalaman berharga sebagai pemain yang pernah memenangkan Piala Dunia 2010 bersama Spanyol. Ia menjadi bagian dari generasi emas yang membangun fondasi sepak bola Spanyol hingga kini. Dalam analisisnya, Fabregas menekankan pentingnya konsistensi filosofi permainan, seperti yang diterapkan Spanyol di bawah Luis de la Fuente. “Jika saya bicara tentang Spanyol, saya tidak bicara tentang satu bintang. Tim adalah bintangnya. Ketika mereka bersinar, mereka bersinar secara kolektif,” ujar Zlatan Ibrahimović, yang dikutip dalam analisis tentang kesuksesan Spanyol saat ini.

Dengan tekad kuat dan visi jangka panjang, Cesc Fabregas terus membangun Como sebagai kekuatan baru di Italia. Meskipun harus menolak tawaran menggiurkan dari klub lain, ia yakin bahwa proyek yang ia rintis di Como akan membawa hasil manis, tidak hanya bagi dirinya tetapi juga bagi klub yang kini menjadi rumah barunya.

Artikel ini dipublikasikan oleh Plat Merah.

Tinggalkan Balasan

Tutup