Fans Ghana Kecam Masalah Visa Piala Dunia dan Harga Tiket: FIFA dan AS Telah Mengecewakan Afrika!
Plat Merah – Fans Ghana kecam masalah visa Piala Dunia dan harga tiket: FIFA dan AS telah mengecewakan Afrika! Pernyataan ini menggema di tengah euforia Piala Dunia 2026 yang resmi bergulir Jumat (12/6) pagi WIB. Turnamen terbesar sepanjang sejarah dengan 48 negara peserta ini justru diwarnai kontroversi mulai dari mahalnya harga tiket hingga penolakan visa terhadap ofisial asal Afrika. Kritik pedas datang dari legenda sepak bola Didier Drogba, yang menegaskan bahwa Amerika Serikat sebagai tuan rumah harus siap menerima warga asing jika ingin menggelar pesta sepak bola dunia.
Fans Ghana kecam masalah visa Piala Dunia dan harga tiket: FIFA dan AS telah mengecewakan Afrika. Sorotan utama tertuju pada kasus wasit asal Somalia, Omar Artan, yang ditolak masuk AS saat tiba di Bandara Internasional Miami. Padahal, Artan telah masuk dalam daftar resmi wasit FIFA untuk Piala Dunia 2026. FIFA memastikan sang pengadil tidak akan bertugas selama turnamen. Presiden FIFA Gianni Infantino menyayangkan insiden tersebut, namun menegaskan FIFA bukan otoritas global yang bisa mengatur kebijakan imigrasi negara mana pun.
Selain masalah visa, harga tiket Piala Dunia 2026 juga menuai protes. Tiket kategori premium dilaporkan mencapai lebih dari 30.000 dolar AS (sekitar 486 juta rupiah). Meski FIFA menyediakan tiket termurah 60 dolar AS, banyak fans Afrika merasa kesulitan karena harus menabung bertahun-tahun. Fans Ghana kecam masalah visa Piala Dunia dan harga tiket: FIFA dan AS telah mengecewakan Afrika! Mereka menilai kebijakan ini diskriminatif dan menghalangi semangat sepak bola yang seharusnya menyatukan.
Didier Drogba dalam pernyataannya menekankan bahwa sepak bola adalah milik dunia. Ia mencontohkan kasus Iran yang mengalami pengurangan kuota tiket secara mendadak. “Yang terdampak bukan politisi, tetapi para penggemar,” tegas Drogba. Ia juga menyoroti penolakan wasit Somalia yang dinilainya tidak adil karena ofisial dipilih berdasarkan kualitas, bukan asal negara.
Infantino membela penyelenggaraan turnamen dengan mengatakan rata-rata harga tiket di bawah 500 dolar AS, lebih rendah dibanding olahraga elite AS lainnya. Namun, kritik terus berdatangan. Federasi sepak bola Iran mengklaim kuota tiket mereka dipotong tanpa alasan jelas. Sementara itu, ofisial Irak, Aymen Hussein dan Talal Salah, ditahan berjam-jam di imigrasi. Kekacauan ini membuat fans Ghana dan Afrika lainnya merasa dikhianati oleh FIFA dan AS.
Kesimpulannya, Piala Dunia 2026 yang seharusnya menjadi ajang pemersatu justru memunculkan polarisasi akibat kebijakan visa dan harga tiket yang eksklusif. Kritik dari Didier Drogba mewakili kekecewaan Afrika, bahwa ketika sebuah negara menjadi tuan rumah, ia harus siap menerima seluruh dunia tanpa diskriminasi. FIFA dan AS harus segera mengevaluasi kebijakan mereka agar semangat sepak bola tetap terjaga.
Artikel ini dipublikasikan oleh Plat Merah.
Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.









