Cedera Takefusa Kubo Jadi Pemicu Kebangkitan: Jepang Pukul Tunisia 4-0, Kamada dan Ito Tampil Memukau

Cedera Takefusa Kubo Jadi Pemicu Kebangkitan: Jepang Pukul Tunisia 4-0, Kamada dan Ito Tampil Memukau

Plat Merah – Cedera lutut yang dialami bintang Jepang, Takefusa Kubo, sempat menimbulkan kekhawatiran bagi skuad Samurai Biru jelang bentrok hidup-mati melawan Tunisia di Grup F Piala Dunia 2026. Namun, absennya playmaker Real Sociedad itu justru membuka jalan bagi tampilnya pahlawan baru: Daichi Kamada dan Junya Ito yang sukses menjadi motor serangan dalam kemenangan telak 4-0 di Stadion Monterrey, Minggu (21/6). Laga yang disaksikan jutaan pasang mata ini menjadi bukti kedalaman skuad racikan Hajime Moriyasu yang mampu mengatasi badai cedera tanpa kehilangan taring.

Sebelumnya, Kubo harus ditarik keluar pada menit ke-75 saat Jepang bermain imbang 2-2 melawan Belanda. Diagnosis awal menunjukkan masalah pada ligamen lutut, memaksa sang gelandang kreatif untuk absen setidaknya pada laga krusial kontra Tunisia. Kehilangan Takefusa Kubo jelas pukulan telak, mengingat perannya sebagai distributor utama dan pencetak peluang di lini tengah. Meski demikian, Moriyasu tak gentar. “Sebagai tim, melihat pemain cedera tentu sangat disayangkan, namun kami membangun skuad ini dengan konsep siapa pun yang masuk bisa memenangkan pertandingan,” ujar Moriyasu usai laga.

Pelatih berusia 57 tahun itu langsung merombak pakem serangan. Daichi Kamada yang biasanya beroperasi sebagai gelandang bertahan dipromosikan ke posisi penyerang bayangan, sementara Junya Ito diberi keleluasaan menusuk dari sisi sayap. Keputusan itu terbukti jitu. Kamada menyelenggarakan permainan dengan visi dan kontrol bola yang impresif, sedangkan Ito berkali-kali merepotkan lini pertahanan Tunisia dengan akselerasi dan umpannya. “Kamada kami tempatkan di posisi shadow striker agar kekuatannya terpancar dan dia bisa mengendalikan serangan maupun pertahanan tim,” jelas Moriyasu memuji anak asuhnya.

Tidak hanya di lini depan, lini belakang Jepang juga diperkuat. Takehiro Tomiyasu kembali masuk starter di jantung pertahanan bersama Ko Itakura yang mendapat ban kapten, serta Hiroki Ito. Debut Piala Dunia 2026 juga ditorehkan Ao Tanaka yang menggantikan pos Kubo di lini tengah, berduet dengan Junya Ito. Keberanian Moriyasu merotasi skuad membuahkan hasil manis: soliditas pertahanan dan ketajaman serangan berpadu sempurna, membuat Tunisia tak berdaya. Gol-gol Jepang tercipta melalui skema kolektif yang rapi, menunjukkan bahwa tanpa Kubo sekalipun, mesin gol Samurai Biru tetap terkalibrasi dengan baik.

Di kubu lawan, Tunisia yang dilatih Hervé Renard mencoba bangkit dari kekalahan 1-5 atas Swedia dengan memasukkan Aymen Dahmen sebagai kiper anyar serta merotasi lini belakang. Namun, tekanan intens Jepang sejak menit awal langsung memporak-porandakan rencana mereka. Dukungan penuh dari bangku cadangan dan sorak sorai pendukung Jepang di Meksiko menambah energi para pemain. Kemenangan ini membawa Jepang nyaris memastikan satu kaki di babak gugur, sebuah pencapaian yang semakin mengesankan karena diraih tanpa kehadiran sejumlah pilar utama, termasuk Kaoru Mitoma dan Takumi Minamino yang sudah lebih dulu absen akibat cedera.

Hasil 4-0 ini juga menegaskan status Jepang sebagai kuda hitam Asia yang konsisten. Statistik mencatat, meski selalu kebobolan dalam tujuh laga fase grup Piala Dunia terakhir, Samurai Biru hanya kalah dua kali. Bahkan, dari empat pertandingan terakhir setelah kebobolan lebih dulu, mereka hanya sekali tumbang. Ketangguhan mental semacam inilah yang kini dipadukan dengan fleksibilitas taktik. Absennya Takefusa Kubo tak ubahnya ujian yang justru melahirkan solidaritas dan kreativitas baru. Moriyasu menekankan bahwa Ko Itakura dan Takehiro Tomiyasu adalah pemain berkelas dunia yang bisa diandalkan di situasi genting.

Dengan hasil ini, Jepang berada di posisi yang nyaman untuk melaju ke fase selanjutnya. Adapun Tunisia harus mengemas koper lebih awal, meski sempat memberi perlawanan di babak pertama. Pertandingan ini menjadi bukti bahwa dalam sepak bola modern, cedera bintang bukanlah akhir segalanya. Ketika satu bintang terbenam, bintang lain siap bersinar lebih terang – dan malam di Monterrey menjadi panggung sempurna bagi Kamada, Ito, dan seluruh skuad Jepang yang pantang menyerah.

Artikel ini dipublikasikan oleh Plat Merah.

Tinggalkan Balasan

Tutup