Morgan Rogers Jadi Biang Kerok? Carragher Minta Tuchel Ubah Posisi Bellingham Demi Kane
Plat Merah – Penampilan Timnas Inggris di Piala Dunia 2026 memang belum sepenuhnya meyakinkan. Meski berhasil lolos ke babak 32 besar sebagai juara grup, kritik tajam datang dari berbagai pihak, termasuk legenda Liverpool, Jamie Carragher. Sorotan utama Carragher tertuju pada peran Morgan Rogers yang dinilai menghambat produktivitas Harry Kane.
Dalam pertandingan terakhir fase grup melawan Panama, Inggris menang 2-0 berkat gol Jude Bellingham dan Harry Kane. Namun, Carragher menilai kemenangan itu menutupi masalah taktis yang serius. Kehadiran Morgan Rogers sebagai gelandang serang nomor 10 membuat Bellingham harus turun lebih dalam ke lini tengah. Akibatnya, Harry Kane yang biasa turun ke belakang untuk mencari bola justru kehilangan ruang gerak. Catatan statistik menunjukkan Kane hanya punya satu sentuhan di kotak penalti pada babak pertama dan total sepuluh sentuhan di luar kotak penalti. Angka ini sangat rendah untuk seorang striker sekelas Kane.
Carragher dalam kolomnya di The Telegraph menulis, ‘Kane hanya punya satu sentuhan di kotak penalti di babak pertama melawan Panama. Yang lebih mengkhawatirkan adalah betapa sedikit sentuhannya di luar area – hanya sepuluh. Melawan Ghana, ia hanya menyentuh bola 20 kali. Ini membatasi dampak seorang striker multidimensi yang merupakan senjata paling mematikan kita.’
Masalahnya, Morgan Rogers dan Jude Bellingham cenderung beroperasi di zona yang sama dengan Kane. Bahkan, Nico O’Reilly juga sering berada di area tersebut. Carragher menyarankan agar Declan Rice yang akan kembali dari cedera ditempatkan lebih dalam sebagai double pivot bersama Elliot Anderson. Dengan begitu, Kane dan gelandang serang nomor 10 bisa memiliki ruang yang lebih lapang.
Namun, di sisi lain, Morgan Rogers juga mendapat pujian karena kemampuannya membuka ruang. Pelatih Thomas Tuchel memercayainya untuk menjadi kreator utama saat Bellingham turun ke lini tengah. Meski demikian, Carragher menilai kombinasi Morgan Rogers dan Bellingham terlalu tumpang tindih dan justru merugikan Kane.
Jude Bellingham sendiri tetap menjadi bintang utama Inggris. Ia dianggap sebagai pemain elite yang mampu mengubah jalannya pertandingan, seperti Kylian Mbappe bagi Prancis atau Lionel Messi bagi Argentina. Dalam laga melawan Panama, Bellingham mencetak gol dari sepak pojok Bukayo Saka dan memberi assist untuk gol Kane. Namun, Carragher khawatir jika beban Bellingham terlalu besar, performa Kane akan terus tertekan.
Tuchel kini dihadapkan pada dilema. Di satu sisi, ia ingin memaksimalkan potensi Morgan Rogers yang mulai menunjukkan kualitasnya. Di sisi lain, ia harus memastikan Harry Kane sebagai kapten dan pencetak gol utama tetap tajam. Pertandingan melawan DR Congo pada babak 32 besar akan menjadi ujian sesungguhnya. Carragher mendesak agar Tuchel segera melakukan perubahan taktis, terutama dengan mengembalikan Rice ke posisi gelandang bertahan.
Di luar lapangan, Morgan Rogers juga menjadi sorotan karena rumor transfernya ke Arsenal. Klub asal London Utara itu dikabarkan sangat tertarik mendatangkannya, namun Aston Villa mematok harga lebih dari £100 juta. Mantan pemain Arsenal, Emmanuel Petit, menyarankan agar Arsenal beralih ke Nico Williams yang lebih murah. Namun, keputusan akhir tetap ada di tangan Tuchel dalam memanfaatkan Morgan Rogers di sisa turnamen.
Kesimpulannya, kehadiran Morgan Rogers di starting XI Inggris memberikan dampak positif dan negatif. Di satu sisi, ia menambah kreativitas, namun di sisi lain ia membatasi pergerakan Kane. Tuchel harus cerdas dalam mengatur formasi agar semua pemain bintang bisa tampil optimal. Jika tidak, Inggris bisa kesulitan melawan lawan-lawan tangguh di fase knockout.
Artikel ini dipublikasikan oleh Plat Merah.
Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.









