Jude Bellingham Menggila, Stasiun London Berganti Nama dan Inggris Melaju ke Perempat Final Piala Dunia 2026
Plat Merah – Jude Bellingham menjadi pusat perhatian dunia setelah penampilan gemilangnya membawa Inggris mengalahkan Meksiko 3-2 di babak 16 besar Piala Dunia 2026. Gelandang Real Madrid itu mencetak dua gol dalam waktu dua menit pada babak pertama di Stadion Azteca, memastikan tempat Inggris di perempat final. Aksi heroiknya tidak hanya mengguncang lapangan hijau, tetapi juga menginspirasi Thameslink untuk mengganti nama Stasiun Bellingham di London tenggara menjadi ‘Jude Bellingham Station’ sebagai penghormatan.
Stasiun yang biasanya melayani jalur Sevenoaks ini secara resmi berganti nama pada 5 Juli, awalnya hanya untuk sehari. Namun, setelah Bellingham mencetak dua gol dan menjadi pemain terbaik pertandingan, Thameslink memutuskan untuk memperpanjang pemasangan nama itu hingga akhir pekan. ‘Dengan anugerah Stasiun Bellingham di jaringan kami, kami tidak bisa menahan diri untuk ikut merayakan Piala Dunia,’ kata juru bicara Thameslink. ‘Kami meluncurkan Jude Bellingham Station sebelum pertandingan melawan Meksiko sebagai cara mendukung tim – tidak kami duga bahwa Jude akan mencetak dua dari tiga gol.’
Pertandingan yang berlangsung pada pukul 02.00 BST itu disaksikan oleh rata-rata 7,8 juta pemirsa di BBC TV dan BBC iPlayer, dengan puncak 9,1 juta, menjadikannya siaran langsung dengan audiens terbesar antara pukul 02.00 dan 04.00 dalam sejarah Inggris. BBC Sport juga mencatat 15 juta pengunjung unik di situs dan aplikasi, serta 330 juta tayangan video di media sosial. Setelah pertandingan, Bellingham yang emosional berkata kepada para penggemar: ‘Teks bos kalian, bilang kalian tidak masuk kerja, sesederhana itu.’
Namun, euforia ini diiringi kekhawatiran akan ancaman skorsing menjelang laga perempat final melawan Norwegia pada 11 Juli di Miami. Jude Bellingham bersama Declan Rice, Marc Guehi, dan Nico O’Reilly masing-masing hanya berjarak satu kartu kuning dari skorsing di semifinal. Bellingham dan Rice telah menerima kartu kuning di babak sebelumnya, dan jika terkena kartu kuning lagi saat melawan Norwegia, mereka harus absen jika Inggris lolos. Situasi diperparah dengan cedera Jordan Henderson yang mengalami patah pergelangan tangan saat selebrasi kemenangan, serta kartu merah Jarell Quansah yang membuatnya harus absen.
Manajer Thomas Tuchel secara terbuka mengkritik inkonsistensi keputusan wasit, terutama kartu kuning Rice di menit pertama. ‘Kami hanya ingin konsistensi. Apakah kami bisa mendapatkan kartu kuning itu kembali?’ ujarnya. Tuchel menuntut keadilan setelah melihat pemain AS, Folarin Balogun, dibebaskan dari sanksi karena intervensi administratif.
Di sisi lain, kemitraan Jude Bellingham dan Harry Kane menjadi kunci kesuksesan Inggris. Sepuluh dari sebelas gol Inggris di Piala Dunia ini lahir dari keduanya. Setelah Bellingham membuka skor, ia dan Kane menjadi yang terakhir meninggalkan selebrasi, berdiri berdampingan dengan tangan terentang menikmati sorak sorai pendukung. Kane kemudian mencetak gol penalti penentu kemenangan setelah Inggris bermain dengan 10 pemain. ‘Kane dan Bellingham adalah dwi-bintang yang menjadi tembok pertahanan Inggris,’ tulis BBC.
Dengan semangat tinggi dan dukungan publik yang luar biasa – termasuk Stasiun Jude Bellingham yang akan bertahan hingga Senin – Inggris optimistis menghadapi Norwegia. Namun, ancaman skorsing memaksa Tuchel untuk berhati-hati. Jika Inggris berhasil melewati Norwegia, mereka akan melangkah ke semifinal, dan nama Jude Bellingham akan terus dikenang, baik di papan skor maupun di papan stasiun.
Artikel ini dipublikasikan oleh Plat Merah.
Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.












