Swiss Cetak Sejarah, Tantang Argentina di Perempat Final Piala Dunia 2026
Plat Merah – Tim nasional Swiss berhasil menembus babak perempat final Piala Dunia 2026 setelah mengalahkan Kolombia melalui adu penalti 4-3 di BC Place, Vancouver, Selasa (7/7). Kemenangan ini menjadi pencapaian bersejarah bagi Swiss, yang untuk pertama kalinya sejak 1954 melaju ke delapan besar turnamen sepak bola terbesar di dunia.
Pertandingan berlangsung ketat selama 120 menit tanpa gol, dengan Kolombia mendominasi penguasaan bola dan menciptakan banyak peluang. Namun, penyelesaian akhir yang buruk menjadi momok bagi Los Cafeteros. Sepanjang turnamen, Kolombia hanya mampu mencetak lima gol dari 94 tembakan, dan kegagalan memanfaatkan peluang emas di babak perpanjangan waktu—termasuk tendangan Jaminton Campaz yang meleset—menjadi penentu kekalahan mereka.
Di sisi lain, Swiss menunjukkan ketangguhan mental luar biasa. Kapten Granit Xhaka mengambil inisiatif menjadi penendang pertama dalam adu penalti, meskipun sebenarnya ia dijadwalkan sebagai penendang ketiga. “Saya memberi tahu pelatih bahwa saya ingin menjadi yang pertama dan bertanggung jawab, seperti yang seharusnya dilakukan seorang kapten,” ujar Xhaka. Langkah berani itu membuahkan hasil, meskipun bek Manuel Akanji gagal mengeksekusi penaltinya. Namun, rekan-rekannya tampil tenang dan sukses mengonversi empat dari lima tendangan.
Bagi Swiss, kemenangan ini semakin istimewa karena mereka harus tampil tanpa bintang muda Johan Manzambi yang cedera lutut. Namun, semangat juang yang tinggi membuat Swiss mampu melewati rintangan demi rintangan. “Kami telah membuat sejarah – ini perasaan yang luar biasa. Rasa lega membuat kami sangat bangga,” kata Xhaka.
Kini, Swiss akan menghadapi tantangan terbesar: juara bertahan Argentina di perempat final. Laga yang dijadwalkan pada 12 Juli di Kansas City itu menjadi mimpi buruk sekaligus mimpi indah bagi para pemain Swiss. Gelandang Zeki Amdouni bahkan bercanda di media sosial bahwa ia bisa “pensiun” setelah mendapat kesempatan bermain melawan Lionel Messi. “Saya akan bermain melawan Messi. Ya, itu saja, saya bisa pensiun dari sepak bola,” tulisnya di Snapchat.
Namun, bek Manuel Akanji menegaskan bahwa Swiss tidak gentar. “Bermain melawan juara bertahan Argentina, saya pikir tidak ada tantangan yang lebih besar. Setiap babak berikutnya semakin sulit, tetapi saya pikir kami siap menghadapi tantangan itu,” ujar pemain Inter Milan tersebut.
Argentina sendiri lolos ke perempat final setelah menaklukkan Mesir 3-2 dalam laga dramatis. Tiga gol dalam 13 menit terakhir, termasuk dari Lionel Messi, membalikkan keadaan setelah sempat tertinggal 0-2. Pertemuan Swiss vs Argentina diprediksi akan menjadi laga sengit, mengingat Swiss memiliki pertahanan solid yang hanya kebobolan satu gol sepanjang turnamen, sementara Argentina mengandalkan ketajaman lini depan.
Bagi Swiss, ini adalah kesempatan emas untuk menulis ulang sejarah. Dengan semangat juang dan mentalitas pantang menyerah, mereka bertekad memberikan kejutan di panggung dunia. “Mudah-mudahan akan ada lagi; ini adalah generasi yang istimewa. Kami para pemain berpengalaman didorong oleh para pemain muda dan harus menjadi panutan dan meneruskan mentalitas bahwa bahkan sebagai negara kecil, banyak hal yang mungkin terjadi,” tutup Xhaka.
Artikel ini dipublikasikan oleh Plat Merah.
Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.












