Polusi Udara Jadi Sorotan Saat Laga AC Milan vs Chelsea, Pramono Siapkan Hujan Buatan
PlatMerah.com, Jakarta – Polusi udara di Jakarta menjadi perhatian saat pertandingan pramusim Indonesia Super Cup 2026 antara AC Milan dan Chelsea di Stadion Utama Gelora Bung Karno (GBK). Langit Jakarta yang tampak keabu-abuan selama pertandingan menimbulkan kekhawatiran terkait kualitas udara.
Polusi Udara dan Kondisi Kemarau Panjang
Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, menjelaskan bahwa kondisi polusi ini sebagian besar disebabkan oleh kemarau panjang yang membuat wilayah Jakarta dan sekitarnya tidak diguyur hujan dalam waktu lama. Hal ini berkontribusi pada menumpuknya polusi udara di kota.
“Walaupun kemarin ketika Chelsea lawan AC Milan salah satu keluhan adalah masalah polusi karena terlalu lama tidak pernah hujan,” ujar Pramono usai menghadiri Jakarta Asset Forum Expo (JAFEX) 2026 di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan.
Persiapan Hujan Buatan oleh Pemerintah
Untuk mengatasi kondisi polusi tersebut, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta tengah menyiapkan opsi hujan buatan. Namun, pelaksanaan hujan buatan ini masih menunggu kondisi awan yang memungkinkan.
“Kami sedang menyiapkan hujan buatan, mudah-mudahan awannya ada, begitu awannya ada kami segera membuat hujan buatan untuk Jakarta dan sekitarnya,” jelas Pramono.
Upaya Mengurangi Polusi dari Transportasi
Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), juga menyoroti persoalan polusi udara di Jakarta. Dalam forum St. Petersburg International Economic Forum (SPIEF) 2026 yang berlangsung di Rusia, AHY menyatakan perlunya solusi mengurangi polusi yang bersumber dari aktivitas transportasi.
AHY menekankan pentingnya mendorong masyarakat beralih dari kendaraan pribadi ke transportasi publik sebagai upaya strategis mengurangi emisi karbon menuju target net zero emission 2060. Kementerian Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan tengah menyusun roadmap dekarbonisasi sektor transportasi sebagai langkah konkret.
“Penggunaan transportasi publik seperti Transjakarta, MRT Jakarta, dan LRT Jakarta dapat mengurangi jumlah kendaraan pribadi di jalan sehingga berdampak pada penurunan emisi dan polusi udara,” kata AHY.
Pengalaman Pribadi dan Implikasi Kualitas Udara
AHY, yang juga seorang pelari seperti Gubernur Pramono, merasakan langsung dampak buruk polusi terhadap kesehatan pernapasan dan kenyamanan beraktivitas. Hal ini menunjukkan pentingnya kualitas udara yang baik bagi aktivitas sehari-hari masyarakat.
Peningkatan Konektivitas Transportasi Publik
Peningkatan kualitas dan konektivitas transportasi publik menjadi kunci agar warga Jakarta tidak bergantung pada kendaraan pribadi, sekaligus menciptakan mobilitas yang lebih nyaman dan sehat.
Artikel ini dipublikasikan oleh Plat Merah.
Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.













