Kontroversi Pemain Real Madrid Tutupi Pesan Dukungan untuk Ceuta dalam Laga Kontra Elche
PlatMerah.com, Elche – Dalam laga LaLiga antara Elche dan Real Madrid yang berlangsung di Estadio Manuel Martínez Valero, terjadi kontroversi terkait sikap beberapa pemain Real Madrid terhadap pesan solidaritas untuk Ceuta, wilayah otonom Spanyol di Afrika Utara yang tengah mengalami krisis migrasi.
Sebelum pertandingan, seluruh pemain dari kedua tim mengenakan kaos putih bertuliskan slogan “Todos somos caballas” yang berarti “Kami semua adalah warga Ceuta” sebagai bentuk dukungan kepada masyarakat Ceuta. Namun, tiga pemain Real Madrid, yaitu Kylian Mbappé, Vinicius Junior, dan Ibrahima Konaté, memilih untuk menggulung kaos tersebut sehingga pesan dukungan menjadi tidak terlihat. Mbappé dan Vinicius bahkan melepas kaos tersebut sebelum melakukan jabat tangan pra-pertandingan, sementara Konaté tetap mengenakannya lebih lama.
Sikap ketiga pemain tersebut memicu perdebatan di media sosial dan kalangan suporter, yang mempertanyakan alasan di balik tindakan mereka yang dianggap meredam pesan solidaritas penting tersebut. Hingga saat ini, baik para pemain maupun Real Madrid belum memberikan penjelasan resmi mengenai hal ini.
Konteks Krisis Migrasi Ceuta
Pesan dukungan tersebut muncul sebagai respons terhadap krisis migrasi besar yang melanda Ceuta, di mana pada akhir Juli 2026, sekitar 72.000 migran menyeberang secara ilegal dari Maroko ke Ceuta dalam waktu singkat. Meskipun sebagian besar migran kembali ke Maroko, diperkirakan masih ada sekitar 8.000 orang yang tinggal di kamp-kamp darurat dan di jalanan kota tersebut, menimbulkan ketegangan sosial dan politik.
Rekor Buruk Elche di Kandang
Dalam pertandingan yang sama, Elche mengalami kekalahan tipis 2-3 dari Real Madrid dan mencatatkan rekor buruk sebagai tim dengan awal terburuk dalam sejarah mereka di kandang sendiri dalam kompetisi LaLiga. Elche telah kalah dalam tiga pertandingan kandang pertama musim ini, sebuah prestasi yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam 26 musim mereka di kasta tertinggi sepak bola Spanyol.
Kekalahan ini menambah tekanan bagi pelatih Martín Anselmi dan para pemain Elche, yang sebelumnya juga kalah dari Barcelona dan Real Sociedad di kandang. Meskipun demikian, Elche menunjukkan semangat juang dengan membalas dua gol, termasuk gol dari pemain Elche Osorio yang sempat memicu kontroversi karena diduga melakukan pelanggaran keras yang tidak disanksi oleh wasit dan VAR.
Respons Real Madrid dan Kontroversi dengan Barcelona
Menanggapi kontroversi kaos solidaritas Ceuta, Real Madrid mencoba membela tindakan para pemainnya dengan mengungkit bahwa Barcelona sebelumnya menolak untuk ikut serta dalam inisiatif serupa dalam pertandingan mereka melawan Levante. Hal ini memicu ketegangan baru antara kedua klub besar Spanyol, dengan media Catalan menganggap Real Madrid menggunakan kasus tersebut untuk mengalihkan kritik.
Perbedaan utama adalah Barcelona mengambil keputusan secara institusional untuk tidak berpartisipasi, sedangkan di Real Madrid, tindakan menggulung kaos dilakukan oleh individu pemain.
Kontroversi ini menambah dinamika politik dan sosial yang sudah kompleks terkait situasi Ceuta, serta menjadi sorotan dalam dunia sepak bola Spanyol di tengah persaingan ketat LaLiga musim ini.
Dengan berbagai isu yang menyelimuti pertandingan Elche vs Real Madrid, termasuk performa buruk Elche di kandang dan perseteruan antara dua klub besar terkait isu sosial, laga ini menjadi salah satu momen penting yang mencerminkan hubungan antara olahraga, politik, dan masyarakat.
Artikel ini dipublikasikan oleh Plat Merah.
Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.












