Badan Pariwisata Dibentuk, Mangrove Sedati Jadi Andalan Wisata Sidoarjo

Badan Pariwisata Dibentuk, Mangrove Sedati Jadi Andalan Wisata Sidoarjo

Plat Merah – Pemerintah Kabupaten Sidoarjo mengambil langkah strategis dengan membentuk Badan Promosi Pariwisata Daerah (BPPD) periode 2026-2029. Langkah ini menjadi jawaban atas dinamika persaingan pariwisata di Jawa Timur, di mana daerah seperti Malang dan Banyuwangi terus memperkuat citra destinasi alamnya. Fokus utama pengembangan BPPD adalah mengoptimalkan potensi kawasan mangrove di Sedati, yang diharapkan menjadi ikon ekowisata pesisir Jawa Timur.

Strategi Penguatan Pariwisata Berbasis Kolaborasi

Kepala Dinas Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata (Disporapar) Sidoarjo Yudhi Irianto menjelaskan bahwa pembentukan BPPD bukan sekadar formalitas regulasi, melainkan upaya memperluas jaringan promosi melalui sinergi antar stakeholder. “Kami perlu membangun ekosistem pariwisata yang melibatkan komunitas, UMKM, pelaku seni, hingga pelaku usaha ekonomi kreatif,” ujarnya.

Peran PemerintahPeran BPPD
Infrastruktur dasarKonten kreatif dan branding
Regulasi lingkunganKampanye digital dan event
Kerjasama investorPelatihan pelaku wisata

Ekowisata Mangrove: Potensi yang Belum Tereksplorasi

Kawasan Curah Asmoro di Desa Tambak Cemandi, Sedati, menjadi titik fokus. Dengan luas 450 hektar hutan mangrove, kawasan ini menawarkan aktivitas unik seperti wisata susur sungai yang melintasi 9 jembatan kayu. Fenomena alam yang jarang ditemukan di daerah lain adalah munculnya ubur-ubur dan hiu tutul (Triaenodus obesus) pada periode Januari-Juni, yang menarik minat para peneliti dan fotografer.

  1. Konservasi Biota Laut: 12 spesies ikan endemik tercatat di kawasan ini
  2. Komunitas Lokal: 8 desa sekitar terlibat dalam pengelolaan ekowisata
  3. Kapasitas Pengunjung: 200-300 pengunjung/hari (rata-rata)

Tantangan dan Peluang Ekonomi Pesisir

Pengembangan wisata mangrove tidak hanya berdampak ekologis, tetapi juga ekonomi. Data 2025 menunjukkan kontribusi pariwisata mangrove mencapai 8% dari total PAD Sidoarjo. Proyeksi 2027 memperkirakan peningkatan 200% jika strategi pelatihan UMKM pariwisata diterapkan secara maksimal.

Metric20252027 (Estimasi)
Kunjungan Wisata120.000300.000
Pendapatan UMKM5,2 Miliar12,8 Miliar
Lapangan Kerja8001.500

Tantangan Regulasi dan Infrastruktur

Salah satu hambatan nyata adalah keterbatasan akses transportasi ke kawasan. Saat ini, 70% pengunjung menggunakan kendaraan pribadi karena transportasi umum belum tersedia. Selain itu, isu keamanan lingkungan dan keseimbangan antara wisata dengan konservasi mangrove menjadi perhatian serius.

Persaingan di Era Pariwisata 4.0

Dalam konteks global, Sidoarjo harus bersaing dengan destinasi serupa seperti Pulau Derawan Kalimantan Timur atau Pulau Derawan Kalimantan Timur. Namun, keunikan fenomena alam hutan mangrove dan potensi edukasi lingkungan menjadi nilai jual tinggi. BPPD berencana mengadopsi teknologi augmented reality untuk pengalaman wisata interaktif, terutama untuk generasi milenial.

Dengan perencanaan yang matang dan kolaborasi yang efektif, Sidoarjo berpeluang menjadi destinasi pariwisata berkelanjutan yang bisa menyaingi kota-kota besar di Jawa Timur. Kunci keberhasilan terletak pada konsistensi pelaksanaan, partisipasi masyarakat, dan inovasi dalam pemasaran digital.

Artikel ini dipublikasikan oleh Plat Merah.

Tinggalkan Balasan

Tutup