Jejak Sekolah Tiga Bahasa Rukun Harapan Jember di tengah Keberagaman: Menyemai Toleransi Melalui Pendidikan Multibahasa

Jejak Sekolah Tiga Bahasa Rukun Harapan Jember di tengah Keberagaman: Menyemai Toleransi Melalui Pendidikan Multibahasa

Pendahuluan: Sekolah yang Merangkai Perbedaan

Plat Merah – Di tengah hiruk-pikuk kota Jember, berdiri sebuah institusi pendidikan yang tak hanya mengajarkan tiga bahasa, tetapi juga merawat semangat kebinekaan. Sekolah Tiga Bahasa Rukun Harapan (RH) Jember, yang berlokasi di Jalan R.A. Kartini, telah menjadi simbol kerukunan antarumat beragama dan etnis. Dengan peserta didik dan tenaga pendidik dari beragam latar belakang suku, budaya, dan agama, sekolah ini membuktikan bahwa perbedaan bukanlah penghalang, melainkan kekayaan. Di bawah naungan Yayasan Rukun Harapan yang dipimpin oleh Susanti Tanoyo, RH terus mengembangkan kurikulum yang mengintegrasikan Bahasa Indonesia, Mandarin, dan Inggris, sekaligus menanamkan nilai-nilai toleransi dan saling menghormati.

Sejarah Berdiri: Dari Keprihatinan Seorang Pengusaha

Jejak berdirinya Sekolah Tiga Bahasa Rukun Harapan tidak lepas dari sosok pendirinya, Anwar Sausan atau Chen Wanxin. Seorang pengusaha sukses yang merintis usaha perdagangan di Pasar Maron, Probolinggo, pada era 1950-an. Setelah perubahan politik nasional tahun 1965, Anwar menetap di Jember dan mengembangkan bisnis sarang burung walet yang mengantarkannya menjadi salah satu pengusaha terkemuka. Namun, kesuksesan bisnisnya tidak membuatnya lupa pada dunia pendidikan. Keprihatinan mendalam terhadap minimnya pendidikan bahasa Mandarin—yang sempat mengalami pembatasan selama lebih dari tiga dekade pada masa Orde Baru—mendorongnya untuk mendirikan Sekolah Tiga Bahasa Rukun Harapan pada tahun 2007.

Perjalanan Awal: Tantangan dan Inovasi

Perjalanan RH tidak selalu mulus. Tantangan utama pada masa awal berdiri adalah keterbatasan tenaga pengajar bahasa Mandarin. Untuk mengatasi hal ini, Anwar Sausan mengambil langkah inovatif dengan membiayai santri dari pesantren untuk melanjutkan pendidikan ke Tiongkok. Setelah menyelesaikan studi, mereka kembali ke Jember dan mengajar di RH. Langkah ini tidak hanya mengatasi kekurangan guru, tetapi juga menciptakan jembatan antara pendidikan pesantren dan pendidikan multibahasa. Filosofi Anwar bahwa pendidikan adalah investasi peradaban, bukan sekadar investasi ekonomi, terus menjadi landasan pengembangan RH hingga kini.

Perkembangan Terkini: Kunjungan Konsulat Jenderal RRT

Pada awal Juni 2026, Sekolah Tiga Bahasa Rukun Harapan menerima kunjungan dari Konsulat Jenderal Republik Rakyat Tiongkok (RRT) di Surabaya, Ye Su. Kunjungan ini merupakan bagian dari rangkaian diplomatik ke sejumlah institusi di Jember. Rudy Santoso Tanoyo, perwakilan yayasan, menjelaskan bahwa RH telah menjalin hubungan baik dengan Konjen RRT Surabaya. Kesempatan ini digunakan Konsul Jenderal untuk melihat secara langsung perkembangan sekolah. Selain RH, rombongan juga mengunjungi Masjid Cheng Ho dan sejumlah organisasi Tionghoa di Jember. Dalam kunjungan tersebut, Konsul Jenderal berkeliling sekolah dan berdiskusi mengenai perkembangan pendidikan bahasa Mandarin.

Dukungan Konjen RRT: Fasilitasi Guru Penutur Asli

Salah satu bentuk dukungan konkret dari Konjen RRT adalah fasilitasi kehadiran guru penutur asli (native speaker) dari Tiongkok yang didukung pemerintah setempat. Hal ini sangat penting untuk meningkatkan kualitas pengajaran bahasa Mandarin di RH. Meskipun kunjungan berlangsung singkat karena padatnya agenda, momen ini menjadi bukti bahwa RH terus berkembang sebagai jembatan pendidikan, budaya, dan kerukunan.

Dampak dan Implikasi bagi Masyarakat

Keberadaan Sekolah Tiga Bahasa Rukun Harham memiliki dampak yang luas, tidak hanya bagi peserta didik, tetapi juga bagi masyarakat Jember secara umum. Berikut adalah beberapa dampak positif yang dirasakan:

AspekDampak
PendidikanMenyediakan akses pendidikan multibahasa berkualitas, meningkatkan kemampuan berbahasa asing siswa.
SosialMenanamkan toleransi dan saling menghormati sejak dini, mengurangi potensi konflik antarkelompok.
BudayaMenjadi jembatan budaya antara Indonesia dan Tiongkok, memperkaya wawasan global siswa.
EkonomiMenyiapkan lulusan yang kompeten di pasar kerja global, terutama dalam hubungan bilateral Indonesia-Tiongkok.

Kronologi Peristiwa Penting

  • 2007: Pendirian Sekolah Tiga Bahasa Rukun Harapan oleh Anwar Sausan (Chen Wanxin).
  • 1950-an: Anwar merintis usaha di Pasar Maron, Probolinggo.
  • 1965: Anwar menetap di Jember setelah perubahan politik nasional.
  • Awal 2000-an: Keprihatinan terhadap minimnya pendidikan bahasa Mandarin memicu pendirian sekolah.
  • Juni 2026: Kunjungan Konsul Jenderal RRT Surabaya, Ye Su, ke RH.

Penutup: Merawat Kebhinnekaan Melalui Pendidikan

Sekolah Tiga Bahasa Rukun Harapan Jember bukan sekadar lembaga pendidikan, melainkan laboratorium kerukunan yang hidup. Di dalamnya, anak-anak dari berbagai latar belakang belajar bersama, bermain bersama, dan tumbuh bersama dalam semangat saling menghargai. Kunjungan diplomatik dari Konjen RRT baru-baru ini menegaskan bahwa RH telah diakui sebagai model pendidikan multibahasa yang sukses. Namun, tantangan tetap ada: bagaimana mempertahankan kualitas pengajaran, memperluas akses, dan terus menanamkan nilai-nilai toleransi di tengah arus globalisasi. Dengan dukungan yayasan, pemerintah, dan masyarakat, RH optimis dapat terus menjadi pelita yang menerangi jalan menuju Indonesia yang lebih harmonis. Seperti kata pendirinya, pendidikan adalah investasi peradaban—dan RH adalah bukti nyata bahwa investasi itu membuahkan hasil yang melampaui angka dan statistik.

Artikel ini dipublikasikan oleh Plat Merah.

Tinggalkan Balasan

Tutup